Sore

Ternyata selain langit ini ramai oleh awan, jalanan pun tak dapat diubah oleh keramaian sang pejalan. Tepat di sore itu, Aku duduk di atas bangku marmer yang letaknya tak begitu jauh dari pinggiran trotoar. Hanya ada aku, kau, dan jagung bakar di genggaman jemari kita. Tak jauh dari seberang, jelas terlihat di tatapanku, seorang lelaki paruh baya berusia lima puluh tahun, dengan pakaian setel berwarna hijau diselimuti debu jalanan, sembari duduk merenung mengenggam sapu ijuk berukuran besar, lengkap sudah lamunan lelaki itu menatap lurus tanpa tujuan. Di sisi lain yang berlawanan, aku menatap lekat perasaan bahagia berkeliling di antara mereka. Di sana gelak tawa manusia terdengar sangat jelas. Ada sekitar sebelas sampai dua puluh pekerja yang sedang berbincang-bincang. Mereka semua berdiri di depan toko tempat mereka bekerja. Toko itu cukup sepi di musim seperti ini. Maklum ini sudah akhir November, bulan dimana musim dingin akan segera hadir. Dan di sore itu pula, suhu derajat mencapai angka lima belas.

Langit yang cukup cerah, namun tidak dengan hatiku.

“Kamu mau sampe kapan kayak gini?” Ah… brengsek! kenapa lagi-lagi aku terjebak di pikiran yang seperti itu. Pikiran yang pandai menguasai isi otakku yang lain. Rasanya, perasaan benci yang terlahir ini akan terus-menerus melekat jika solusi apapun tidak bisa kuterima dengan baik. Entah itu pemberian atau perlakuan yang telah diusahakan, rasanya sama sekali tidak berfungsi dengan durasi yang cukup panjang. Mungkin berhasil sesaat, tapi gagal untuk lebih dari ‘sesaat’. Gagal juga tidak datang sendiri, ia datang bersama perasaan putus asa, berbumbukan pesimis, menghancurkan semangat, dan yang terakhir memberi efek jera untuk bangkit kembali.

  “Hei, ngelamun aja, mikirin apa sih?” Mengapa seseorang menanyakan apa yang ada di pikiran orang lain. Apa pentingnya? Kalaupun aku telah berhasil memberitahunya, apakah dia akan seketika bisa memberikanku sebuah solusi? Ah! aku tahu, mungkin sesederhana ia ingin mencoba memberikan telinganya untuk segala cerita apapun yang bisa ku tumpahkan saat itu. “Enggak kok, nggak mikirin apa-apa,” jawabku singkat membohonginya.

Dia sedikit mendekat ke arahku, membetulkan duduknya lebih dekat denganku, meraih tanganku lembut, lalu menggenggamnya dengan erat. Entah dia yang seolah tahu, atau hanya ingin melakukan sekadarnya saja. Aku sedikit tertegun, tak lama setelah itu ia berhasil membuatku terdiam dalam genggamannya. Lalu, aku masih saja mencoba melanjutkan apa yang sedari tadi sedang berkeliaran di dalam pikiranku. Namun, sebelum semua pertanyaan itu berputar kembali di otakku aku mencoba mengajukan sebuah pertanyaan padanya,
“Aku mau minta sesuatu, boleh nggak?” kataku.
“Iya, mau apa?”
“Jangan bicara apapun sampai lima menit ya?”
“Oke”

Dia kembali mendekatkan dirinya, menegakkan punggungnya, dan sedikit menggerakkan bahu kanannya. Mungkin pikirnya aku sedang ingin meletakkan kepalaku agar bisa bersandar di bahunya. Namun, aku justru melepas genggamannya. Mengambil earphone lalu memilih playlist Nadin Amizah dan Kunto Aji sebagai teman.

Bayangannya makin jelas kala ku menutup mata, ia datang tepat dalam ilusi-ilusi pilu yang ada di hadapanku. Begitu nyata. Sangat nyata.

Kepergianmu yang sama sekali tak bisa kupahami, menjadikanku seperti manusia bodoh yang masih mengharapkan dia untuk kembali. Satu tahun berlalu tanpa kabar apapun. Aku ingat betul, ketika tiba-tiba salah satu temanku membawakan kabar tentangnya, sembari menitipkan seulas salamnya untukku. Jelas bukan main bagaimana hatiku saat itu, Senang bukan kepalang! Rasanya rinduku seakan tumpah tanpa kuminta. Leganya saat itu, bisa kudapati bahwa kau baik-baik saja. Namun nyatanya, semua itu tidak berlangsung lama, karena dua bulan setelah kabar yang kudapatkan tentang dirimu kuterima, dengan begitu jelasnya aku menatap fotomu dan perempuan lain terpajang di dinding facebook mu. Beriring caption “Happy Anniversary, Sayang”.

Tanganku gemetar, mataku mulai hilang kendali, memburam dipenuhi airmata yang siap tumpah, hatiku kacau. Aku kembali sadar, ini semua sudah berakhir lama. Dan segala harap-harapku yang lalu telah hancur tiada arti. Aku masih ingat, genggaman erat tanganmu setahun lalu. Ketika saat itu kau memintaku untuk menjadi perempuan yang akan kau bahagiakan sepanjang hidupmu, perempuan yang selalu berada di sisimu kala suka maupun duka. Kau yakinkan segala raguku dengan tatapanmu dan genggamanmu. Lalu, aku serahkan tanganku dan kau pasangkan cincin itu di jari manisku. Saat itu, aku merasa menjadi perempuan yang paling beruntung di dunia.

Namun, kini aku harus mengubah segala harap itu menjadi sesederhana berharap agar ia bisa bahagia dengan apa yang telah dipilihnya. Anehnya, perasaan maaf itu datang dengan mudah dari mulutku. Ia bukan hanya laki-laki yang berhasil menenggelamkan rasa cintaku. Bagiku, ia satu-satunya orang yang bisa meredam amarahku, mengatur egoku, menghapus dukaku dengan tawanya. Hanya dia yang mampu. Tetap saja, setelah kepergiannya aku sama sekali tidak bisa memandang apa yang ia sudah lakukan adalah sebuah kesalahan. Diri ini dengan begitu mudah sanggup untuk memaafkannya, memaklumi sikapnya. Sikap yang hilang tanpa kabar lalu datang dengan membawa perempuan lain di hidupnya. Harusnya aku marah! Itulah yang teman-temanku ucapkan kepadaku. Tapi nyatanya, jariku dengan mudah memberikan like pada postingan-postingan selanjutnya.

Entahlah, itu perasaan pasrah atau bagaimana. Semenjak saat itu, rasanya hatiku begitu mati rasa. Tak sedikit laki-laki mendekat kepadaku, memberikan seutuh-utuhnya hati yang mereka miliki, namun aku hanya terdiam memandangi hati yang mereka beri. Aku bahkan tidak lebih dari sekadar memandang, namun siapa sangka, jika puluhan orang di belakang datang mencibir. Cibiran-cibiran itu datang dari berbagai arah, dari yang hanya sekadar sindiran sampai hantaman. Semua pernah aku dapatkan di waktu yang bersamaan. Jelas aku hadapi mereka, dengan hati milikku yang sedang mati.

Aku ingat bagaimana kau dan aku menghabiskan waktu bersama. Bagaimana aku bisa memberikan segala waktu dan perasaan yang kupunya. Tentang bagaimana pertemuan pertama kita. Tentang bagaimana aku yang masih bertahan dan terus mendoakan keselamatanmu di tengah banyaknya orang yang membencimu. Tentang bagaimana aku masih percaya, walau pada akhirnya, semua itu hanya akan menjadi sebuah cerita.

Ponselku berdering. Membuyarkan lamunanku. Alarm lima menit tanda waktu yang ku minta sudah habis. Aku mematikan alunan “Saudade” dari Kunto Aji. Lalu aku berdiri, sembari menunggunya ikut berdiri. Tak lama setelah itu, aku memutuskan untuk memeluknya erat. Dan berbisik lirih di telinganya “Terima kasih.”

Aku menggenggam erat tangannya. Dan kita memutuskan untuk memilih jalan pulang. Menikmati akhir dari sore yang kita miliki. Diselimuti langit jingga yang menandakan hari ini sudah berakhir. Sedang sosok di sampingku ini, ialah awal yang akan menemani hingga akhir usiaku.

Penulis: Is’ad Durrotun Nabilah
Editor: Hasna’ Zakiyah Amany