Tak Kutemukan Surga di Telapak Kaki Ibu

Foto: Livehealthily.com

Siang itu mataku terbuka, setelah selimut menghangatkan tubuhku semalam suntuk. Aku  memandang keluar jendela, melihat banyak anak yang bermain. Suaranya seperti pabrik; bergemuruh dan tidak pernah berhenti. Anak-anak tersebut hanya berhenti bermain ketika ibunya datang menjelang malam sambil membawa tongkat, kemudian memekikkan suara yang membuat gerombolan anak-anak tersebut berhamburan. Aku tidak suka ibu itu marah.  Jika anak-anak itu tetap ingin bermain. Ia akan singgah lalu bersembunyi di belakang rumahku. Kuajak mereka masuk dan bermain di rumahku.

Di waktu kecil aku tidak pernah segembira anak-anak depan rumahku. Aku menganggap bahwa kehidupan anak kecil sama saja dengan kehidupan di tepi neraka. Ibukulah yang memberikan pengalaman buruk untukku. Ia tidak pernah berhenti mengeluarkan kata-kata kasar dan terus memukulku.

Umurku sembilan tahun waktu itu. Saat itu, dapur terlihat kotor. Ibuku datang dengan wajah memerah dan di tangan kanannya memegang sapu.

“Anak bodoh. Kau seolah-olah hidup seperti orang dewasa.”

Aku memilih diam dan tidak menjawabnya. Menjawab apapun akan membuatnya semakin marah. Ibuku memang seperti itu. Aku sudah beruntung jika hanya dimaki berjam-jam. Jika berbuat kesalahan lagi, sapunya akan melayang lalu terjun di tubuhku. Dan aku hanya bisa menangis menahan sakit. Terkadang ia akan berhenti memukul setelah sapunya tak bisa lagi digunakan.  Bagiku itu pengalaman menjadi anak kecil yang buruk. Bayangan-bayangan siksaan terus melekat di pikiranku. Rasa takut juga selalu menghantui. Saat itu aku ingin segera menjadi orang dewasa.

Dan kukira menjadi dewasa akan menghindarkanku dari segala keburukan. Ya, aku bisa lepas dari siksaan ibu, tapi tidak dengan siksaan yang lain. Ayahku baru saja menjadi penggangguran setelah atasan memecatnya dengan alasan perusahaan sedang pailit. Uang tabungan yang tidak banyak selama menjadi satpam ia katakan akan digunakan untuk berinvestasi bersama teman-temannya. Namun, setiap kali pulang ke rumah matanya memerah dan mulutnya beraroma sampah.

Pacarku pun turut meninggalkanku. Padahal aku sudah berjanji akan menikahinya. Saat itu di Taman Pahlawan. Lampu taman di setiap sudut menyala dengan terang. Aku mencari sudut yang jauh dari kerumunan. Aku menyulut rokok sambil menunggunya datang. Ia datang lalu duduk di sampingku, namun sedikit menjaga jarak. Wajahnya terlihat gugup, tangannya kaku, bibirnya membeku, sementara ia terlihat ingin memulai pembicaraan. Aku memandanginya dengan dekat.

“Apa kau masih mencintaiku?”

Kulihat wajahnya berubah. Ia lalu menoleh ke kiri, melihat anak-anak bermain bersama bapak dan ibunya. Lalu kembali menoleh ke arahku. Nafasnya terasa sangat berat.  

Ia lalu berkata, “Aku tidak tahu apa yang terjadi.”

Aku berhenti memandanginya, mengambil  rokok di sakuku lalu menyulutnya kembali. Angin bertiup dan pohon bergoyang, sepertinya akan turun hujan.  Ia lalu melanjutkan.

“Aku tidak ingin berpisah denganmu, tetapi aku juga tidak ingin membuat keluargaku marah. Kau tahu maksudku?”

Tentu aku tahu maksudmu. Aku tahu bahwa kau sebenarnya ingin mengakhiri hubungan ini tanpa embel-embel apapun. Aku memang selalu terlihat lemah di hadapannya. Aku tidak pernah bisa mengatakan apa yang harus kukatakan. Aku tidak pernah mengatakan tidak atau membantahnya.

Orang tuanya sepertinya ingin melihat anaknya sengsara. Aku pun ingin mengutuk orang tua seperti itu, karena anaknya berhak hidup sesuai dengan kehendaknya sendiri. Aku juga ingin mengatakan jika ia tidak seharusnya berada di bawah bayang-bayang orang tuanya; sebab orang tua bukanlah Tuhan yang bisa melihat masa depan anaknya. Aku ingin menikahinya, dengan latar belakang keluargaku -yang buruk-  aku ingin menjadi orang tua yang lebih baik nantinya, tidak seperti orang tuaku.

Kami dua tahun pacaran dan tidak pernah bertengkar. Aku tidak pernah berbuat bajingan dengannya. Aku hanya pernah berusaha menciumnya, kudekatkan wajahku ke wajahnya, kulekatkan tanganku ke tangannya, tetapi raut wajahnya berubah. Aku lalu urungkan keinginan tersebut.

Foto: Riliv.co

Itu terakhir kali kami mengobrol. setelah itu ia menghilang dan tak pernah memberi kabar, tentu karena hubungan kami sudah berakhir. Sebagian pemberiannya kukubur, sebagian lagi kutenggelamkan lewat lubang sampah di kamar mandi.

Sementara ibuku pergi meninggalkan rumah, lari bersama lelaki yang ia harap akan memberinya kehidupan yang layak dan bahagia. Aku harap ia benar-benar hidup bahagia. Di hari terakhir sebelum meninggalkan rumah, aku berdebat dengannya. Aku katakan padanya bahwa perempuan yang meninggalkan lakinya seharusnya diikat di pohon lalu setiap orang lewat diharuskan melemparkan batu ke tubuhnya. Ia hanya menjawab, “Laki-laki tak berguna seperti kau dan ayahmu pantas ditinggal.” Setelah itu ibuku pergi dan tak pernah kembali.

Aku dan ayahku kini hanya tinggal berdua. Kami tinggal tepat di samping lapangan tempat anak-anak bermain. Ingatan yang paling jelas tentang tetanggaku sepertinya kudapat saat ibu dari anak-anak kecil yang bermain di lapangan datang untuk menjemput anak-anak mereka. Ibu itu menghampiriku, ia berpakaian panjang, rambutnya terikat, alisnya terangkat, matanya terlihat jelas; seperti sedang meneropong burung.

Ia sepertinya tahu bahwa jika aku sering mengajak anaknya masuk ke dalam dan bersembunyi di rumahku. Ibu itu berhenti tepat di depanku lalu menatapku sejenak.

“Di mana ibumu?”

“Di sana,” kujawab. Aku mengangkat tanganku dan jariku mengarah ke arah yang aku sendiri tidak tahu di mana.

“Lalu ayahmu?”

“Dia ada di rumah.”

“Katakan padanya bahwa ia tidak seharusnya membiarkan peliharaannya berkeliaran di luar.”

Aku rasa Anda akan menyesal berkata seperti itu.

Ia lalu pergi meninggalkanku. Wajah dan suaranya masih terekam dengan jelas. Dan aku tahu persis letak rumahnya. Satu hari setelahnya aku memutuskan untuk mengantarnya ke neraka. Aku hanya ingin mempercepat langkahnya ke tempat tersebut. Tempat yang disebut-sebut orang sebagai wahana setan. Tuhan tahu persis apa yang aku inginkan.

Penulis: Hari Bakti
Editor: Hasna’ Zakiyah Amany