Ibadah, Tujuan Penghambaan(?)

Foto: Missmuslim.nyc

Ada sebuah pernyataan dari teman saya kemarin, saat kami asik berbincang menyoal kepribadian manusia zaman sekarang. “Kun, saya tidak heran mengapa si fulan –menyebutkan salah satu senior saya—pantas untuk menyombongkan dirinya, lha wong dia memang memiliki basis intelektual yang unggul ketimbang teman sebayanya, ya kalau dibandingkan aku pasti gak ada apa-apanya” ujarnya. pernyataan ini kemudian saya sanggah, “Ya enggak bisa gitu tho, tidak bisa dibenarkan dalam segi apapun kesombongan pantas disematkan pada makhluk, setinggi apapun derajat dari makhluk tersebut tetap saja tidak pantas disematkan padanya sifat yang hanya pantas dimiliki Tuhan.” Perlu saya tekankan, sombong di sini bisa dikaitkan dengan penilaian terhadap seseorang, atau klaim dari pribadi seseorang yang merasa dirinya lebih unggul.

Berangkat dari pernyataan tersebut lantas membuat saya mbatin, apakah orang-orang yang demikian—bangga dengan kepintaran, atau kekayaan, misalnya— layak diberikan ruang untuk tetap bebas bersikap demikian? Saya rasa jawabannya tidak. Mengapa? Karena sikap tersebut akan berhubungan dengan perihal fungsi manusia itu sendiri. Maka jawaban itu mengarah pada pembahasan fungsi diciptakannya manusia. Saya pernah membaca beberapa argumen yang dipaparkan oleh Syekh Ahmad Thayyib –Grand Syekh Al-Azhar Mesir, selanjutnya akan saya sebut SAT— dalam kitab Muqawwamâtu al-Islâm, beliau bahkan memberikan satu bab penting menyoal tujuan diciptakannya manusia. Hal ini meyakinkan saya, untuk bisa memperkuat argumen dalam perbincangan tersebut. “Lha kamu apa lupa tho, Yan, manusia kan diciptakan hanya untuk beribadah, beribadah ini kan artinya luas, apapun bentuk ibadahnya selama ia masih menempel pada laku manusia, ya kita harus sadar manusia memang sudah diciptakan demikian.

Pembahasan ini dapat dikaitkan dengan argumen yang disampaikan oleh SAT dalam kitab yang sama. Lebih lanjut beliau menjelaskan bahwa Ibadah secara bahasa diartikan sebagai ketaatan, ketenangan, atau kepatuhan. Dalam istilahnya, ibadah dimaknai sebagai sesuatu yang tidak lepas dari dua hal yaitu kepatuhan dan kecintaan, yang mana dua hal tersebut akan melebur menjadi satu kesatuan yang dinamakan sebagai “Al-‘Ubudiyatu Lillahi Ta’ala.” Maka dalam hal ini ibadah sendiri tidak hanya dikaitkan terhadap hal-hal teologis semata, ia memiliki arti lebih yakni patuh terhadap Tuhan.

Argumen teman saya tidak mau kalah, “Tapi, Kun, yang saya maksud bukan sombong yang pantas disematkan pada Tuhan, sombong di sini menunjukkan bahwa ia lebih unggul dari yang lainnya, dan itu wajar.” Saya kemudian berfikir sejenak. Logikanya begini, kesombongan adalah sifat yang hanya pantas disematkan kepada Tuhan, lantas segala sesuatu yang disematkan pada Tuhan tidak boleh disematkan pada makhluk. Maka, kesombongan tidak boleh disematkan pada makhluk. Penjelasan ini tidak berhenti pada logika sederhana saya, dalam bab Hâjatu al-Insân ilâ al-‘Ibâdah menerangkan bahwa manusia telah diidentikkan terhadap sifat-sifat penghambaan, mengapa demikian? Karena Tuhan menciptakan manusia sebagai hamba, mempunyai kedudukan sebatas makhluk, yang diwajibkan untuk patuh, dan taat kepada Tuhan. Lantas Bagaimana dengan adagium yang memperbolehkan untuk bersikap sombong atas kesombongan orang lain? Hal ini keluar dari pembahasan, karena saya fokus membahas sifat sombong secara umum.

  Sampai di sini, pembahasan sifat yang tidak boleh disematkan pada makhluk sudah terjawab, lantas ada pikiran yang membuat saya semakin gelisah, mengapa tujuan yang dipilih Tuhan adalah ibadah? Mengapa tidak sebuah kesenangan atau kenikmatan? Atau mengapa tidak kita jadikan saja ibadah hanya sebagai jembatan untuk mendapatkan kesenangan atau kenikmatan? Pikiran sembrono saya ternyata juga terjawab dalam argumen SAT dalam kitabnya. Pertama, mengapa harus ibadah yang Tuhan pilih untuk menciptakan manusia, karena ibadah –baik laku, atau segala hukum yang ditetapkan dalam syariat Islam— merupakan hal yang bersifat konstan (tetap). Bukti konkritnya dalam pelaksaan ibadah itu sendiri, misal salat, haji, atau puasa, ia tidak menunjukkan perubahan signifikan dari masa ke masa, baik dalam tata caranya atau niat. Lantas apakah salat mengalami pengurangan dalam tata caranya, semisal tidak lagi dibuka dengan takbiratul ihram, tentu tidak.

Foto: Prayerinislam.com

Ibadah yang memiliki sifat konstan (tetap), merupakan sebuah wujud yang ditujukan kepada manusia untuk memenuhi kebutuhannya, dalam merealisasikan tujuan diciptakannya manusia itu sendiri. Ia akan selalu dibutuhkan oleh manusia, ia akan senantiasa menemani siklus manusia yang berpotensi untuk terus berkembang pesat. Sebagaimana kita tahu, saat ini manusia telah mengalami perkembangannya seperti dunia teknologi yang banyak diagungkan, peradaban yang berusaha dijaga agar tidak hilang, hingga perkembangan intelektual dari masa ke masa. Mengapa penting ibadah dijadikan sebagai tujuan manusia, karena ia merupakan sebuah acuan dalam laku manusia, yang kemudian dipraktikkan secara bersamaan dengan media yang disebut sebagai iman.

Selanjutnya, mengapa ibadah tidak kita jadikan saja sebagai media untuk mencapai kesenangan, atau kenikmatan? Dalam kitabnya SAT kembali menjelaskan, ibadah –menurut pembahasan dalam Islam— merupakan sebuah tujuan diciptakannya manusia. Ia tidak dapat dijadikan sebagai media untuk mencapai maksud tertentu. Artinya, kesengan dan kenikmatan itu tidak dijadikan sebagai tujuan diciptakannya manusia. Logiknya begini, Kesenangan itu bersifat dinamis, sehingga segala sesuatu yang dinamis tidak dapat dijadikan sebagai sebuah tujuan. Mengapa? Karena tujuan dinilai sebagai sebuah ketetapan, dan hal itu tidak boleh disandingkan terhadap sesuatu yang bersifat dinamis. Maka, kesenangan atau kenikmatan tidak dapat dijadikan sebagai tujuan. Selain itu, narasi yang termaktub dalam Al-Quran juga menyatakan bahwa tujuan diciptakannya makhluk adalah untuk beribadah (al-Dzâriyât, ayat 56.)

Maka dari itu, manusia zaman sekarang seyogianya tidak menganggap wajar terhadap laku atau sifat manusia—sifat sombong— yang dengan bebasnya ia gunakan sebagai alat untuk membanggakan diri di hadapan manusia lain. Karena pada hakikatnya manusia mutlak diciptakan sebagai makhluk untuk taat—sama rata dalam beribadah— kepada Tuhan. Tidak sepantasnya kita sebagai makhluk justru ingin menyematkan sifat yang dinilai memiliki makna akan keagungan atau keunggulan. Dalam hal ini, ibadah sendiri telah dilengkapi berbagai macam alat untuk dapat digunakan manusia sebagai medianya. Seperti hati yang diletakkan iman, akal sebagai penunjang dalam perkembangan pola pikir dan intelektual manusia, hingga jasad sebagai tempat ruh manusia, yang tidak lain adalah untuk beribadah kepada Tuhan. “Yan, wes tho, apalagi yang mau dibanggakan manusia? Intelektualnya lebih unggul? Itu bukan karena dia lebih pintar dari kita, karena kita beda masa, dia jadi terlihat lebih pintar, itu artinya dia sudah tua.

Penulis: Kunti Zulva Russdiana
Editor: Luhur Kharisman