Bayangan Hantu di Penghujung Tahun

Ada berbagai keadaan yang membuat otak seseorang akan terus bergerak. Diantaranya adalah jatuh cinta yang diyakini akan mengubah mood seseorang menjadi lebih dinamis. Yang lain adalah keterpaksaan, ini juga diyakini akan menuntun seseorang menggapai tujuan.

Berbagai keadaan seperti ini yang membuat otak manusia selalu dipaksa untuk berpikir –jika digunakan dengan baik. Keadaan tersebut juga akan mencerminkan pola hidup seseorang.

Betapa banyak orang yang melihat buah apel jatuh dari pohonnya, tetapi hanya Isaac Newton yang berusaha berpikir dengan jernih dan bertanya akan kejadian ganjal tersebut. Apa bedanya buah apel dengan bintang di langit? Mengapa bintang di langit tidak jatuh? Dalam proses berpikir jernih seperti ini, Isaac Newton kemudian berhasil menemukan hukum gravitasi.

Ini membuktikan bahwa otak manusia selalu berhasil dan tidak memiliki batasan dalam memikirkan sesuatu. Otak akan terus berjalan untuk berusaha menemukan jalan dalam menggapai tujuan.

Seseorang akan selalu mencari cara dalam menggapai sesuatu yang diinginkan. Karena ini merupakan fitrah yang diberikan Tuhan secara khusus kepada makhluknya yang bernama manusia.

Tidak hanya berpikir ke depan. Otak manusia juga sukses menyimpan berbagai memori beban di masa lalu. Beban tersebut akan datang kapan saja menghantui pikiran kita. Seperti hantu di film yang datang dengan wujud mengenaskan meminta bantuan untuk membukakan tali pocong yang lupa dibuka ketika akan dimasukkan ke liang lahat “Bang, bukain tali pocong saya” –sungguh menyeramkan.

Saya membayangkan berbagai hal yang telah berlalu. Ia datang membawa beberapa masalah yang belum kuselesaikan di tahun ini, sementara saya akan masuk ke tahun yang baru dengan keaadaan yang sama. Mengenaskan tentunya.

Hantu-hantu pikiran tersebut akan terus bergentayangan. Saya dipaksa melangkah jauh ke depan dengan berbagai beban yang masih tertinggal.

Memasuki tahun baru dengan perasaan yang buruk tersebut, membuat pikiran saya gamang tak terkendali. Rasanya saya belum siap menghadapi tahun yang akan datang. Berbagai ketimpangan sangat terasa. Belum lagi berbagai masalah yang belum berhasil kuselesaikan di tahun sebelumnya. Keadaan tersebut kemudian datang menghantui sisa-sisa kehidupan di akhir tahun.

Lalu apakah betul pengalaman adalah guru terbaik? Jika betul seperti itu, maka saya gagal belajar terhadap kejadian di masa lalu untuk menjadi baik di masa depan. Kalau saya gagal, itu menandakan bahwa saya akan membuat pengalaman buruk di masa depan. Dan itu semua akan terus menghantui pikiran saya.

Bagaimana belajar dari kehidupan yang telah berlalu?

Dalam hal ini, masing-masing orang akan membangun pikiran mereka sendiri. Diakui atau tidak –kebanyakan dari kita –berusaha terus berpikir maju, tapi selalu lupa untuk mundur sejenak, kemudian berpikir kembali.

Dengan berpikir dan merenung, kita dituntut untuk menciptakan sesuatu yang baik. Namun kita tidak menyadari bahwa sesuatu yang baik akan menghasilkan sesuatu yang buruk jika tidak ditangani dengan baik. Seseorang menginginkan lulus dalam ujian, tentu hal tersebut sangat baik. Tetapi jika keinginan baik tersebut tidak ditanggapi dengan baik, maka hasilnya akan buruk. Meski keberuntungan bisa saja menghampiri.

Kita juga selalu berpikir bahwa segala hal besar adalah sebuah kesuksesan, tanpa berpikir bahwa hal besar lahir dari hal kecil yang remeh-temeh. Kita hanya menginginkan hal besar segera terwujud, tanpa menapaki tangga-tangga kecil untuk sampai kepada hal besar tersebut.

Jika kita tetap tidak bisa belajar dari hal-hal yang telah berlalu, apa bedanya dengan kaum-kaum yang telah dibinasakan Tuhan. Bukankah Tuhan selalu mengingatkan hambanya agar belajar dari orang-orang terdahulu. Bukankah Tuhan juga selalu mengingatkan hambanya untuk selalu berpikir.

Hal ini akan membawa kita agar bisa menghargai masa lalu sebagai sebuah pembelajaran. Hal itu juga yang akan membuat kita belajar dari pengalaman. Dan menjadikan pengalaman sebagai guru terbaik dalam kehidupan.

Kita sudah seharusnya mengarungi berbagai keadaan kehidupan dengan bahagia. Karena keterpaksaan dan tekanan tentu tidak menyenangkan. Bahagia inilah yang kemudian mengubah hidup dari keterpaksaan menjadi cinta.

Risau terhadap keadaan atau bahkan omongan orang lain juga sering kali mengganggu pikiran kita. Padahal hal tersebut tidak akan mengurangi jatah umur kita di dunia.

Dan kebanyakan dari kita tidak menyadari bahwa kita tidak hidup sendiri. Ada banyak orang yang akan membantu menemukan solusi atas setiap kegelisahan kita. Menghirup udara di pekarangan rumah atau membuka jendela agar angin dan cahaya masuk, mungkin akan membuat kita lebih menikmati hidup. Atau bertemu kawan lalu ngopi bersama pasti juga akan mengurangi kegelisahan.

Belajar dari pengalaman, hidup dengan bahagia dan tidak risau itulah yang akan membangun kerangka hidup kita menjadi lebih baik. Sehingga hantu-hantu di akhir tahun tidak lagi bergentayangan menampakkan keadaan mengenaskan.
Di awal tahun bayangan hantu-hantu tersebut akan hilang diganti dengan terompet kebahagiaan.

Penulis: Harbek

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *