
“Bismillahirrahmanirrahim”, suara kering orang tua dengan langgam Jawa menggema di telinga masyarakat yang sedang berbaris, saf yang terbentuk layaknya barisan perang. Mereka yang mendengarnya pun segera diam dan mengikuti pak Imam. Seolah-olah bacaan yang sedang dirapalkan itu memiliki unsur magis tersendiri, menggerakan sikap jemaah di Mushala al-Hikmah.
Sambil membenarkan songkok hitamnya, mata Dolal mulai meleng dari tatapannya, seolah kehilangan fokus dengan sajadah gambar Ka’bah miliknya. Telinganya juga berkelana dengan suara lain, padahal teman-teman di sekitarnya sudah terdiam tanpa kata. Dolal mulai mendengar rapalan yang tak asing di telinganya. Ia ingat jika pernah mendengar mantra yang sama di tempat yang sama pula.
***
Di tempat yang sama dengan waktu yang berbeda, seorang guru TPQ meminta Dolal untuk membaca surat al-Fatihah, saat itu ia masih cedal. Dolal merasa aneh, baginya satu menit terasa seperti puluhan jam atau bahkan waktu tidak beranjak sedikit pun dari tempat duduk Dolal. Tangan kecilnya mulai mengangkat songkok hitam yang dikenakannya, menggaruk rambut tebal yang tidak gatal.
“Harusnya kamu sudah hafal surat ini di luar kepala,” sahut ustadz Huda sambil tersenyum manis.
Dolal pun menanggapinya juga dengan tersenyum, meringis. Sosok berkaca mata dengan jenggot tipis di hadapan Dolal itu segera meluruskan bibirnya seolah menandakan keinginannya untuk meluruskan hafalan Dolal.
Beliau lekas mengajarinya. Tak lama berselang, bibir Dolal dapat melabas dengan cepat hafalan yang diajarkan ustadznya. Tidak seperti sebelumnya, kini waktu menjadi terasa sangat cepat.
Tahun-tahun yang ia lalui juga terasa sangat cepat, sebab surat al-Fatihah tidak lagi menjadi masalah, bahkan wawasannya kini bertambah. Ia mengetahui fungsi bacaan “Alhamdulillahirabbilaalamiin” dari seorang sesepuh tua yang tinggal di belakang Mushala.
“Kalau bapak, ibuk, sanak keluargamu sakit batuk, tulislah lafaz ‘Alhamdulillah’ di mangkok atau piring putih. Lalu kamu larutkan dengan minyak wijen dan diminumkan ke orang yang sakit tadi,” nasehat Mbah Lan sambil membukakan manuskrip kitab tua saat silaturahmi Idul Fitri.
Dolal pelonga-pelongo dengan kepercayaan aneh itu. Alisnya terbelalak menjauhi matanya yang membulat. Namun, kepalanya mengangguk. Pribadi Dolal yang sudah mengerti Osis, BK, dan wanita membuatnya tidak mudah mengamini fungsi al-Fatihah semacam itu. Baginya, al-Fatihah ialah al-Fatihah, mengamininya pas selesai membacanya, bukan di permulaannya saja.
Di sekolah, teman-teman Dolal juga pernah tidak sengaja memperdengarkan padanya sebuah lagu religi. Di beberapa lirik lagunya mendendangkan lafaz “rahman” dan juga “rahim”. Sempat merasa risih, sebab lagu itu mengingatkannya pada ayat ke-2 surat al-Fatihah yang dibacanya sebelum ngaji dan saat salat. Namun, setelah beberapa kali mendengarkan dan membandingkan dengan apa yang ada di luar kepalanya itu, Dolal berspekulasi kalau lagu itu cukup unik, sebab musiknya melengking, iringannya juga bising, tapi liriknya bagus, mungkin “bagus” itu yang membuat teman-temannya betah memutar ulang lagunya.
Musik berkembang di wawasan Dolal yang mengawang-awang., seakan terbang berkeliaran di luar kepalanya. Ia mengingat pesan guru ngajinya-saat menghafal al-Fatihah harus di luar kepala. Sudah lama juga ia merasa bangga bisa melaksanakan amanat beliau, bahkan kini ia bisa menambahkan musik di luar kepala besarnya.
Di kediaman Dolal yang tidak berpenghuni selainnya, ia sering menjumpai musik religi itu mengiringi ceramah dalam video-video singkat. Bagi Dolal, hal itu baik, sebab musik sudah membersamai al-Fatihah yang diajari guru ngajinya (di luar kepala), apalagi musik dibubuhkan ke ceramah-ceramah dai ternama, membuat ceramah tadi semakin terhambur di luar kepala Dolal. Ia seakan sedang menuai mukjizat, berawal dari menghafal surat al-Fatihah kemudian dengan mudahnya ia dapat menghafal yang lainnya.
Dolal merasa presisi sekali dalam menyusun struktur ‘bangun datar’ hidupnya. Seakan Tuhan memberkatinya dengan mengetahui sudut demi sudut surat al-Fatihah, mulai dari ayat pertama, kedua, sampai ketiga.. Namun sayamgnya, dalam bangun datarnya itu ia belum menemukan penjelasan sudut-sudut ayat al-Fatihah yang lain. Ia tidak tahu makna dan maksud dari “ihdina al-shirata al-mustaqim”, apalagi sampai “wa laa al-dholin”.
***
Tiba-tiba terdengar sahutan “aamiin” membubarkan bayang-bayang perjalanan hidup Dolal dalam mengenal surat al-Fatihah. Tidak lama berselang suara-suara itu seketika senyap. Kemudian terdengar lagi suara dengan langgam Jawa dari arah jarum jam dua, “Bismillahirrahmaanirraahiim”.
Penulis: Rizal Alawi