Toxic Masculinity: Laki-laki Gak Boleh Nangis?

Foto: rjcenterberkeley.org

“Cowok kok nangis? Cowok tuh harus kuat, nggak boleh cengeng”, sebuah statement yang sering terdengar bahwa laki-laki tidak boleh menangis dan cengeng, karena laki-laki yang menangis seringkali dicap lemah dan tidak maskulin. Jadi, emang laki-laki itu nggak boleh nangis?

Padahal menangis merupakan hal yang manusiawi. Menangis adalah bentuk dari ekspresi emosi (dalam makna luapan perasaan atau keadaan dan reaksi psikologis dan fisiologis) seseorang yang disebabkan karena patah hati, mengalami masa sulit, atau hal sedih lainnya. Meluapkan emosi dengan menangis bisa menjadi pereda masalah mental. Dikutip dari klikdokter.com, studi yang mempelajari berbagai jenis air mata telah menemukan bahwa air mata emosi mengandung kadar hormon stres yang lebih tinggi dan mengandung lebih banyak mangan yang mengatur suasana hati.

Laki-laki yang tidak menangis karena terbatasi oleh stereotip yang ada juga bisa berakibat depresi dan mengalami serangan kecemasan, bahkan bisa melakukan tindakan kriminal hingga bunuh diri. Menurut catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), pada tahun 2016 angka kematian yang disebabkan bunuh diri diperkirakan mencapai 793.000 jiwa dan sebagian besar adalah laki-laki. Salah satu faktornya ialah mereka takut dianggap lemah jika mengekspresikan perasaan sedih dan tidak mau mencurahkan isi hatinya. Betapa toxic masculinity dapat menghancurkan hidup seseorang.

Toxic masculinity sendiri dapat didefinisikan sebagai kepercayaan dan perilaku sempit terkait peran gender dan sifat laki-laki. Dalam toxic masculinity, maskulinitas didefinisikan sebagai sifat pria yang harus identik dengan kekerasan, agresif secara seksual, dan tidak boleh menunjukkan kesedihan. Dari definisi di atas, pengertian toxic masculinity memang sesuai dengan makna harafiahnya, yakni maskulinitas beracun. Artinya, orang yang menunjukkan perilaku toxic masculinity memiliki kecenderungan untuk melebih-lebihkan standar maskulin pada laki-laki. (sehatq.com)

Tidak semua laki-laki terlahir menjadi toxic masculinity, hal yang menjadikan sebagian besar laki-laki menjadi toxic adalah memahami maskulinitas secara salah . Seperti ungkapan laki-laki akan dinilai macho ketika ‘nembak duluan’. Anggapan tersebut memunculkan stereotip bahwa laki-laki berkeharusan menyatakan perasaan lebih dulu ke perempuan, karena akan menjadi hal yang dinilai tabu jika seorang perempuan menyatakan perasaannya lebih dulu, bahkan menimbulkan kesan agresif dan tidak punya malu. Sebenarnya, hal ini tidak ada kaitannya dengan masalah gender. Siapapun boleh menyatakan perasaannnya lebih dulu tanpa melihat gender dan tak ada keharusan siapa yang lebih dahulu. Terkadang adanya sikap gengsi di salah satu pihak, dalam hal ini perempuan, sehingga enggan untuk menyatakan perasaan lebih dulu dan membuat pihak lain lah yang seolah mempunyai tanggung jawab untuk mengawali. Padahal kan kalau emang suka, ya ngomong aja. Jangan gengsi!

Tidak bisa dipungkiri, berbagai stereotip tentang maskulinitas masih berlaku di kalangan masyarakat, termasuk di Negara Indonesia. Berbagai aturan yang biasanya ditujukan pada pria, bahwa laki-laki harus berperilaku sesuai dengan ‘standar’ yang ada supaya bisa diterima dan dianggap normal di masyarakat. Standar tersebut lambat laun berubah menjadi stigma yang membebani punggung kaum adam. Sebenarnya jika ditelisik lebih jauh, beragam hal yang menyebabkan stigma tersebut muncul, salah satunya kebiasaan masyarakat yang mengotak-ngotakkan jenis pekerjaan, warna pakaian, bahkan mengatur bagaimana laki-laki seharusnya berpikir, merasakan, serta berperilaku. Dan naasnya stigma itu tersebar secara turun-menurun.

Foto: Albanhuber.com

Stereotip mengenai batasan maskulin yang beredar di masyarakat secara tidak langsung menimbulkan dampak negatif. Namun, banyak kalangan yang menganggap bahwa stigma-stigma itu sudah menjadi konsep kehidupan yang benar. Tak hanya berdampak pada laki-laki, kaum hawa juga menjadi korban dari perilaku toxic masculinity. Sifat berkuasa dan seolah menjadi yang terkuat membuat laki-laki seringkali menindas kaum perempuan. Stereotip-stereotip itu memicu terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, pelecehan seksual, hingga pemerkosaan.

Dalam upaya mengurangi siklus toxic masculinity, orang tua memegang peranan penting, dengan mendidik anaknya sejak dini, terutama anak laki-laki untuk mengerti tentang maskulinitas. Orang tua harus menjelaskan bahwa laki-laki boleh menangis dan mencurahkan isi hatinya. Menurut Ines Kristanti, seorang psikolog yang rutin bicara seputar seksualitas, orang tua secara tidak sadar membatasi kebebasan ekspresi emosi pada anak laki-laki, orang tua sering mengucapkan “Laki-laki harus jadi jagoan, jangan cengeng”. Penekan emosi tersebut berujung pada anak yang tidak belajar bagaimana mengelola emosi-emosi yang tidak sesuai dengan peran gender menurut orang tuanya.

  Memilih circle pertemenanan yang baik juga merupakan salah satu faktor terhindar dari stereotip maskulinitas. Karena, tidak semua circle pertemanan mempunyai timbal balik yang baik. Seringkali seseorang terjebak di pertemanan yang buruk dan dicekoki stereotip-stereotip maskulinitas. Selanjutnya, Menjadi diri sendiri juga merupakan salah satu solusi menghindari toxic masculinity, tidak menuruti perkataan orang lain yang menjadikan diri toxic. Karena, bahayanya jika seseorang sudah terkontaminasi maskulinitas beracun, berusaha berkonsultasi dengan ahli kejiwaan untuk menyelesaikan toxic-nya malah dianggap sebagai aib.

Jika stereotip toxic masculinity ini terus diterapkan sebagai standar kehidupan sosial, maka kaum laki-laki tidak akan bisa tampil dengan apa adanya. Mereka dibayang-bayangi tekanan dan beban sosial untuk berperilaku dengan cara tertentu. Di mana pria harus kuat dan tidak boleh lemah, harus berkuasa, dan tidak boleh menunjukkan sikap tertentu seperti menangis. Pada akhirnya, menjadi maskulinbukan berarti menjadikan laki-laki tidak boleh meluapkan perasaan sedihnya. Menangis dan lemah itu dua hal yang berbeda. Toh, air mata tidak menunjukkan kamu tangguh atau tidak. Sama halnya warna pink tak selalu menandakan feminim, dan juga warna biru tak selalu menandakan maskulin.

Redaktur: Ahmad Fauzan Zahri
Editor: L. Kharisman