
Pagi itu, Bu Mirna pergi ke Pasar. Baru beberapa langkah dari area rumahnya, Bu Mirna mendengar suara sesuatu yang sedang dipukul berulang-ulang. Bu Mirna pun mencari di mana asal suara tersebut, hingga akhirnya Ia berhenti tepat di depan jendela salah satu rumah. Karena penasaran, Bu Mirna pun memicingkan matanya, mencoba melihat apa yang sebenarnya terjadi di dalam rumah tersebut. Di sana, ada seorang remaja laki-laki yang sedang berulang kali meninju samsak secara brutal, keringatnya pun bercucuran deras di pelipisnya.
Bu Mirna yang masih diselimuti rasa penasaran dengan sosok remaja tersebut mencoba mengingat identitas tetangga barunya itu. Namun karena jarang terlihat, Bu Mirna menjadi tidak mengenalinya. Karena takut kesiangan, Bu Mirna akhirnya lebih memilih untuk melanjutkan perjalanannya menuju pasar, tentu saja dengan berbagai pertanyaan yang bermunculan di kepalanya.
Malamnya, ketika Pak Dodo pulang kerja, Bu Mirna langsung mendatangi suaminya dengan mengajukan berbagai pertanyaan, “Pak, tau ngga siapa penghuni rumah yang di gang sebelah? Yang baru pindahan itu lho.”
Karena merasa sangat lelah, Pak Dodo hanya menjawab seadanya “Oh si Adam. Orangnya kayak cuek gitu, jadi agak males Bapak ngajak ngomongnya. Udah ah, Bapak capek. Suami pulang bukannya dilayani malah langsung ditanya-tanya,”
“Ya maaf toh Pak,” ucap Bu Mirna dengan logat khas Jawanya yang langsung menyusul suaminya masuk ke dalam kamar.
Bu Mirna masih memikirkan tetangganya tersebut, bahkan ketika waktu telah menunjukkan pukul 11 malam. Sebagai istri dari ketua RT, Bu Mirna telah mengenal jelas semua tetangganya. Namun, hanya satu tetangganya tersebut yang tidak Ia kenal secara jelas. Karena saat kepindahannya, Bu Mirna sedang berada di luar kota mengunjungi anaknya. Sehingga Ia belum sempat bertegur sapa dan mengobrol dengan tetangga barunya tersebut secara langsung. Ditambah mengetahui usia Adam yang masih remaja dan juga tinggal seorang diri, Bu Mirna menjadi khawatir, layaknya dia mengkhawatirkan putrinya yang ngekost di luar kota.
Besok paginya, Bu Mirna mengajak suaminya untuk bertamu ke rumah Adam. Namun saat sampai di depan halaman rumahnya, remaja tersebut tampak sedang mengeluarkan motornya. Bu Mirna dan Pak Dodo pun cepat-cepat meghampirinya “Eh nak, mau kemana? Kita baru saja mau mampir bertamu,” ucap Bu Mirna ramah.
“Maaf ya. Saya buru-buru berangkat kuliah,” jawab Adam seraya langsung pergi meninggalkan pasangan suami istri tersebut.
“Tuh kan, Bapak bilangin juga apa. Anaknya cuek banget Bu, gaada sopan santunnya lagi. Ayo pulang!”
Bu Mirna pun mengikuti suaminya dengan perasaan kecewa. Namun sebelum benar-benar pulang, Bu Mirna sempat melihat sesuatu yang janggal di pojokkan rumah tersebut. Meskipun samar dan dilihatnya dari jarak yang lumayan jauh, namun Bu Mirna masih dapat melihat benda panjang yang terlihat dari balik gorden yang sedikit tersingkap itu. Bu Mirna memicingkan matanya, mencoba meyakinkan pandangannya dan langsung menutup mulutnya dengan tangannya. Ia amat terkejut saat mengetahui benda tersebut, namun lebih memilih untuk tidak memberitahu suaminya.
Malamnya, ketika suaminya telah tidur lebih awal, Bu Mirna menyelinap keluar rumah dan mencoba kembali melihat rumah Adam. Karena berada dalam kompleks perumahan, maka tak heran jika pukul 21.00, suasana di sekeliling sudah terlihat sepi. Ketika langkah Bu Mirna semakin dekat dengan rumah Adam, wanita beranak satu tersebut melihat dua orang sedang bertarung menggunakan pisau yang berukuran lumayan panjang. Bu Mirna yang mengira rumah Adam kedapatan maling dan sedang berusaha melawannya pun bergegas kembali ke rumahnya dan membangunkan suaminya untuk membantu remaja tersebut.
