
Sembari berjalan di depan pelataran kios-kios untuk pulang, aku meminta mbak Jannah melanjutkan ceritanya. Tapi jujur, rasanya darahku beredar lebih cepat dari sebelumnya. “Ya aku jawab aja, pulang ke Indonesia,” terangnya dan bla bla bla. Sampai ke poin kalau mas Yusuf bilang, “In shaa Allah setelah selesai dari sini aku mau berkunjung ke rumahmu, bolehkan?”. Dari sini aku mulai merespon serius, entahlah, aku merasa ada bayanganku dalam cerita itu.
Sesampainya di flat aku taruh belanjaan di dapur, mulai memasak, dan melihat mbak Jannah bertolak ke ruang tengah untuk istirahat setelah menaiki empat lantai dari ardiyah. Hari ini aku dapat piket memasak dengan Ayu, lantas kami masak sayur sop, telur dadar, dan sambal kecap. Hingga adzan maghrib berkumandang, dan kami telah usai shalat berjamaah, kak Wildah mengajak kita semua untuk berkonstribusi dalam program mengisi kekosongan, yaitu dengan laporan hasil minat dan bakat pada saat kumpul mingguan. Ia berusaha menerangkan, “Aku kasih misal ya. Pekan ini aku telah menyelasaikan Novel Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin, Tentang Kamu.”. “Aku murojaah hafalan Al Quran,” timpal ukhty Sholehah. “Kalau begitu, aku selesaikan dua season drakor dengan total 19 episode,” sahut Ayu. “Yee, mana boleh begitu Yu!” reflek Ria sembari menepuk bahu Ayu yang berada di sampingnya. Aku tertawa, tapi juga bingung mau menjawab apa, hingga suara mbak Jannah menyelamatkanku, “Makan yuk! laper nih.”, lantas semua sepakat dengan ajakan itu.
***
Jarak tidak memberi toleransi untuk bersama, dan waktu berjalan dengan sendirinya, tanpa aku, dia, dan cerita tentang kita. Malam ke-3 di Mesir, aku harusnya belajar bersama teman-teman untuk simulasi ujian tahdid mustawa. Tapi saat itu aku lagi badmood, entah kenapa, seakan memang ada rasa yang tak tersampaikan. Hingga malam itu aku bermimpi, aku pulang ke Indonesia dan… “Anisa, bangun, subuh, bentar lagi syuruk nih,” suara Ria menganggetkanku sembari tangannya menepuk-nepuk lenganku. Harusnya aku tak menceritakan bagian ini, tapi ada yang menarik di sini.
***
“Satu pekan ini aku menghabiskan dua buku, Geez dan Ann seri pertama, dan Konspirasi Alam Semesta punya Fiersa.” pernyataan kak Wildah saat kumpul mingguan keluarga kecil kami. “Aku buat ini untuk hasil kegiatan positif selama pandemi,” presentasi Ria sambil memamerkan lava cake buatannya. “Wiih, kayaknya enak tuh,” sahut Ayu. “Kalau Ayu emangnya ngapain?” tanya kak Wildah. “Nggak kalah keren kayak Ria lah, sepekan ini aku mengikuti kursus online bahasa Korea lho, gimana? Keren kan? Aku udah bisa ‘kamsahamnida’, ‘saranghaeyo’, macam-macam deh,” dengan nada narsis, Ayu memeragakan gaya sarangheyo dengan menempelkan ibu jari dan telunjuknya dihadapan kami semua. “Subhaanallah, banyak perkembangan Ayu, kalau sepekan ini aku masih baru selesai murojaah juz 17 dan 18, agak lupa-lupa di surat An-Nur,” kalam mujamalah dari ukhty Sholehah memang paling beda diantara kami. Selanjutnya tentang Mbak Jannah yang mengisi kegiatannya dengan menjadi guru kelas bahasa Arab online, dan aku yang ikut kelas menulis.
