Kenang Dalam Senggang (End)

           Malamnya, setelah sukses melaksanakan kewajiban dan merealisasikan planning rebahan, aku nonton bareng adikku di kamarnya. Adikku perempuan, Nela namanya, kami hanya selisih 3 tahun. Jadi tidak terlalu signifikan perbedaan kami saat dihadapkan tontonan  bergenre romance. Saat pertengahan film, aku mendapat notifikasi WA dari Dimas. Kali ini aku penasaran, aku coba langsung buka “Tadi di pantai nggak asik nggak ada kamu, jadi beli oleh-olehnya cari yang deket rumahmu. Udah aku cantolin di pintu gerbang, jangan digantung ya!” pesannya. Aku agak tersipu kala itu, tapi kutahan karena ada adikku “Aku balik ke kamar dulu ya” aku berusaha mengalihkan rasa salting dari adikku. “Nggak nanggung? bentar lagi abis nih.” Sahutnya. “Biar penasaran dulu,” elakku sembari menutup kamar dan menuju pintu gerbang rumah yang telah dikunci malam itu. Aku harus segera mengambil bungkusan ini, sebelum orang tuaku tahu.

            Kotak putih mungil yang dibalut tas kresek kecil, terkesan seperti souvenir mahal dari suatu daerah tertentu. Ternyata jam tangan isinya, arloji cewek tepatnya. Ada tulisannya juga di sana “Semoga jamnya tepat, aku masih hanya bisa memberimu waktu”. Ada yang aneh mulai saat itu. Kotak mungil itu jadi wah, kresek kecil jadi mewah, dan notifikasi chat darinya jadi indah. Dan tidak butuh banyak waktu, setelah itu aku setuju dengan hatiku untuk menerimanya. Sepekan, dua pekan kami jadian, berbulan-bulan kami bertahan, kami tidak tahu kenyataan di depan, tapi kami yakin di sana ada harapan.

***

            Mbak Jannah berhasil mendapatkan gelar Lc-nya pada bulan November 2020, dan melanjutkan S2 sesuai hasil perencanaan studi bersama kedua orang tuanya yang juga menyetujui untuk bertunangan setelah setahun lulus S1. Benar-benar ada harapan buatnya dan mas Yusuf. Mereka sama-sama melanjutkan S2, pun kabarnya 2 bulan lagi mereka menikah, tepat sepekan setelah wisuda.

            Aku, Ayu, dan Ria juga mencoba menjalani hidup sesuai keinginan, Ria memutuskan melanjutkan S2, Ayu pulang karena faktor ekonomi keluarga, dan aku sama dengan Ayu, pulang ke Indonesia. Rasanya seperti memulai hidup dari nol, aku sebagai lulusan  universitas tertua di dunia, kini harus berhadapan langsung dengan sudut pandang masyarakat. Aku seorang perempuan, bagiku sulit untuk berdakwah di masyarakat tanpa ada penguat. Jadi dalam keseharian, aku putuskan untuk membantu orang tua. Syukurlah, hal semacam itu tidak lama, hanya berjalan tiga pekan. Hingga suatu dejavu mengagetkanku. Mimpi tentang aku pulang kini lengkap ceritanya, dengan adanya seorang yang menawariku untuk dipinang, dan berakhir senang.

            Sekarang aku bekerja sebagai manajer di perusahaan percetakan suamiku. Kami menjual jasa desain grafis, printing, hingga penerbitan. Kejadian 5 tahun lalu dan hari-hari setelahnya telah terbayarkan. Ya, dulu aku diputus oleh lelaki yang pernah kusemai asa dan rasa, yang mana ia sekarang di hadapanku, menerima pelanggan dan mengarahkan karyawan. Aku mulai sedikit demi sedikit memahami alasannya. Ia hanya mau melihat aku bahagia, sama seperti saat memberi jam tangan dan menghilang saat aku pergi membawa perasaan. Dia  tahu, kalau sebagai anak rantau aku harus fokus menggapai cita, bukan cinta

           “Benar-benar seperti bunga di musim semi. Tak peduli berapa banyak dan lamanya daun yang gugur, ia tetap mekar pada waktu yang indah.”

            Hingga di atas etalase kasir studio cetak, aku masih sering mengamalkan ilmu kelas menulis online. Dengan mengoptimalkan waktu luang  menulis cerita, dan berharap suatu saat tulisan ini ada yang membaca.

Penulis: Rizal Alawi
Editor: Luhur Kharisman