“Pak! Pak! Adam, Pak!”, seru Bu Mirna sembari mengguncang tubuh suaminya yang telah tertidur pulas. Hingga lima menit telah berlalu, Bu Mirna baru ingat jika suaminya adalah seorang yang sangat susah untuk dibangunkan. Wanita beranak satu tersebut pun mencoba untuk mengguncang tubuh suaminya lebih keras dari sebelumnya. Karena Bu Mirna begitu khawatir melihat Adam yang tiba-tiba kemalingan dan sedang bersusah payah melawannya. Untunglah, setelah beberapa menit berusaha membangunkan suaminya, akhirnya Pak Dodo terbangun.
“Ada apa sih Bu kok rame-rame? Wong ya lagi tidur kok,” ucap Pak Dodo dengan mata yang masih tertutup dan sedang mengumpulkan nyawa.
“Adam Pak. Tetangga baru kita itu loh. Ibu tadi lihat dia lagi ngelawan maling. Mana malingnya bawa senjata tajam lagi. Bantuin Pak, cepet!” seru Bu Mirna dengan nada khawatirnya.
“Hah? Beneran? Sek, tak telfon satpam dulu,” ucap Pak Dodo yang baru sadar dan langsung meraih ponselnya. Setelah menjelaskan beberapa hal, Pak Toni yang bertugas sebagai satpam dan berjaga malam itu langsung datang bersama Pak Dodo dan istrinya menuju rumah Adam.
“Mana? Sepi-sepi aja kok,” ujar Pak Toni melihat suasana rumah Adam yang tidak terlihat seperti bekas pertarungan seperti yang dikatakan Bu Mirna tadi.
“Tadi itu saya lihat sendiri loh. Nak Adam lagi ngelawan maling di halaman belakang rumahnya. Mungkin malingnya lewat situ tadi,” ucap Bu Mirna. Ia yakin tidak salah lihat tadi. Oleh karenanya, Bu Mirna pun mengajak suaminya beserta Pak Tono untuk mengetuk pintu rumah Adam dan memastikan keadaannya. Namun setelah mereka mengetuk dan menunggu selama sekitar 10 menit, tetap tidak ada jawaban yang mereka dapatkan.
Bu Mirna pun menjadi semakin khawatir. Sembari berpikir, Pak Tono menyarankan Pak Dodo selaku ketua RT untuk menghubungi Adam, guna menanyakan keberadaanya. Namun berulang kali Pak Dodo berusaha menelpon, berulang kali juga panggilan tersebut tidak mendapat jawaban. Pak Dodo menghela nafas dan berusaha menenangkan istrinya. Ia juga berkata bahwa kemungkinan Adam langsung pergi ke rumah orang tua nya guna mencari tempat yang lebih aman.
“Tapi Bu, kalo ada maling masuk ke perkomplekan ini saya rasa tidak mungkin. Karena sedari tadi saya menjaga cctv dan tidak melihat sesuatu yang mencurigakan. Bahkan sejak pukul 20.00 tadi, tidak ada seorang pun yang memasuki gerbang,” ucap Pak Tono.
“Yasudah, sekarang kita pulang dulu dan beristirahat. Mungkin Adam lagi ke rumah teman atau orang tuanya sekarang. Kita tunggu sampai dia pulang sambil tetap berusaha ngehubungi dia,” ujar Pak Dodo memberi keputusan. Mereka pun berpisah dan pulang ke tempat masing-masing.
Namun, hingga seminggu telah berlalu, Adam tak kunjung ada kabar. Bu Mirna yang semakin khawatir pun mendesak Pak Dodo untuk menghubungi polisi. Mereka pun pergi ke kantor polisi terdekat dan memberi beberapa keterangan. Setelah selesai, polisi pun pergi bersama sepasang suami istri tersebut menuju rumah Adam dan membuka paksa rumah tersebut, guna mencari tahu bukti keberadaan terakhir remaja bernama Adam. Dan tepat setelah pintu dibuka, pemandangan yang ada di dalam rumah tersebut membuat terkejut orang-orang yang ikut masuk menggeledah rumah Adam.
Kondisi ruang tamu terlihat berantakan. Begitu juga sebuah ruangan yang diduga kamar tidur milik Adam. Dan di sudut ruang tamu, terdapat sebuah parang yang mencuri perhatian mereka. Namun apa yang ditemukan oleh Bu Mirna rupanya lebih menarik perhatian. Di sudut meja di tempat yang sama, terdapat sedikit bekas darah yang telah mengering, juga sebuah pistol yang tergeletak tak jauh dari sofa. Bu Mirna berteriak. Dan tepat saat itu, Adam tiba-tiba saja pulang ke rumahnya. Dia pun langsung diborgol dan dibawa ke kantor polisi.
