
Yoo Si-jin berpapasan dengan Kang Mo Yeon yang saat itu diperankan oleh Song Hye–kyo di reruntuhan bangunan nan rapuh setelah berai bom dari militer Amerika. Di dataran kering itu pula, suhu yang seharusnya panas menghilang, menyaksikan sebuah sepatu diikatkan oleh jemari pria tampan. Lantas pria itu menyapa, “Kau tidak apa-apa?”. Sudah episode ke-9 aku maraton film drakor Descendant of The Sun selama pandemi ini, di sebuah kota tua sebelah Sungai Nil.
Hampir tiga bulan aku dan kawan flat rumah menjadi tawanan pasukan Covid-19 dan selama itu pula kami menjadi permaisuri istana, dimana pangeran oppa-oppa Korea menyinggahi kehidupan kami yang mulai terasa hampa. “Ih… Song Joong Ki, kamu nggak peka banget sih!” sabet Ria di sebelah layar laptopku. “Yaah oppa gimana sih, ah jahat!” celetuk Ayu. “Percuma tampan tapi nggak berperasaan,” batinku.
Oh iya, kami tinggal berenam dalam satu flat, selain dua sahabatku tadi, masih ada mbak Jannah, kak Wilda, dan ukhty Sholehah. Tinggal di daerah ibu kota suatu negara memang sangatlah epic. Menjadi pusat peradaban dan perekonomian nan absolut, asal tanpa ada wabah yang membuncah. Dari dua tahun aku tinggal bersama mereka, mungkin masa inilah yang memberiku waktu lebih lama bersama.
“Nis, nanti sore kalo mau belanja ajak aku ya!” teriak mbak Jannah yang baru keluar dari kamar mandi sembari membetulkan jilbabnya. “Enggeh, siap mbak,” sahutku sambil menekan tombol space laptop yang sedang memutar drakor. Aneh, pikirku, biasanya mbak Jannah orang yang paling malas di antara kami selama pandemi.
Sekitar pukul empat lewat seperempat, kala orang-orang ramai berlalu lalang dan belanja di jalan Bawabat, tiba-tiba mbak Jannah mengagetkanku, “Eh Nis! Emm… kamu kenal sama mas Yusuf nggak?”. “Mas Yusuf presiden mahasiswa bukan?” tanyaku. “Bukan, Itu lho yang mandub kekeluargaan kita.”, “Ooo, yang biasa dihubungi saat masalah visa itu kan?”, “Iya, masak semalaman aku di-chat sama dia,” jelasnya. Aku berhenti sejenak, mencoba mencerna dengan baik, “Bentar-bentar! Berarti Mbak semalaman masak, karena…”, “Hiih, bukan, maksudku aku sama dia chating-an semaleman,” geramnya. “Biasa aja kali, dia kan mandub, ya wajar ajalah nge-chat pas ada kepentingan,” timpalku sambil masuk ke salah satu kios sayur. “Bukan, bukan masalah visa,” sela mbak Jannah. “Paling pol juga masalah kekeluargaan,” yakinku sembari acuh dan memilih bahan-bahan untuk masak sore ini. “Iya sih, cuma urusan kepanitiaan, eh tapi serius ada yang beda,” balasnya menekan kan nada dikata beda. “Ya udahlah, perasaan mbak aja kali, emang dia bilang apa sih?” responku sambil fokus menghitung lembaran pound untuk membayar belanjaan di kasir. “Dia tanya, apa rencanaku setelah lulus S1 dari sini,” terangnya. “Hop, stop, sek! Kita lanjutkan setelah bayar,” fokusku terpaksa pecah gara-gara cerita ‘gantung’ tadi.

Empat tahun di Mesir benar-benar membuatku tak ingin mengingat masa lalu, tentang aku sewaktu masih di Indonesia, tanah air yang sangat aku kagumi. Terlebih setelah eksplorasi alam bersama seseorang yang pernah juga aku semai rasa dan asa. Hingga perjalanan langit selama empat belas jam mengubah tiap detik menjadi sangatlah lama, entah jamku yang rusak sore itu atau memang senja nampak berbeda dari biasanya.
Berawal dari “Nis, boleh minta data anggota panitia seminar?” tanya Dimas dalam notifikasiWA-ku. Pria berperawakan kurus, rambut lurus, dan kulit kuning langsat itu membuatku merasa aneh, harusnya dia bisa meminta data tersebut lewat Surjo, selaku sekretaris yang merangkap sebagai teman akrabnya. “Boleh, bentar ya!” balasku cuek. Setelah terkirim, dia memberi jawaban, berupa ucapan terima kasih yang aneh tapi menarik menurutku, yaitu sebuah gambar karya tangannya sendiri, yang berisi banyak orang dan bertuliskan “Terima kasih! Dari kami seluruh panitia seminar”. Kadang lisanku tertawa sendiri teringat kejadian itu, tapi tidak lama setelah itu, kelopak mataku berduka.
………..
Penulis: Rizal Alawi
Editor: Luhur Kharisman