Mempertahankan Porsi Kepercayaan Masyarakat

Foto: idntimes.com

Ada obrolan menarik saat saya berkunjung ke Gresik menghampiri teman lama kemarin. Satu pembahasan yang ingin membuatnya dapat menghentikan harapan masyarakat kepada kaum santri yang telah lama mengakar. Harapan yang membuatnya berdebat untuk tidak menyamaratakan derajat kualitas keilmuan santri. “Masak iya lulusan Tebuireng ndak bisa langsung jawab persoalan Tasawuf.” Argumentasinya tidak mau kalah, sehingga teman saya berusaha menjelaskan, seorang siswa yang pandai pada bidang eksak juga tidak bisa langsung menjawab saat ditanya berapa hasil dari cos ke tangen, sin ke cos, atau semacamnya. Sama halnya dengan santri, menurutnya. Persoalan ini memang tidak pernah habis untuk dibahas, baik dari sudut pandang santri yang menolak, sehingga ia sadar pengetahuannya akan terbatas terhadap apa yang ditekuninya, atau dari perspektif santri yang berusaha mewujudkan harapan masyarakat.

Perdebatan kami menyoal kualitas santri, membawa kami pada persoalan relevansi santri di zaman ini. Saat itu kami sedang mengkaji tokoh alias gibah ilmiah, menyayangkan masih adanya orang yang mengaji dan memahami agama secara otodidak, sehingga fenomena tersebut berdampak pada porsi kepercayaan masyarakat yang dibangun atas pribadi seorang santri. Menurut saya, persoalan ini ada hubungannya dengan dampak dari aktivitas media sosial. Mengapa? Karena masyarakat sudah bergantung pada teknologi yang kebanyakan diisi oleh aplikasi media sosial. Selain itu, gairah keberislaman masyarakat saat ini juga mengalami fase overdosis, yang apabila seseorang melakukan suatu hal dan hal tersebut tidak sama persis dengan perilaku nabi –mereka meganggap– jika itu merupakan tindakan yang dilarang, atau bualan-bualan kembali pada Quran dan sunah.

Pada kenyataannya, saat ini masyarakat lebih percaya pada kaum otodidak yang menjual teks agama. Lantas bagaimana kaum santri dapat mempertahankan kepercayaan atas tanggung jawab moral dan intelektual pada Masyarakat? Ada dua upaya dasar yang dapat dilakukan oleh santri. Pertama, santri harus berani untuk tampil di ranah panggung agama, terlebih di sosial media. Sebab, biasanya yang terjadi di kalangan santri itu semakin ia paham sebuah ilmu, semakin takut pula ia menjelaskannya pada khalayak umum. Saya paham,  sikap demikian merupakan perwujudan dari kehati-hatiannya dalam menjelaskan ilmu agama. Namun, jika melihat situasinya saat ini saya rasa santri harus lebih meningkatkan mentalnya, selain ia telah memiliki banyak bahan pembahasan dalam panggung agama yang kemudian dapat diwujudkan secara konstruktif.

Sebagai contoh, ada teman saya alumnus Tebuireng yang kebetulan juga terkenal dengan prestasinya yang luar biasa, dari lomba baca kitab hingga olimpiade IPA. Menariknya ia berhasil mewujudkan harapan masyarakat seperti yang telah saya sebutkan di atas. Namun, sampai pada suatu fenomena ia diutus untuk mengisi sebuah kajian Fiqih, dengan model visual seperti Youtube, ia berpikir dua kali untuk bisa menerima penawaran tersebut. Tidak heran jika ia menolak penawaran itu, karena pada dasarnya ia masih takut dan berhati-hati untuk memberikan apa yang telah ia dapat kepada masyarakat. Padahal, penawaran tersebut dapat memberikan feedback yang dapat menunjang kehidupannya dari segi finansial.

Foto: Kompasiana.com

Kedua, menumbuhkan minat baca masyarakat. Selain mengaktifkan upaya santri, pihak masyarakat juga harus bisa menjadi penunjang dalam mempertahankan porsi kepercayaan terhadap santri. Sebagaimana kita tahu, minat baca masyarakat saat ini mengalami kemiskinan akut. Mengapa demikian? Fenomena di lapangan banyak terjadi permusuhan dikarenakan perbedaan pendapat, mirisnya hal itu diyakini dari hasil bacaannya terhadap berita hoaks. Salah satunya, pemberitaan Habib Luthfi yang disebarkan oleh akun bernama Maher. Tidak sedikit masyarakat yang mengamini atas apa yang ditulis oleh Maher di akun Twitternya. Terlebih persoalan semacam ini telah diserang oleh kaum muslim sendiri. Maka, bagaimana minat baca masyarakat ini menjadi sebuah solusi yang dapat menjawab persoal-persoalan penting seperti ini.

Selain itu, kemiskinan dalam minat baca ini lah yang nantinya akan berdampak pada pemilihan sosok yang ada di panggung agama. Sebagaimana juga ditekankan oleh M. Arfan Muammar seorang dosen UIN Surabaya yang mencoba menuangkan pemikirannya dalam buku Nalar Kritis Pendidikan. Menurutnya, masyarakat dengan daya baca rendah akan malas untuk mencari bagaimana detail informasi yang didapat. Sehingga, akan sulit untuk dapat mendeteksi dan memilih kaum mana yang menjadi pribadi otodidak. Menurut saya, memperkuat minat baca mayarakat juga dapat menunjang dalam mempertahankan porsi kepercayaan masyarakat terhadap santri, hingga mencapai angka seratus persen.

Sampai sini, pembaca diajak untuk mewujudkan upaya dari yang penulis sampaikan. Baik sebagai masyarakat atau santri. Karena pada dasarnya, di era yang serba mudah dalam mengakses segala bentuk informasi, baik dari segi pemikiran hingga forum agama, harus bisa ditelaah dengan benar. Sehingga kita sebagai masyarakat atau santri dapat memberikan porsi sebagaimana semestinya.

Penulis: Kunti Zulva Russdiana Dewi
Editor: Hasna’ Zakiyah Amany