Selama perjalanan, Adam setia menutup mulutnya. Bahkan saat di kantor kepolisian pun, ia menolak untuk berbicara dan meminta polisi untuk menghubungi salah seorang yang menurut pengakuannya adalah keluarganya. Karena lelah dengan sikap Adam yang sedari tadi tidak ingin memberi kesaksian satupun, polisi akhirnya menghubungi orang tersebut. Dan betapa terkejutnya mereka setelah mengetahui siapa seseorang yang baru saja mereka hubungi.
“Selamat Pagi Pak. Ada apa ya ini? Kenapa keponakan saya bisa ada disini?” tanya seseorang berbaju polisi dengan empat bintang yang melekat di seragamnya.
“Selamat Pagi Pak Tama. Maaf menganggu waktu anda. Kami tidak tahu jika remaja ini ternyata adalah keponakan dari Pak Tama. Kami hanya menerima laporan orang hilang dari salah satu warga kami. Dan setelah sampai di lokasi dan mencari barang bukti, betapa terkejutnya kami ketika melihat benda yang seharusnya tidak disimpan oleh seorang anak remaja seusia Adam. Apalagi benda itu disimpan tanpa izin yang tentunya melanggar hukum. Bahkan kami juga menemukan bekas darah yang telah mengering di sudut sofa. Oleh karena itu, kami menahan saudara Adam untuk meminta keterangan atas itu semua. Namun yang bersangkutan malah diam saja dari tadi,” jelas salah satu polisi sambil melirik sinis ke arah Adam, namun tetap berusaha sopan di hadapan atasannya.

Pak Tama tersenyum kecil.”Jadi begini Bapak. Izinkan saya menjelaskan. Sebelumnya saya minta maaf atas sikap keponakan saya yang bapak nilai kurang ajar itu. Ia memang begini. Dan hal itu disebabkan oleh perceraian orang tuanya semenjak setahun yang lalu. Saat itu, perusahaan ayahnya Adam mengalami kebangkrutan. Sehingga ayah beserta ibunya menjadi stress dan berujung pertikaian. Adam yang hampir setiap hari disuguhi oleh pemandangan seperti itu pun akhirnya mulai terganggu psikologisnya. Dia menjadi anak yang nakal dan susah diatur. Hobinya berkelahi dan tawuran. Saya kasihan melihatnya.”
Sebelum melanjutkan penjelasannya, Pak Tama menghela nafas dan melihat ke arah Adam yang menatap ke arah lain seolah tidak peduli dengan apa yang mereka bicarakan.
“Akhirnya, saya pun berinisiatif membawa Adam bersama saya dan membiarkan orang tuanya yang juga merupakan adik ipar saya menyelesaikan masalah mereka. Namun karena dia sering membuat kekacauan hingga menganggu orang sekitar, akhirnya saya membiarkannya tinggal sendiri di sebuah kost. Meskipun begitu, saya selalu mengunjunginya setiap dua hari sekali. Saya mengajarinya bela diri dan juga cara mengendalikan emosi. Saya juga yang mengajarinya agar lebih baik diam agar tindakannya tidak melukai orang lain. Karena dia sangat temperamen dan akan berbahaya jika dibiarkan.”
“Lalu bagaimana terkait senjata tajam yang tidak seharusnya disimpan oleh Saudara Adam? Bukankah itu melanggar undang undang darurat no.12 pasal 2 tahun 1951?”
“Itu semua punya saya. Untuk pistol, saya tidak bermaksud memberikannya. Benda itu hanya tertinggal tanpa sengaja. Sedangkan untuk parang, saya sengaja membawanya untuk mengajarkan Adam bela diri yang benar. Benda itu memang sengaja saya simpan di rumahnya agar saya tidak perlu lagi membawanya ketika berkunjung ke rumah Adam. Dan darah yang Bapak lihat di sofa tersebut adalah darah Adam sendiri karena tidak berhati-hati saat menggunakannya. Tetapi saya dapat memastikan bahwa Adam tidak menggunakannya di luar pengawasan saya sehingga membahayakan orang lain. Dan jika pernyataan saya terbukti bersalah, saya yang akan bertanggung jawab atas hal itu,” tegas Pak Tama.
“Lalu untuk keterangan terkait Saudara Adam yang hilang selama seminggu?” tanya Polisi itu lagi.
“Emangnya polisi berhak tau segala hal yang dialami oleh warganya? Pertanyaan yang kalian ajukan, yang kalian sebut dengan integorasi itu menurut saya malah melanggar privasi. Udah ngga kasih solusi apapun, bisanya cuman nanya sama nangkep doang. Mentang-mentang polisi, jadi bisa nangkap orang seenaknya gitu? Tuan, Tuhan bukan?” dan celetukan bernada satir yang berasal dari Adam tersebut berhasil membuat seisi ruangan bungkam.
Penulis: Salsadilla Musrianti H.
Editor: Hasna’ Zakiyah A.