Budaya Ngaret di Masisir

Sumber: @cute.ngrm

“Santai saja masih jam 13.00, undangannya kan jam 13.30, acara mungkin akan dimulai  pukul 14.30.”  Seperti itulah kalimat yang sering terdengar di kalangan Masisir. Sudah menjadi hal yang lumrah jika kegiatan-kegiatan yang dilakukan Masisir itu menganut jam karet. Tentu, masih ada beberapa orang yang tetap mendisiplinkan dirinya untuk datang sesuai jadwal undangan. Walaupun yang terjadi malah orang-orang yang tepat waktu ini justru dizalimi, karena mereka harus menunggu peserta lain yang terlambat berjam-jam agar acara dimulai.

Kemudian saya melihat ada tiga tipe kepribadian dominan Masisir yang menganut jam karet ini. Pertama, tipe Masisir yang memang suka ngaret untuk datang ke suatu undangan. Tipe ini mungkin orang-orang yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan tidak peduli bagaimana perasaan orang yang menunggunya. Di sisi lain kepribadian ini juga muncul karena tidak adanya sanksi sosial dari tindakan tersebut. Sehingga, orang-orang penganut jam karet ini, tidak pernah merasa bersalah dan berusaha untuk berubah.

 Kedua, tipe Masisir yang disiplin untuk datang tepat waktu. Namun lingkungan sekitarnya terbiasa ngaret, akhirnya ikut terpengaruh. Ini adalah tipe yang paling banyak ada di Masisir. Banyak dari mereka sebenarnya ingin datang tepat waktu, tetapi sering kali kedatangannya itu tidak dihargai. Justru orang-orang yang terlambatlah yang malah mendapat apresiasi, sebab ditunggu-tunggu oleh orang yang tepat waktu. Ya begitulah kenyataan yang selalu terjadi di Masisir. Penganut jam karet akan ditunggu sampai berjam-jam, Seakan mereka adalah orang penting yang menentukan dimulai tidaknya sebuah acara.

Ketiga, tipe Masisir yang beranggapan dapat datang tepat waktu, namun mereka tidak memperhatikan estimasi waktu yang dibutuhkan. Misalnya, mereka meyakini dengan cukup 25 menit saja dapat datang tepat waktu di lokasi. Tetapi mereka tidak memperkirakan hal-hal tidak terduga yang sering terjadi di perjalanan. Seperti lamanya menunggu kendaraan, macet dan lain-lain. Ditambah lagi biasanya orang-orang seperti ini justru terhanyut dalam kesibukannya, sehingga tidak sadar jika waktu untuk datang ke undangan tidak banyak lagi. Tipe ketiga ini serupa dengan hasil penelitian dari Universitas Washington tentang teori Time Based Prospective Memory (TBPM) yang ditulis oleh Republika.co.id. Dalam penelitian ini setiap orang diberikan kesibukan yang menyita waktu dan konsentrasi, seperti puzzle, akan tetapi mereka diberi keleluasaan mengecek jam. Hasilnya banyak dari mereka tenggelam dalam kegiatannya sehingga lupa mengecek jam. Seperti itulah yang dilakukan tipe ketiga ini, mungkin mereka tenggelam ketika sedang melihat-lihat media sosial atau kesibukan lainnya yang menyita fokus mereka sehingga lupa mengecek jam.

Dan ironisnya, ketika saya melakukan wawancara kepada sebagian Masisir tentang permasalahan-permasalahan Masisir. Sedikit sekali yang mempermasalahkan budaya ngaretini. Kebanyakan dari mereka menganggap ini bukan masalah dan tidak perlu dibahas. Bahkan, ada juga yang tidak sadar jika acara-acara di Masisir ini selalu ngaret, karena saking terbiasanya. Saya pun langsung tersadar jika ngaretsudah menjadi budaya Masisir.

Dari tiga tipe kepribadian di ataslah ngaret menjadi budaya. Dari satu orang  atau satu komunitas ditularkan ke yang lain. Padahal masih banyak budaya  –positif­ – dari Indonesia yang perlu kita lestarikan di Mesir ini selain budaya ngaret. Pada dasarnya, kepribadian-kepribadian ini juga muncul karena sikap “bodo amat” dari Masisir sendiri, sebab tidak adanya keinginan untuk mengubah atau menghilangkan budaya negatif seperti di atas. Malah yang sering terjadi jutru rasa segan untuk menegur orang-orang penganut jam karet, karena kepribadian –negatif – tersebut telah menjadi hal yang maklum di kalangan Masisir.

