Instagram Masisir, Milik Pribadi atau Milik Bersama(?)

Foto: Pixabay.com

“Mahasiswi Mesir itu kalau punya instagram, mbok ya dimanfaatkan dengan baik. Share ilmu-ilmu yang didapat disana, biar yang di Indonesia juga bisa belajar dari instagramnya”

Ini merupakan salah satu bentuk stigmatisasi dari kebanyakan masyarakat Indonesia memandang Masisir adalah ‘panutan’ entah untuk masyarakatnya kelak, atau bahkan sekadar menjadi panutan di antara teman-teman tongkrongannya. Entah kenapa seakan-akan rasanya kurang afdal kalau Masisir tidak membagikan hal-hal yang berbau agama atau apapun topik utamanya setidaknya menyelipkan pengambilan hikmah didalamnya. Unggahan-unggahan seperti itu bisa dengan memanfaatkan banyak platform media sosial. Salah satu platform yang menjadi favorit kelompok remaja menuju dewasa adalah Instagram.

Selain fiturnya yang memang fokus kepada posting foto atau video, fitur-fitur di Instagram memang dirasa lebih ringan dan memanjakan mata. Terlebih bagi remaja usia dua belas sampai usia kepala dua. Sebagaimana pengguna media sosial lain, kita juga akan mengunggah foto atau video yang sedang tren saat itu. Ya walaupun tidak semua pengguna media sosial adalah orang yang mengikuti tren, setidaknya mereka akan mengunggah apa yang diunggah oleh teman di sekitarnya. Begitu juga halnya dengan saya. Sebelum berangkat ke Mesir, saya memang terbilang cukup aktif bermain media sosial. Entah sekadar berbagi kegiatan, atau hanya membagikan postingan-postingan lucu. Ya intinya yang saya rasakan saat itu saya hanya akan mem-posting apa yang ingin saya bagikan saja. Namun ternyata, keberangkatan saya ke Mesir ini menuntut saya untuk membagikan hal-hal yang berbau Mesir, entah dari segi sejarahnya, atau sekadar pemandangan sehari-hari saya.

Awalnya, saya merasa tidak semua Masisir mengalami hal yang saya alami ini. Namun sependek pengetahuan saya beberapa di antara mereka menjawab pernah mendapat tuntutan untuk berbagi cerita tentang Mesir melalui akun media sosial mereka. Eh apa ini ‘tuntutan’? Tentu tidak, dari beberapa teman yang saya tanya, mereka juga termasuk orang yang  merasa seru dan asik-asik saja bisa membagikan cerita-cerita ‘ke-Mesir-an’ lewat akun mereka. Kalau kata anak jaman now “jalan-jalan virtual”. Akan tetapi, ternyata dalam hal ini tidak semua orang berbakat menjadi tour guide.

Mungkin beberapa orang ada yang ingin menjadikan akun instagramnya sekadar berbagi hal-hal penting menurut mereka. Misalnya berbagi ilmu, atau menuliskan biografi ulama Azhar, dan lain sebagainya. Ada juga golongan orang-orang yang memang suka jalan-jalan dan memanfaatkan media sosial mereka sebagai tempat mengabadikan momen. Terlebih, beberapa ada yang menambahkan cerita sejarah dalam caption-nya. Apalagi di era sekarang, tidak sedikit yang meringkasnya dengan tampilan reels. Ada lagi, beberapa teman yang suka bikin  QnA entah sekadar menyapa atau bahkan menjawab permasalahan-permasalahan agama.Nah, kalau ini biasanya dilakukan oleh  Beberapa kawan yang lain juga ada yang menawarkan jasa titip atau “jastip” produk-produk Mesir. Dari mulai makanan,pakaian, atau pernak-pernik khas Mesir. Ada kelompok orang yang suka pamer foto-foto makanan, saya salah satunya. Tentunya, dari kalangan mahasiswa baru sampai mahasiswa tingkat akhir semua berlomba-lomba bisa se-estetik mungkin untuk menampilkan unggahannya.

Foto: Pixabay.com

Oh iya hampir lupa, di antara semua golongan itu ada dua tipe masisir yang saya rasa bisa mewakili semuanya. Tipe posting foto apapun dengan caption kalam hikmah, dan tipe manusia yang sudah sadar bahwa itu nggak penting-penting amat dan malah hampir terbilang alay dan norak. ini nggak jauh beda sih sama tim posting status galau.

Ups! Astaghfirullah!

Terlebih mau bagaimanapun seseorang mengelola akun sosmed-nya itu hanya perlu dilakukan jujur dari dirinya sendiri, dan yang terpenting mereka nyaman dengan apa yang mereka bagikan. Sebenarnya fenomena ini bukan hanya terjadi di kalangan masisir saja, toh mahasiswa negara lain mungkin juga merasakan hal yang sama. Tapi tuntutan menjadi akun ustaz atau ustazah dadakan di kalangan teman kita di Indonesia, mungkin hanya masisir yang banyak merasakan.

Tentu ini bukan hal buruk bagi kami selaku masisir, toh beberapa orang juga bisa memanfaatkan momen ini untuk cari cuan dengan berjualan berbagai macam oleh-oleh khas Mesir. Kalau nggak nyaman tapi bisa menghasilkan uang ya kenapa tidak? Hehehe.

Redaktur: I
Editor: Mr. L