Humanity Above Religion; Benarkah Konsep Menomorduakan Agama?

Dalam sejarahnya, agama selalu menjadi solusi atas segala problem kehidupan manusia. Namun, dewasa ini kita sering melihat banyaknya konflik yang mengatasnamakan agama yang mengancam prinsip dasar kemanusiaan. Tidak ada penghargaan dan penghormatan kepada manusia yang berbeda-beda. Agama dijadikan sebagai dalil untuk merusak dan menghancurkan sebuah peradaban.

Beberapa waktu lalu saya mendengar kata –Humanity Above Religion atau kemanusiaan di atas agama- ini  di konten youtube Majelis Lucu Indonesia. Tretan Muslim dan Coki Pardede sempat menyinggung segolongan masyarakat yang akhir-akhir ini lantang mengkampanyekan hal-hal yang berbau agama namun mengesampingkan sikap kemanusiaan terhadap orang lain.

Seperti kejadian yang terjadi di Yerusalem, pertikaian antara Israel-Palestina selalu disalahpahami jika itu merupakan pertentangan antara Yahudi dan Islam. Padahal faktanya kedua negara yang bertikai tersebut juga memiliki ragam agama, bahkan 50 persen penduduk Palestina merupakan orang Yahudi serta sisanya Kristen dan Islam. Peperangan atau kekerasan atas nama agama –seperti yang kebanyakan orang katakan– itu tidak semata-mata dilakukan karena dorongan dari agama itu sendiri, namun banyak faktor yang melatarbelakangi. Salah satunya kepentingan menguasai wilayah, tentang siapa yang berhak untuk menempati. Kalau sudah begitu siapa yang dirugikan? Satu agama saja atau justru semua yang ada di dalamnya?

Di Indonesia sendiri isu tentang agama dan kemanusiaan selalu menjadi topik yang sexy untuk dibicarakan. Seperti yang baru-baru ini terjadi di awal November lalu, ada salah satu ormas agama yang memadati bandara hanya untuk menyambut kedatangan pemimpin ormasnya. Hal tersebut mengganggu operasional bandara dan tentu saja banyak orang dirugikan atas kejadian ini.

Dari dua permaslahan di atas ada baiknya jika dengan nalar kritis, kita mulai mempertanyakan: di manakah posisi agama tatkala berhadapan dengan persoalan kemanusiaan? Konsep Humanity Above Religion memang menuntut seseorang untuk lebih mengedepankan sisi kemanusian daripada sisi keagamaannya. Salah satunya dengan mengesampingkan sisi kefanatikan akan sesuatu, karena biasanya orang dengan fanatisme tinggi cenderung akan melakukan hal-hal yang hanya menguntungan dirinya sendiri atau kelompoknya tanpa mempedulikan orang lain di sekitarnya. Tak jarang orang-orang seperti ini juga suka berlindung di bawah payung agama, mereka menjadikan agama sebagai tameng agar mereka lebih leluasa melakukan apapun seenaknya sendiri. Sudah pasti mereka akan berdalih jika hal tersebut merupakan salah satu cara untuk membela agamanya. Miris!

Pesan tertinggi agama adalah kemanusiaan, hal ini pun selaras dengan slogan yang sering kita dengar “Jika tidak bisa menghargai orang lain karena keyakinannya, maka hargailah orang lain karena kemanusiaannya.” Namun pada kenyataannya, tidak semua orang sejalan dengan konsep ini. Terdapat golongan orang yang beranggapan bahwa konsep Humanity Above Religion tidak searah dengan agama. Karena agama merupakan pondasi utama serta memiliki peranan yang amat penting dalam kehidupan manusia. Dan sudah pasti tak ada hal yang dapat menomorduakannya, sekalipun itu kemanusiaan.

https://www.liputan6.com/photo/read/2514344/pelukan-bersejarah-paus-fransiskus-dan-imam-besar-al-azhar-di-vatikan?page=1

Tidak ada yang salah dengan pernyataan yang menganggap agama menjadi poin penting dalam kehidupan manusia. Hanya saja jika dengan agama seseorang dapat menghilangkan sisi-sisi kemanusiaan, saya pribadi tidak setuju. Dari sini muncul kembali segolongan orang yang mengatakan bahwa humanity dan religion adalah dua sisi yang saling bertolak belakang.

Dalam pandangan saya, Humanity Above Religion hadir sebagai sindiran keras bagi orang-orang yang masih mengacuhkan perikemanusiaan dengan alasan agama. Karena pada dasarnya, tidak ada pertentangan antara kemanusiaan dan agama itu sendiri. Toh, berperikemanusiaan tidak menjadikan orang lantas tidak beragama. Agama-agama di seluruh dunia pun sudah pasti menyerukan nilai-nilai kemanusiaan ini. Hemat saya, jika seseorang mengabaikan sisi kemanusiaan karena agama, maka hal itu bertentangan dengan nilai dasar agama itu sendiri.

Di dalam Islam sendiri, semua muslim mempunyai kewajiban untuk saling bertoleransi terhadap orang lain, tanpa memandang latar belakangnya. Seperti halnya yang telah dicontohkan oleh Nabi Muhammad SAW, beliau memiliki akhlak mulia terhadap semua manusia, tak terbatas hanya ras, suku, dan agama tertentu. Syekh Ali Jum’ah dalam kitabnya Wa Qala Al-Imam, menyebutkan bahwa dalam Maqashid Asy-Syariah (tujuan-tujuan syariat), bahwasanya hifdzu an-nafs (menjaga jiwa raga) lebih utama daripada  hifdzu ad-din (menjaga agama). Beliau juga menjelaskan ketika hilangnya nyawa seseorang, maka akan hilang pula agama bersamanya. Hal ini menta’kidkan bahwa manusia adalah subjek utama untuk menjaga agama.

Jika masih tidak setuju dengan konsep menomorduakan agama, maka saya rasa konsep yang juga tepat adalah Humanity is part of religion, bahwa kemanusiaan merupakan bagian dari agama. Hal ini searah dengan yang terdapat dalam agama Islam, hablumminannas – hubungan yang ada di antara manusia- seperti muamalah, dan aspek sosial lainnya. Dari sini, seyogianya sisi kemanusiaan menjadi aspek penting yang selalu beriringan dengan agama dalam kehidupan sehari-hari. Mendukung perdamaian antara Palestina-Israel karena memang agama memerintahkan untuk hidup damai dan salin berdampingan. Bahkan seharusnya juga turut mendukung perdamaian di muka bumi ini tanpa pandang bulu di manapun itu. Terlepas dari konteks beragama, konsep perikemanusiaan ini juga seharusnya diterapkan dalam hal apapun, terutama dalam berinteraksi sehari-hari sesama manusia.

Penulis: Ahmad Fauzan Zahri
Editor: Hasna’ Zakiyah Amany

One thought on “Humanity Above Religion; Benarkah Konsep Menomorduakan Agama?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *