Membuat Batasan Diri; Bentuk Mencintai Diri Sendiri

Foto: Themoodspace.com

            Dalam menjalani lika-liku kehidupan, secara tidak sadar kita melakukan banyak hal  yang berlebihan untuk mencari perhatian orang lain. Sehingga dalam beberapa keadaan, kita merasa tidak dihargai atau menjadikan pencapaian orang lain sebagai standar untuk memaksakan pencapaian diri sendiri. Hal tersebut bisa saja terjadi karena secara tidak sengaja, kita mengizinkan orang lain untuk menerobos batasan-batasan diri atau boundaries yang kita miliki, yang menjadikan seseorang lupa akan batasan dan keterbatasan dirinya.

            Batasan atau boundaries menurut Gita Savitri Devi, seorang konten kreator sekaligus penulis buku Rentan Kisah mengatakan bahwa boundaries merupakan limit atau batasan seseorang untuk menandakan hal-hal mana yang acceptable atau tidak, serta hal-hal apa saja yang bisa ditolerir atau tidak. Penting bagi kita untuk mengingat dan memperhatikan batasan-batasan tersebut dan mengenal lebih jauh seluruh aspek dalam diri. Sehingga dalam bersosialisasi dengan orang lain baik kawan, orang tua atau orang-orang yang baru saja dikenal, kita mampu menempatkan diri dan memberikan effort sesuai porsi.

            Memahami konsep “batasan diri”memiliki efek sangat penting bagi diri sendiri maupun orang lain. Karena memberikan space untuk diri sendiri merupakan bentuk self-love dan apresiasi atas apa yang telah kita miliki. Begitupun bagi orang lain, dengan adanya batasan-batasan yang kita berikan akan membantu proses pembentukan hubungan yang sehat. Dan juga memberi ruang orang lain untuk memahami sejauh mana mereka dapat men-treat kita.

Sebagaimana manusia yang memiliki kemerdekaan atas dirinya sendiri, memiliki batasan bukan berarti menciptakan pribadi yang egois atau mengkotakkan diri. Kita berhak memberikan space dan batasan yang gamblang untuk melindungi diri dari perilaku yang manipulatif, mengontrol dan mendikte. Dalam contoh kecil, tanpa kita sadari dalam circle pertemanan atau bahkan lingkungan orang terdekat, seringkali kita merasa “tidak enak” untuk menolak ajakan yang mengorbankan kepentingan pribadi demi memenuhi keinginan orang lain. Dengan tujuan agar tidak dicap sebagai tidak setia, pelit, dan sebagainnya. Dan tanpa kita sadari pula, kita membiarkan diri kita bertanggung jawab atas kekecewaan yang orang lain alami, sedangkan kita juga memiliki hak atas waktu yang kita miliki. Sering kali rasa itu mengganggu psikis seseorang dan larut dalam spekulasi pribadi yang membuat ribet pikiran sendiri. Padahal, mood orang lain, rasa kecewa orang lain dan pemikiran orang lain merupakan tanggung jawab penuh dirinya sendiri.

Dr. Henry Cloud dalam bukunya yang berjudul Boundaries menggambarkan bahwa batasan layaknya rumah. Rumah terdiri dari komponen pagar, pintu masuk, serta beberapa ruangan yang salah satunya adalah kamar tidur. Ada beberapa orang yang hanya bisa menempatkan dirinya di luar pagar, beberapa diantaranya kita izinkan untuk memasuki pintu rumah, sampai hanya segelintir orang yang kita izinkan untuk memasuki kamar tidur. Artinya, tidak semua orang mampu memasuki ranah privasi atau hal-hal yang telah kita batasi dengan sesuka hati. Dan menjadi sebuah keharusan, untuk kita memiliki batasan tersebut dan tidak menyamaratakannya. Hal ini juga tidak berarti kita timpang kasih untuk men-treat seseorang, tetapi agar terciptanya hubungan yang sehat dan melatih diri untuk mengetahui batasan mana yang membuat diri kita nyaman atau tidak.

Foto: Mindbodygreen.com

Memiliki dan menyadari boundaries memang butuh waktu yang tidak cukup sehari semalam. Pengalaman, ilmu pengetahuan dan lingkungan sosial merupakan faktor yang penting untuk seseorang agar lebih bisa meningkatkan kepekaan dirinya akan self-control yang ia miliki.  Beberapa faktor yang menyebabkan seseorang merasa kesulitan untuk memiliki batasan, salah satunya karena tidak ingin terlihat kaku dan tidak asik dalam pergaulan. Dan berpikir jika orang lain akan kecewa pada hal-hal yang telah ditentukan. Lalu ia akan selalu berusaha menyesuaikan diri pada aturan orang lain tanpa memberi apresiasi pada diri sendiri. Terlalu takut akan adanya pertentangan pada konsep boundaries yang ada. Kemudian lagi-lagi seseorang akan menghabiskan waktunya untuk berkompromi dan menempatkan diri dalam kemauan orang lain. Tetapi, faktor terbesar yang menempatkan seseorang kesusahan dalam menciptakan batasan diri adalah ketidaktahuan mengenai konsep boundaries dan batasan dirinya sendiri. Faktor tersebut bisa saja terjadi karena lingkungan yang tidak menyadarkan dan mengajarkan kepadanya perihal “ini boleh” dan “itu tidak”, atau bisa saja karena seseorang tersebut selalu merasa harus menerima semua orang agar dicap sebagai teman yang asyik. Masalahnya, tidak semua orang yang ingin memasuki dunia kita adalah individu-individu yang bermaksud baik, beberapa diantaranya hanya memanfaatkan atau bahkan menjadi pencuri yang tentunya sangat merugikan diri kita sendiri.

Lantas, langkah apa aja yang dibutuhkan untuk mengidentifikasi batasan apa yang akan kita buat? Penting untuk kita mengetahui dan sadar akan nilai-nilai yang kita yakini. Menurut Gita Savitri Devi, mengidentifikasi batasan diri dapat dilakukan dengan cara meningkatkan self-awarness berupa terus bertanya pada diri sendiri terkait hal-hal apa saja yang sangat pokok untuk kita. Hal apa saja yang kita sukai dan tidak, hal mana yang membuat nyaman atau bahkan sebaliknya. Selanjutnya adalah menganalisa seluruh hal tersebut dan membuat pertanyaan “Mengapa hal ini tidak kita sukai? Dan harus bagaimana sikap kita kedepannya?”.

Terakhir, dalam mengupayakan self-control yang baik, tiap individu memiliki caranya masing-masing untuk menciptakan kedamaian dalam dirinya. Komitmen serta kepercayaan diri pada values yang telah kita tentukan akan menjadi tolok ukur pada berhasil atau tidaknya nilai-nilai tersebut. Circle terdekat diharap dapat mensupport seluruh proses individu yang ingin mencapai hakikat kecukupan dirinya. Beri reward pada hal-hal yang menguras energi tetapi berhasil dilalui dengan membeli jajan favorit, mengunjungi tempat cantik atau sekedar mengucap terima kasih pada diri sendiri. Terima kasih wahai diri, sudah mau berjuang hari ini. Besok kita berjuang lagi.

Redaktur: Nailul Husna
Editor: L.