“Malam yang harmonis tak melulu tentang ucapan romantis. Kadang hanya perlu momen kumpul bersama, sharing, dan makan lava cake gratis bisa membuat lisan yang diam akan kata-kata menjadi penuh rasa”
Kegiatan flat mulai berjalan produktif lagi semenjak laporan kegiatan mingguan diadakan oleh kak Wildah. Memang kak Wildah ini sudahlah cantik, juga paling inspiratif diantara kami. Disela-sela kumpul, kegiatan keputrian, kuliah, ia selalu menyempatkan membaca buku, hampir mirip sih dengan ukhty Sholehah, hanya saja beliau lebih sedikit social distancing walaupun tidak ada pandemi.
***
“Nis, besok kamu free nggak? Aku sama teman-teman mau mantai” notif WA dari Dimas pada Jumat malam. Aku sangat lelah malam itu, pengennya besok seharian rebahan di kamar. “Nggak bisa, Mas, maaf!” jawabanku singkat, kemudian kumatikan lampu dan telentang di kasur. Tidak lama berselang, HP-ku berbunyi, tanda suatu chat masuk, tapi kubiarkan saja, sebab kedua pelupukku sudah terlanjur kuanyam.
Esoknya, ternyata aku tidak bisa sholat subuh, bukan bangun kesiangan, tapi memang sedang berhalangan. Jadi tidak lama dari kamar mandi aku tidur lagi. Perfect memang, sesuai planning kemarin. Hingga di satu waktu, jam menunjukan pukul delapan, ibu membangunkanku. Ternyata masih ada kewajiban yang harus kulakukan, yaitu membantu ibu belanja, memasak, mengantarkan adik latihan pramuka, dan delivery pesanan kue ke Bu Alifah. Setidaknya, aku masih ada usaha merebahkan diri kembali setelah semua selesai. Dan benar juga ternyata, impian untuk itu akhirnya terwujud, tepat setelah aku membuat snap “Saturday, sad your day”. Kubuka chat dari Dimas semalam yang menyalakan moodbooster-ku “Kalau begitu besok bantu orang tua aja, biar aku yang bawain oleh-oleh buat anaknya.” Mau dijawab ‘udah bantuin’, tapi nggak penting, yaudahlah, toh bibirku sudah senyum-senyum sendiri karenanya.
***
Di tengah perhelatan akan ada ujian tingkat akhir, mbak Jannah terkadang curhat tentang mulai adanya kedekatan batin dengan mas Yusuf. Lumayan ada perkembangan dari yang dulunya hanya bertanya tentang visa, kini menjadi visi, dari petisi basa-basi menjadi motivasi ‘bisa-bisa!’. Aku turut riang melihat mbak Jannah senang, meski ada sedikit rasa khawatir, itu semua bisa mempengaruhi nilai ujiannya. “Nis, menurutmu kado apa yang cocok untuk cowok?” counter question dari mbak Jannah memecahkan angan-anganku di hadapan Microsoft Word. “Apa mbak? Sorry, tadi lagi fokus nulis,” pintaku untuk mengulang. “Kado yang pas buat cowok, Nisa!” ulang mbak Jannah. Aku stuck, mau menjawab, tapi terhalang bayangan gelap masa lalu. Dengan memalingkan wajah ke laptop kemudian menarik nafas panjang, aku jawab, “Jam tangan.”
Esoknya, mbak Jannah benar-benar membeli jam tangan cowok. Ia perlihatkan di hadapanku, saat sibuk membaca materi kelas menulis online siang itu. Dalam satu flat, tidak ada yang tahu rahasia mbak Jannah. Jadi, aku menanggapinya dan menghentikan membaca ‘Penyampaian Perasaan Penulis’ dari layar gawaiku. Aku bantu membuat kata-kata dalam kotak jam tangan, terus tersenyum sambil mata berkaca, “Semoga jamnya tepat…” harapku menggantung.
Penulis: Rizal Alawi
Editor: Luhur Kharisman
Ayooo lanjuttt.. Lama