
Selesai mandi, buka pintu lemari baju, menatap dengan seksama tumpukan baju yang ada, sambil berfikir keras ‘ pake baju apa ya hari ini?’ memilih dan memilah baju, kemudian terbersit “ duh nggak punya baju” – mbak, itu lemari baju, isinya baju ( rok, kerudung, celana, dst) semua, nggak ada taplak meja – sampai akhirnya mengambil pakaian yang sebenarnya itu-itu aja. Selesai mengenakan pakaian, berpindah ke depan cermin, melaksanakan ritual wajib pagi hari, mematut wajah dengan banyak perlengkapan, secara berurutan, mengusapkan air pembersih muka, suncream, gambar alis, foundation, bedak, eye shadow, eye liner, maskara, dan terakhir mempermanis warna bibir dengan lipstick.
Semua selesai, bersiap berangkat dengan semangat, keluar rumah, turun tangga, sampe didepan gerbang, tiba-tiba kaki berhenti melangkah, putar arah dan balik badan, masuk lagi ke dalam rumah, ganti baju dengan alasan merasa nggak pede! Kapan terakhir kali mengalami kejadian seperti ini? Melihat atau mendengar kejadian macam ini? Tadi pagi? Kemarin? Minggu lalu?
Jadi perempuan itu susah, hal paling pribadi macam milih baju aja bisa jadi masalah, tolong kalian – khususnya para lelaki – nggak usah menambahi masalah.
Begitu selesai membaca dua paragraf di atas, pasti akan ada yang menanggapi ‘ enggak selamanya perempuan berdandan itu untuk terlihat cantik dimata orang lain, kami berdandan untuk kebahagiaan diri sendiri’. Kepada mereka saya angkat topi, dan menghaturkan saluté, selamat sudah merdeka sejak dalam pikiran. Sebagian yang lain akan menanggapi ‘ halah… emang merekanya aja yang lebay, kita dandan cuma lima menit. ‘ Mbak, cewek yang dandannya lima menit itu jarang. Sedikit. Makanya produsen make up, tabloid fashion dan kecantikan, jadi perusahaan besar. Kalau banyak cewek kayak kalian, L’Oreal, Maybelline, Shepora, Wardah, Emina, Mustika Ratu, Hermes, Gucci, Luois Vuitton, Rabbani, Shopie Martin – lho kok saya hafal – nggak akan terkenal.
Itu baru satu kata perempuan, kalo ditambah menjadi perempuan muslimah, deretan masalah – yang sering kali berawal dari mulut pembual pseudosains – akan menemani setiap hari. Saya teringat kalimat yang malam itu diucapkan seorang teman, dengan agak tertawa, dia bilang : ‘ ini ada meme bagus, kalau senyum itu ibadah, maka kenapa harus engkau tutupi wajahmu?’. Meme itu karya akun Nurhadi Aldo, akun Capres nomer urut sepuluh, kalau saya tidak salah ingat. Kalian paham kan apa yang mau saya tulis? Benar. Apalagi kalau bukan Cadar! Sehelai kain yang bisa membuat dalil-dalil berceceran.
Pertama kali mendengar kalimat ini, saya merasa ada yang mengganjal, ada yang tidak pas. Tapi apa? Kalimat senyum adalah ibadah berasal dari hadits terkenal, kemudian jika dijabarkan menjadi : senyum itu shadaqah, shadaqah itu ibadah, maka kesimpulannya senyum adalah ibadah. Sampai disini semua benar, menjadi bermasalah ketika kesimpulan tersebut dijadikan awal kalimat majemuk bertingkat. Dan mempertentangkannya dengan salah satu cara – meskipun oleh sebagian pakar tidak dianggap sebagai syariat dan ibadah – untuk menutup aurat.
