Cantik Tidak Sama Dengan Bahagia

Foto: Studentedge.org

Siapa di dunia ini yang tidak ingin menjadi cantik? Kecuali para lelaki, rasanya tidak ada perempuan yang menolak menjadi cantik, dan hampir semua orang sepakat bahwa yang cantik akan memiliki nilai lebih. Perempuan cantik sering dianggap lebih (mudah) bahagia. Misal dalam mencari pekerjaan, Hamermesh seorang ekonom AS dalam penelitiannya menyebutkan bahwa orang-orang yang dianggap tidak menarik rata-rata memperoleh penghasilan 10% lebih rendah dibanding mereka yang dianggap menarik (yang memenuhi standar kecantikan di masyarakat). Pada penelitiannya yang lain, ia juga menyebutkan bahwa perempuan cantik lebih mudah dalam mencari pasangan yang cerdas dan berpenghasilan tinggi.

Sebenarnya cantik itu relatif, artinya setiap orang punya standar cantiknya masing-masing. Masalahnya pada saat yang sama, kita dicekoki bahwa cantik itu ada standarnya, dan sialnya standar perempuan cantik berpatok pada model iklan produk kecantikan dan fashion, dengan gambaran perempuan yang berperawakan tinggi, berkulit putih, berhidung mancung, memiliki bentuk tubuh yang langsing. Sehingga semua seakan-akan berlomba untuk mencapai standar cantik yang demikian. Bagi para pria, tentu memandangi perempuan dengan standar cantik yang demikian adalah bagian dari ‘cuci mata’.

Standar inilah yang kemudian membuat perempuan berlomba-lomba mencari kebahagiaannya dengan mempercantik diri. Karena menurut pandangan mereka, bahagia bisa lebih mudah didapat ketika berbekal cantik. Tidak hanya itu, faktor lingkungan juga  mendukung arah pandang mereka, bahwa yang cantik akan selalu menang dan tidak pernah salah.

Sudah banyak riset yang menyebutkan bahwa perempuan cantik memiliki privillege lebih. Sayangnya, kebanyakan orang hanya memandang dari segi bahagia yang ia nilai sendiri. Semisal, bisa makan enak sana sini gratis, kalau butuh tumpangan tinggal telfon, kalau lagi nangis ada yang menghibur, setiap hari kolom chat selalu ramai layaknya asrama putra, dan lain sebagainya. Tapi apakah memang se-enak itu hidup mereka? Apa mereka makan enak dengan hati yang enak juga? Jawabannya tidak, karena dibalik itu semua tentu ada harga yang harus dibayar. Para perempuan cantik itu kemungkinan besar enggan menceritakan panjang lebar hal rumit yang terjadi di belakang.

  Berdasarkan sebuah cerita seorang teman, yang semua sepakat bahwa dia memiliki wajah cantik diatas rata-rata, dengan segala tunjangan fasilitas mewah, diantaranya antar jemput gratis, makan enak gratis, pulsa gratis, dan lain sebagainya yang hampir semuanya gratis. Sepanjang ia bercerita, saya bahkan tidak menemukan di mana titik ‘bahagia’ dari menikmati semua fasilitas yang tersedia itu. Alih-alih mengucapkan syukur atau merasa bangga, tidak jarang ia bercerita dengan menangis tersedu-sedu.

Sambil tersedu, ia bercerita : “Masalahnya adalah aku tiba-tiba merasa mendapatkan netizen julid yang unlimited. Tanpa batas ini maksudnya mulai dari teman dekat sampai orang yang bahkan aku tak kenal. Ini tidak terjadi satu dua kali, bahkan kerap terulang, hingga bukan berhenti pada permasalahan pribadi, tapi sampai berujung diskriminasi. Masa aku dimusuhi karena aku cantik! Dan kamu tau betapa naasnya, ketika kehilangan teman dekat hanya karena orang yang disukainya menyukaimu. Sedangkan, kamu bahkan sama sekali tidak merespon laki-laki itu.”

Foto: Self.com

Masalah akan bertambah ketika laki-laki yang menyukaimu ternyata sudah memiliki pasangan, bahkan dengan segala kebejatannya dia terus mengejarmu sekuat tenaga, apalagi ditambah bumbu “Aku pasti mutusin dia kok” di atasnya. Kalau menunya bejatnya spesial, pasti akan ditambahkan “Demi kamu” atau “Dia nggak ada apa-apanya dibanding kamu”.

Akhirnya perempuan-perempuan ini akan mengalami semacam Laporan Pertanggung Jawaban. Segala fasilitas yang diterima ternyata bukan merupakan pemberian cuma-cuma, tulus, ikhlas dan tanpa pamrih. Artinya, itu hanya manis diawal tapi pahit diakhir. Karena ia akan meminta balasan berupa perasaan. Jelas, ia berharap apa yang telah diberikannya selama ini bisa membuat cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.

Nah, hal ini akan menjadi lebih sulit manakala terjadi dilingkungan pertemanan. Ini adalah musibah, ketika segala hal baik yang kamu lakukan atas nama pertemanan kandas hanya karena kalimat, “Aku selama ini suka sama kamu”. Hosh! Apalagi, ketika ia sungguh amatir dengan menghilang setelah mendapat penolakan. Padahal menolak dan ditolak sama-sama pahit. Adaptasi dengan situasi yang melulu canggung adalah fase baru yang harus dihadapi. Ini masih satu, kalau sering berulang? ya adaptasi ini juga harus diulang lagi, dan itu sungguh proses yang melelahkan dan buang-buang waktu. Kehilangan rasa percaya dalam pertemanan adalah dampaknya.

Sampai sini masih merasa perempuan cantik lebih bahagia? Apa potret kebahagiaan hanya bisa dinilai dari paras? Jelas tidak. Bagaimana bisa kita menitik beratkan bahagia pada paras? Toh nyatanya, kecantikan yang kau dambakan juga bisa mencelakakanmu. Cantik secara fisik juga memiliki sifat fana, artinya ia akan pergi seiring berjalannya waktu. Maka memiliki paras cantik bukanlah barometer kebahagiaan seseorang. Kunci utamanya ada pada penerimaanmu terhadap dirimu sendiri.

            Mencintai diri sendiri, dengan mengenali diri dengan baik merupakan kunci dari sebuah kebahagiaan. Tidak perlu memandang perempuan lain lebih cantik. Karena pada dasarnya, bahagia tidaknya dirimu bukan sekedar dinilai dari fisik. Tapi dilihat dari bagaimana kamu mampu mencintai dirimu, mensyukuri lebihmu,  serta menerima segala kurangmu.

Redaktur: Is’ad Durrotun Nabilah
Editor: L.