
Dalam kebingungan, Patih Suconegoro tak bisa berpikir, ia hanya terus berjalan tanpa tujuan. Dia biarkan bajunya melambai-lambai diterpa angin malam. Hingga hawa dingin menerobos masuk begitu saja seakan dipersilahkan. Suara jangkrik yang bersahutan di tengah sunyinya malam juga tidak membuatnya terganggu. Pikirannya penuh dengan titah Sultan Keraton Cirebon yang memerintahkannya agar mencari seorang sakti untuk menyembuhkan sakit putrinya.
Sudah tiga jam berjalan, Patih masih belum tau harus kemana atau mencari siapa. Sekitar 10 meter dari tempatnya berdiri, ia melihat seoran kakek tengah duduk seoran diri dibawah pohon mahoni, Patih pun menghampiri, berniat sekedar mengistirahatkan kakinya dan duduk disebelahnya. Tanpa berpikir dan tanpa menungu dipersilahkan, ia memulai ceritanya.
***
Kemarin, malam sudah sangat larut. Hawa dingin semakin menusuk tulang. Angin yang tak terlalu kencang menggoyankan pohon. Cuaca yang aneh. Tiba- tiba terdengar suara keributan dari para abdi Keraton Cirebon. Segera Sultan Cirebon menghampiri mereka. Ternyata Elang Muhammad, Pangeran Banten calon menantu Keraton cirebon ditemukan tewas dengan wajah menghitam di kamarnya. Tidak lama berselang, terdengar suara teriakan dari istana putri. Putri Keraton Cirebon, Syamsiatun, terus meracau tidak jelas seperti orang gila.
Di Keraton Cirebon, keadaan sangat runyam. Masalah datang bertubi-tubi membuat Sultan Keraton kebingungan. Selain harus mengobati putrinya yang entah sakit apa, Sultan juga harus memikirkan bagaimana cara menyampaikan kabar kematian Pangeran Banten pada Kerajaan Banten. Saya diutus untuk mencari orang yang dapat menyembuhkan putrinya. Sedangkan Sultan fokus pada diplomasi dengan Kerajaan Banten.
Sebenarnya saya senang dipercaya untuk membantu sultan, tapi saya tidak tau harus kemana dan mencari siapa. Pungkas si Patih mengakhiri ceritanya sembari menoleh kearah sang kakek.
Si kakek hanya tersenyum tanpa berkata apapun. Saat patih hendak berdiri dan melanjutkan perjalanan, ia melihat batok kelapa di depan si kakek, sejurus kemudian ia melemparkan koin, sembari berkata “Terimakasih sudah mendengarkan ceritaku”.
Baru beberapa langkah, Patih mendengar kakek berkata dengan suara lirih,
“Nak, teruslah pergi ke arah utara, kamu akan bertemu seseorang yang dapat membantumu”.
Patih menoleh kebelakang, namun sang kakek sudah tidak ada. Sambil mengangguk-angguk dalam hati Patih berkata. Sebenarnya aneh juga ada yang meminta-minta di bawah pohon besar yang jarang dilewati orang di tengah malam. Mungkin memang seseorang yang ingin menolong Kesultanan Cirebon.
Patih tidak gentar, baginya jin setan iblis dan makhluk aib lainnya tidak lebih menyeramkan dari pada kehancuran Keraton Cirebon. Patih terus melanjutkan perjalanan ke arah utara, hingga sampai di tepi pantai.
***
Dari kejauhan, dengan sedikit menyipitkan matanya dia melihat seseorang dengan baju hitam, mengambang di atas air laut. Patih berkata,
“Siapa disana? Jika manusia mendekatlah”.
Terlihat orang yang mengambang tadi berjalan mendekat ke arah Patih dan berkata,
“Ini dimana?”
“Ini di Cirebon,” jawab Patih.
“Cirebon itu Palembang atau Jawa?” tanyanya dengan kebingungan.
“Cirebon itu Tanah Jawa. Siapa kisanak? Dan datang dari mana?”
“Saya biasa dipanggil Syeikh Jangkung, hanya mengikuti arah aliran pantai untuk membantu siapa pun yang membutuhkan. Tiba-tiba sudah sampai disini.”
“Sepertinya inilah orang yang dimaksud oleh sang kakek tadi’’, batin Patih.
Sambil tersenyum sang Patih berkata, “Maukah Syeikh membantu saya?”
Syeikh Jangkung mengangguk.
Sambil berjalan menuju Keraton, Patih menceritakan permasalahan yang sedang dihadapi oleh Keraton Cirebon, seperti yang ia ceritakan kepada kakek dibawah pohon mahoni.
***
Di tempat lain, di sebuah gunung paling tinggi di kota Kuningan, gunung Ciremai. Elang Mahmud, paman dari putri Keraton Cirebon terlihat resah dan ketakutan dengan keputusannya beberapa jam yang lalu. Ia hanya ingin membuat Syamsiatun jatuh hati padanya, dan membalaskan dendam pada kakaknya, Sultan keraton Cirebon, karena menjodohkan Syamsiatun dengan Pengeran Banten dan bukan dengan dirinya. Akan tetapi, dia tidak tega jika harus melihat Syamsiatun menjambak-jambak rambutnya sendiri, membenturkan kepalanya ke tembok serta berlarian kesana kemari sambil terus meracau seperti orang gila.
“Kamu tenang saja Mahmud, aku itu gurumu, tidak akan mengecewakan murid sendiri”
“Tapi maksud saya bukan seperti ini guru, kalau Syamsiatun sakit seperti orang gila begitu, bagaimana saya akan menikah dengannya ?”
“Sultan Keraton pasti akan membuat sayembara untuk menyembuhkan putri satu-satunya. Saat itulah, kamu menuju keraton, berjalan layaknya Rama yang hendak menyelamatkan Shinta dari genggaman Rahwana, karena hanya kamu yang bisa mengobati Syamsiatun.”
Elang Mahmud terkesima mendengar perkataan gurunya. Dengan senyum yang merekah ia pun mengakui kesalahpahamannya. “Maafkan saya yang tadi tidak mengerti rencana guru, saya akan percayakan pada guru, dan mulai sekarang tidak akan sedikit pun meragukan guru.”
“Bagus, tunggu saja sayembaranya. Sultan pasti tidak akan tahan melihat putrinya sakit seperti orang gila.”
***

Ditengah obrolan hangat guru dan murid itu, tiba-tiba jin yang dikirim sang Guru kembali ke gunung Ciremai dengan berdarah-darah. Dia mengatakan bahwa tidak sanggup lagi bertahan dalam tubuh putri, karena ada seorang sakti yang mengalahkanya.
Sang guru yang bernama Dahyang Lolope itu langsung naik pitam. Harga dirinya terkoyak karena ada yang mampu mengembalikan jin yang dikirimnya. Langsung saja dia ingin menantang Syeikh Jangkung di Keraton Cirebon. Belum sempat ia keluar dari gubuk tempat ia dan Elang Mahmud berdiri, terdengar suara bergemuruh diikuti angin yang sangat kencang. Hingga memporak-porandakan gubuk itu.
“Tidak usah repot-repot ke Keraton Cirebon untuk menemuiku”, ucap Syeikh Jangkung yang tiba-tiba sudah ada di depannya.
Merasa semakin diremehkan, Dahyang Lolope langsung melancarkan serangan kepada Syeikh Jangkung berupa semburan api dari tangannya. Namun, api itu sama sekali tidak dapat mengenai Syeikh Jangkung. Dengan kalap, Dahyang Lolope mengeluarkan semua Jin yang dimilikinya, sampai ribuan Jin dikerahkan untuk melawan Syeikh Jangkung. Dengan mudah pula, Syeikh Jangkung dapat membasmi semua Jin yang menyerangnya.
Semakin geram karena sama sekali tidak dapat menyentuh Syeikh Jangkung, Dahyang Lolope mengubah dirinya menjadi seekor ular yang sangat besar dan menyemburkan racun api ke arah Syeikh Jangkung. Dengan secepat kilat Syeikh Jangkung menghindar lalu melepaskan keris saktinya untuk mengejar Dahyang Lolope dalam bentuk harimau putih.
Tepat di kepala ular, keris itu menancap hingga membelah sang ular menjadi dua bagian. Kemudian keris itu kembali ke tangan Syeikh Jangkung. Untuk menyelesaikan pertarungan Syeikh Jangkung membacakan doa, hingga membuat ular Dahyang Lolope terbakar dan berubah menjadi abu.
Elang Mahmud yang melihat sang guru dikalahkan dengan sangat mudah, merasa takut karena Syeikh Jangkung jelas bukan tandingannya. Namun, emosi yang meluap membuatnya melancarkan serangan api ke arah Syeikh Jangkung. Api tersebut justru kembali ke arahnya dan membakar dirinya sendiri. Syeikh Jangkung juga berdoa untuk Elang Muhammad.
Patih Suconegoro yang daritadi hanya diam dan melihat semua pertarungan itu, merasa sangat takjub dengan kehebatan Syeikh Jangkung. Kemudian mereka kembali ke Keraton Cirebon dan menghadap Sultan Keraton.
***
“Aku sangat berterimakasih atas semua bantuanmu. Adakah hadiah yang kau inginkan?”, ucap Sultan dengan tersenyum. Namun, Sang Patih dapat melihat gurat kesedihan dalam raut wajah Sultan. Karena bagaimanapun juga Elang Mahmud, adalah adiknya, walaupun dia sudah membuat kekacauan di Keraton, cinta seorang kakak kepada adiknya akan selalu ada.
“Itu memang sudah menjadi tugas saya untuk membantu yang membutuhkan” ucap Syeikh Jangkung sambil terus memutar tasbihnya dan berjalan meninggalkan keraton Cirebon.
*Diolah dari berbagai sumber
Penulis: Aan Darwati
Editor: Luhur Kharisman