Baiklah, senyum itu ibadah. Dan cadar itu – sekali lagi oleh sebagian pakar – tidak dianggap wajib. Saya sepakat, masalahnya ada hal yang diabaikan oleh orang-orang membuat dan mengamini kalimat diatas. Pertama, saya menyebutnya sebagai dalil salah sasaran. Hadits itu ada konteksnya, konteks hadits itu berkisah tentang orang miskin yang nggak punya uang, dan ingin shadaqah. Kemudian diberi jalan keluar oleh Rasul, senyum itu shadqah. Hadits itu dalil khusus bagi orang-orang yang tidak punya uang, tidak bisa diaplikasikan secara serampangan, terlebih kepada orang kaya. Hadits menyegerakan membayar hutang itu bagi orang yang berhutang, hadits anjuran mengikhlaskan hutang itu bagi orang yang dihutangi, jangan dibalik-balik. Bayangkan ketika kamu menagih hutang, kemudian mendapati jawaban : “ kata Nabi hutang itu baiknya diikhlaskan” . saran saya kalo sampe terjadi hal seperti itu, keplak wae nggo kitab shahih Bukhari. Kedua, senyum itu (bisa dinilai) ibadah. Saya tambahi frase bisa dinilai, karena tidak semua senyum itu ibadah. Senyum ganjen garangan yang lagi modus, senyum meremehkan dari orang-orang sombong, apalagi senyuman Mantan yang bikin gagal move on, kan blas itu sama sekali nggak ada nilai ibadahnya.
Tentu saya tidak sedang mengkampayekan cadar, atau menganggap wajah itu aurat. Dan saya mengikuti pendapat pakar yang mengatakan cadar tidak wajib dan wajah bukan aurat, yang ingin saya katakan, kalaupun cadar bukan ibadah dan wajah bukan aurat, ya hargai saja pilihan mereka untuk menggunakan cadar sebagai pilihan pribadi, yang nggak perlu kalian campuri, apalagi dengan dalil-dalil. Anggap saja cadar sebagai fashion. Case closed.
Jadi perempuan itu udah dibuat ribet oleh sistem – patriarki itu nyata – nggak usah nambah-nambahi masalah. Sewaktu ada kejadian pelecehan, hal yang pertama kali dipertanyakan selalu mengenai cara berpakaian perempuan, apakah keluar sendirian, dan kepribadiannya. Padahal statusnya adalah korban, KORBAN. Jika perempuan yang jalan sendirian, kemudian diganggu dijalanan, yang seharusnya dihukum karena salah adalah pelakunya, penggangunya, bukan malah menyalahkan dia jalan sendirian, pakaiannya mengundang. Harusnya para pengganggu diberi pemahaman bahwa menghormati orang lain itu kewajiban, bukan malah melarang perempuan keluar rumah. Atau tontonlah acara miss world, para peserta umumnya dituntut untuk memiliki 3B beauty, brain and behaviour ( ditambah shalelah jika dalam miss world muslimah). Itu artinya perempuan dituntut sempurna – padahal kesempurnaan hanya milik Tuhan – dan mampu melakukan segalanya. Adakah acara yang sama untuk lelaki? Menuntut lelaki untuk ganteng, cerdas dan berperilaku baik ?
Jadi perempuan itu – sering merasa – serba salah, berhenti menambahi kami masalah. Dandan cantik dikatain, cewek nggak perlu dandan berlebihan, nanti mengundang fitnah. Nggak dandan dibilang ‘ cewek kok nggak bisa dandan’. Pakai baju serasi satu warna dikomentari ‘ harus banget dari kerudung sampai kaos kaki warnanya sama? ‘ , pake baju mengandalkan kenyamanan dikatain kayak jemuran berjalan. Bales setiap chat yang masuk dianggap kode mau dideketin, giliran nggak dibales dianggep sombong.
Mbak, Sebenarnya tidak semua omongan dan komentar orang bertujuan buruk, tapi kalau ada cangkem elek – meminjam istilah Gus Baha’- yang berkomentar tentang hal pribadimu, yang sama sekali nggak ada hubunganya dengan hidupnya, tarik nafas, berikan senyuman paling maut, kemudian katakan dengan pelan dan tegas : cangkemu bukan urusanku!
Penulis L.K.