Belajar agar Tak Jadi Laskar

Foto: Tirto.id

Beberapa waktu terakhir, masyarakat Indonesia sering dibuat galau oleh ulah salah satu ormas. Keberadaannya bukannya membawa perdamaian malah menyusahkan pemerintah dan meresahkan masyarakat dengan aksi-aksinya yang seringkali radikal dan tak jarang melakukan kekerasan. Aksi tersebut dilakukan atas nama kebenaran agama, alih-alih membela agama dengan mengembalikan perilaku pemeluk agama yang menyimpang kepada hal yang seharusnya, ormas berinisial FPI tersebut justru malah menambah-nambahi kegelisahan dan ketakutan pada masyarakat. Para elit organisasinya acapkali menunjukkan perilaku yang tak pantas, seperti meneriakkan provokasi dan ujaran kebencian serta menggunakan kata-kata kasar dalam dakwahnya. Parahnya lagi, umatnya pun ikut-ikutan membela junjungannya tersebut layaknya dia adalah sumber kebenaran tunggal.

Merebaknya organisasi-organisasi yang menggunakan kekerasan-kekerasan dalam aksinya dengan mengatasnamakan Islam seperti al-Qaeda, Jamaah Islamiyah, ISIS, dan organisasi lain yang memiliki kesamaan ideologi, sungguh telah menjadi ancaman yang nyata bagi kedamaian dunia. Mereka identik dengan jargon jihad fisabilillah, mati syahid, khilafah, dan sebagainya. Doktrin-doktrin tersebut masif diteriakkan guna merekrut anggota ataupun menggalang simpati untuk mendukung gerakannya.  Kita tentu tidak mau negara Indonesia porak-poranda karena kehadiran ormas radikal seperti FPI. Revolusi Akhlak yang dikomandoi oleh HRS tampaknya menjadi bumerang untuk organisasi tersebut, terlebih untuk HRS sendiri. Entah HRS mewakili siapa ataupun apa, namun seringkali tingkah lakunya sangat tidak mencerminkan sebagai seorang pemimpin, apalagi imam besar.

Jika kita mencoba adil dalam berpikir, apakah bisa dibenarkan seorang yang dianggap sumber kebenaran oleh pengikutnya, menyebarkan provokasi-provokasi mengerikan seperti menentang terhadap pemerintah yang sah ataupun teriakan pemenggalan kepala? Apakah pantas seorang panutan menyebut seorang presiden dengan sebutan jokod*k? Namun, karena ucapan-ucapan tersebut dibalut dengan doktrin-doktrin agama, pengikutnya pun berkeyakinan bahwa teriakan tersebut merupakan semacam perintah Tuhan untuk memberantas kezaliman yang ada. Hati mereka sebenarnya menolak untuk memukul, tapi akal mereka telah teracuni doktrin dan hasutan kejahatan yang mengatasnamakan agama. Hal seperti inilah yang sangat menakutkan. Ketika orang berbuat salah, namun tak menyadari bahwa yang dilakukannya merupakan sebuah kekeliruan.

Bagaimanapun juga, kita patut bersyukur karena pemerintah telah resmi menetapkan FPI sebagai ormas terlarang. Melarang  segala aktifitas yang berkaitan dengan FPI, dan bahkan akan menghentikan paksa jika ada kegiatan yang tetap dilakukan. Tentu kita berharap agar mereka taubat dari perbuatan-perbuatannya yang bertentangan dengan hukum. Namun, kita jangan sampai lengah terhadap situasi apapun yang berpotensi mengusik kedamaian dan kesatuan NKRI. Radikalisme dalam bentuk apapun harus ditumpas, terlebih mereka yang mengatasnamakan Islam. Tentu kita tidak mau stigma-stigma buruk seperti teriakan Islam sebagai agama teroris, radikalis, dan ekstrimis berseliweran di telinga kita.


Pentingnya Akal

Kita tidak boleh mengerucutkan Islam hanya pada golongan tertentu, apalagi hanya sebatas ormas tertentu. Para ulama terdahulu saja dalam berpendapat seringkali mengatakan, “Pendapatku mungkin saja benar tapi berpotensi salah dan pendapat orang lain mungkin saja salah tapi berpotensi benar.” Lha ini ada orang yang ke-ulama-annya masih dipertanyakan, kok minta pendapatnya harus diikuti, ngeyel lagi. Lha teros aku kudu pie?

Foto: Dara.co.id

Penggunaan akal dalam setiap permasalahan yang ada, sangatlah diperlukan untuk keberlangsungan hidup yang tentram. Dengan akal kita bisa mengetahui sosok yang layak dijadikan panutan dan yang tidak, dengan menggunakan akal pula kita bisa memilih untuk mengikutinya atau meninggalkannya. Sejatinya, naluri untuk mengikuti kebenaran dan kebaikan itu ada pada setiap manusia.

Manusia memang seringkali secara fisik terlihat lemah jika dibandingkan dengan makhluk lainnya. Sebut saja harimau, ia memiliki kemampuan bergerak cepat juga gigitannya yang mengerikan, hampir tak mungkin manusia dapat mengalahkannya jika berhadapan dengan tangan kosong. Namun, bagaimana mungkin manusia yang lemah tersebut bisa mengalahkan bahkan mengendalikan makhluk yang tampaknya lebih kuat daripadanya? Tidak lain karena manusia mempunyai suatu keistimewaan yang tidak dapat ditemukan pada selainnya, keistimewaan ini dikenal dengan “akal”. Tentu amat sangat hina jika manusia tidak menggunakan anugrah tersebut sebagaimana mestinya. Dengan adanya akal, kita tentu tidak boleh menjadi seseorang yang fanatik membabi buta; mengikuti sesuatu tanpa ilmu.  

Terkait penggunaan akal dalam memilih panutan, ada kutipan menarik pada channel youtube CokroTV, dalam video berjudul “FPI Ormas Terlarang, Bandar Tekor”, Eko Kuntadhi menuturkan bahwa ada pihak yang menyesalkan pembubaran FPI. Yaitu para ibu yang kini disibukkan mengajar anaknya karena sekolah online. Sebab mereka tidak bisa lagi mengancam anaknya yang malas belajar dengan kalimat, “kalau malas belajar nanti besarnya jadi laskar!” Karena biasanya mendengar ancaman itu anak-anak menjadi rajin belajar. Memang kata-kata tersebut cukup menggelikan. Namun, terlepas apakah itu hanya gurauan semata atau memang sebuah kenyataan, kita bisa mengambil pelajaran dari sikap si ibu dan anak tersebut. Bahwa sesuatu yang salah, siapapun pelakunya, patut dihindari dan tak layak dijadikan panutan. Gimana? Masih mau jadi “laskar”? Mari belajar! Semoga kita termasuk orang yang bisa mengikuti sesuatu atau meninggalkan sesuatu dengan ilmu.

Penulis: Alfan Yusuf Mustafa
Editor: L.