Memang, kebiasaan ngaret bukan hanya terjadi pada Masisir atau masyarakat Indonesia pada umumnya. Dikutip dari tirto.id, pakar psikologi mengungkapkan, kebiasaan seperti itu lumrah dilakukan oleh semua manusia. Sebuah survei tahun 2006, menunjukkan 15-20 orang Amerika adalah tukang ngaret terlebih jika berkaitan dengan pekerjaan.

Sumber: @cute.ngrm

Terlepas ngaret merupakan budaya telah mendarah daging, serta terjadi pada semua orang. Alangkah baiknya jika kita mulai membiasakan diri untuk tepat waktu, dimulai dari diri sendiri dan kegiatan-kegiatan kecil di lingkungan kita. Sebab “karakter kita merupakan gabungan dari kebiasaan-kebiasaan kita” (Citation Ste94/I 1057). Juga  tanamkan dalam pikiran, jika kita terlambat itu akan berdampak buruk bagi diri sendiri. Misalnya dicap tukang ngaret oleh rekan-rekan, dicap tidak disiplin dan memiliki manajemen waktu yang buruk, tidak dipercaya lagi jika membuat janji, dan dampak-dampak buruk lainnya yang merugikan diri sendiri. Adapun dampak buruk yang merugikan orang lain, misalnya, membuat orang menunggu dan membuang waktu mereka, karena kita tidak tahu mungkin saja orang lain telah mengorbankan waktu atau kegiatan lainnya hanya untuk menunggu kita.

Agar budaya ngaret sedikit berkurang dari Masisir. Harusnya ada apresiasi untuk orang-orang yang sudah hadir tepat waktu, dengan dimulainya acara sesuai dengan waktu yang tertera di undangan. Serta diberlakukannya sanksi bagi orang-orang yang terlambat  –apapun alasannya– misalnya yang terlambat wajib membawa snack, membayar denda, dan lain sebagainya. Tentunya sanksi yang dapat memotivasi agar setiap orang ingin datang tepat waktu dalam setiap acara.

 Di sisi lain faktor lingkungan seharusnya benar-benar menerapkan disiplin waktu. Seperti kegiatan-kegiatan yang ada di Masisir pun harus dimulai dengan tepat waktu, sedikit atau banyaknya peserta yang datang. Saya pernah mendengar dari seorang pemateri dalam sebuah acara Masisir, beliau berkata, “Acara di Masisir itu kalo gak ada yang datang setelah diberi waktu dispensasi, maka bubarkan saja acaranya.”  Dan saya sangat setuju dengan ide ini. Jika semua elemen Masisir serentak menerapkan pembubaran acara setelah waktu dispensasi habis dan tetap tidak ada yang datang, maka lambat laun tiga kepribadian Masisir yang saya sebutkan tadi akan hilang. Yang ada hanya satu kepribadian yaitu, disiplin tepat waktu. Karena tidak dapat dipungkiri, semua Masisir membutuhkan setiap kegiatan-kegiatan yang diadakan oleh setiap elemen. Karena rasa membutuhkan itu, setiap Masisir tidak ingin kegiatan-kegiatan tersebut hilang karena dibubarkan. Pasti setiap orang akan merasa bertanggung jawab pada setiap kegiatan yang ingin dia hadiri dan berusaha tepat waktu.

 Mungkin kita juga perlu membuat slogan “AYO TEPAT WAKTU, KARENA TEPAT WAKTU MENUNJUKKAN SIAPA DIRIMU” dan dikampanyekan bersama-sama secara serentak serta terus menerus. Agar setiap orang sadar jika budaya ngaret adalah sebuah masalah dan tepat waktu adalah hal yang penting. Seperti ucapan William Shakespeare “lebih baik datang 3 jam lebih awal daripada terlambat 1 menit.”

Penulis: Aan Darwati
Editor: Hasna’ Zakiyah Amany

One thought on “Budaya Ngaret di Masisir

  1. Jadi ingat Film Interstellar
    Di ending film tsb, Cooper baru tersadar bahwa anaknya (murph) telah melewati waktu lebih lama.
    Yg menjadi kekhawatiran saya adalah ketika semua masisir datang tepat waktu. masing2 dari mereka sudah melewati waktu dan tempat yg beda2, sehingga pertumbuhan umur mereka berbeda2. Lol

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *