Alas Roban

Foto: Pegipegi.com

Di Hari Senin yang terik,  aku selesai dari pengecekan stok produk di toko cabang Kota Kendal. Aku berniat tidur sepanjang jalan sebelum tiba di toko cabang selanjutnya. Namun mendadak sopirku menginjak rem seperti menghindari sesuatu.   

“Ada apa, Pak?” Tanyaku pada Pak Hari, sopir baruku.

“Maaf Mas Jupiter, tiba-tiba ada kerumunan monyet di tengah jalan.” Ucapnya dengan kaget, karena ini pertama kalinya dia mengantarku ke Kendal dan Batang.

“Oh, sekarang kan kita ada di Jalan Poncowati. Jalan ini memang banyak monyetnya. Tunggu saja, nanti juga monyet-monyet itu ke pinggir jalan.” Kataku menjelaskan agar pak Hari tidak bingung.

“Baik Mas.” Jawabnya dengan lega.

Setelah mobil melaju lagi, kantukku tiba-tiba hilang, bukan karena rem mendadak dari sopirku atau karena monyet-monyet di jalanan itu, tetapi karena Jalan Poncowati ini.  Jalan ini adalah kawasan hutan lindung jalur Pantura tengah. Di sini terdapat hutan jati yang pohonnya berumur lebih dari satu abad. Terkenal juga dengan sebutan Alas Roban. Hutan ini cukup angker, karena sudah ada jauh sejak Belanda menjajah Indonesia dan tetap lebat hingga sekarang.

Dulu sekali, saat kakek masih hidup dan tinggal bersama di rumah kami. Kakekku pernah menceritakan salah satu kisah hutan ini. Setiap sore sepulang mengaji, aku dan ketiga adikku akan duduk di teras rumah mendengarkan kakek bercerita. Sambil sesekali menyeruput tehnya, kakek bercerita apa saja, tetapi kakek sering kali bercerita tentang kerajaan-kerajaan yang pernah ada di Indonesia.

Pada suatu sore, kakek bercerita tentang kerajaan Mataram.

“Dulu di Tanah Jawa, ada lima Hutan yang masih angker. Hutan Purwo di Banyuwangi, Hutan Ketonggo di Ngawi, hutan Mentaok di Yogyakarta, Hutan Roban di Batang dan hutan Larangan di Cirebon.” Begitu kakek memulai ceritanya.

Sambil mendekat karena tidak sabar, Venus, adik perempuanku bertanya dengan suara cempreng,

 “lalu kek, apa yang terjadi dengan hutan-hutan itu?”

“Dari lima hutan itu, yang masih menjadi hutan lebat sampai saat ini hanya hutan Purwo, karena menjadi cagar alam. Lainnya sudah menjadi tempat yang berbeda, seperti hutan Larangan menjadi tempat kesultanan Cirebon. Hutan Mentaok dibuka dan menjadi tempat berdirinya Kerajaan Mataram. Sebagian Alas Roban sekarang sudah menjadi kota yang ramai, yaitu kota Batang. Dan sebagiannya lagi menjadi jalur Poncowati.” Jawab kakek menjelaskan rasa penasaran kami.

“Kasihan sekali pohon-pohon di hutan itu kek, mereka kehilangan rumah.”

Mars, adik laki-lakiku menanggapi dengan sedih, saat itu dia masih kelas empat sekolah dasar. Umur kami tidak terlalu jauh, setiap dari kami hanya berjarak dua tahun. Kakek mengelus rambutnya sambil tersenyum dan berkata,

“Saat itu Belanda menjajah Indonesia. Kerajaan Mataram yang dipimpin oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo menolak kerjasama dengan serikat dagang Belanda atau VOC. Kemudian, Mataram ingin mengusir VOC dari tanah Jawa, sehingga Mataram menyiapkan pasukannya untuk menyerang Belanda, yang pada saat itu ada di Batavia.”

“Apa hubungannya hutan-hutan tadi dengan kerajaan Mataram kek?”

Tanya Neptunus, adik bungsuku dengan tidak sabar.

“Sabar dulu Nep, kakek masih menyeruput tehnya.”

 Ucapku menenangkan, agar kakek tidak terburu-buru.

“Saat itu sekitar tahun 1628 masehi Mataram menyiapkan sekitar 10.000 prajurit, yang di pimpin oleh seorang panglima bernama Tumenggung Bahureksa.”

“Wah banyak sekali kek, panglimanya pastilah orang hebat karena dapat memimpin banyak prajurit”.

 “Benar Jupiter, panglimanya memang orang hebat, dia lebih akrab di panggil Joko Bahu.  Lain kali, kakek akan menceritaka kisahnya, sekaligus serangan kedua Mataram melawan VOC  yang jumlah prajuritnya lebih banyak lagi. Sekarang kakek akan melanjutkan hubungan  Alas Roban tadi dengan kerajaan Mataram ya?”

“Baik kek” jawab kami serempak.

“Oleh karena banyaknya jumlah prajurit Mataram, dan jauhnya perjalanan mereka dari Yogyakarta ke Batavia, sudah pasti membutuhkan banyak persediaan makanan. Pada saat itu, wilayah Mataram yang sudah ada tidak mencukupi untuk menyediakan bekal para prajurit. Akhirnya, dengan dipimpin oleh Joko Bahu Mataram membuka Alas Roban untuk dijadikan lahan pertanian, karena letak hutannya yang dekat dengan laut. Akan tetapi, banyak prajurit Mataram yang sakit bahkan meninggal ketika membuka Hutan Roban itu”

Foto: Gambarpemandanganalami.blogspot.com

Kakek berhenti, mengambil cangkir teh dengan tangan keriputnya lalu menyereput lagi.

“Cucu-cucu kakek ini percaya adanya makhluk gaib kan?”

“Percaya kek, kata pak ustad makhluk gaib seperti malaikat, jin dan sebagainya itu ada. Kita harus beriman karena itu termasuk rukun iman juga.”

Jawabku kepada kakek, dengan anggukan dari adik-adikku.

“Pinter cucu-cucu kakek” Ucap kakek tersenyum, memperlihatkan beberapa giginya yang masih setia menemani kakek.

“Kalau begitu, kakek lanjutkan ceritanya. Karena banyak hal aneh yang terjadi selama membuka Alas Roban, akhirnya Joko Bahu meminta petunjuk kepada Allah. Kemudian tahu bahwa yang mengganggu prajuritnya adalah jin yang ada di hutan itu.  Nama jinnya Dadung Awuk.”

“Ih kek, serem ceritanya kalau jinnya kesini bagaimana?”

Jawab Mars, adik bungsuku ketakutan. Dia langsung mendekat ke pangkuan kakek.

“Dia tidak akan kesini, karena Joko bahu sudah mengalahkannya. Awalnya Joko Bahu mengajak berdamai dan musyawarah, Akan tetapi, jin itu menolak dan menyerang Joko Bahu. Joko Bahu sangat Hebat. Dadung Awuk dan pasukannya pun dengan mudah dia kalahkan. Namun ternyata masih ada jin lain yang lebih hebat dari Dadung Awuk, sehingga Joko bahu pun tidak mampu mengalahkannya.”

“Kenapa di sana banyak jin, kek ?” Tanya Venus.

“Karena Hutan Roban itu memang tempat kerajaan jin, makanya banyak jin”

“Lalu bagaimana nasib selanjutnya Joko Bahu dan pasukannya kek?” Tanya Neptunus sambil menggoyang-goyangkan tubuh kakek dengan jari lentiknya, karena sangat penasaran.

“Jin yang lebih hebat itu namanya jin Kalawindu. Jin ini bisa berubah-ubah rupa. Kadang berupa manusia, kadang pula berupa ular yang sangat besar. Jin ini sangat jahat, karena memakan banyak manusia. Joko Bahu kalah melawannya. Kemudian Mataram mengutus seorang syekh yang sangat sakti untuk membantu Joko Bahu. Namanya Saridin dengan gelar Syekh Jangkung dari Pati.”

“Wah hebat kek, lalu apakah Syekh Jangkung akan mengalahkan jin Kalawindu?” Tanya Vanus.

“Tidak. Karena ketika Syekh Jangkung bertemu dengan Kalawindu, jin itu sudah ketakutan duluan. Karena jin itu tahu kalau Syekh Jangkung sudah mengalahkan jin yang lebih hebat darinya di Cirebon, yakni Dahyang Lolope. Lain kali akan kakek ceritakan  tentang jin yang dikalahkan itu. Karena sekarang, sebentar lagi akan adzan maghrib. Kita akan salat berjamaah kan?”

“Iya kek, tapi lanjutkan dulu cerita Alas Roban dengan Joko bahu tadi kek” Paksa Mars, penasaran.

“Baiklah, singkat cerita Kalawindu memperbolehkan Mataram membuka hutannya untuk lahan pertanian. Kemudian Mataram berangkat ke Batavia dengan membawa persediaan sekitar, 150 ekor sapi, 5.900 karung gula, 26.000 buah kelapa dan 12.000 karung beras”.

“Banyak sekali kek, bagaimana caranya Mataram membawa itu ke Batavia?” Tanya Neptunus.

“Apakah Mataram menang kek, melawan Belanda?” Tanya Mars.

Allahu Akbar Allahu Akbar… suara adzan bergema dari masjid di samping rumah kami.

“Baiklah cucu-cucu kakek, kita lanjutkan besok sore ya. Sekarang kita berjaamah ke masjid.” Ucap kakek sambil berdiri.

“Yah kakek… kami penasaran” Ucap kami serempak sambil merengek.

Kakek tersenyum dan masuk ke rumah. Kami pun mengikutinya dengan perasaan ingin cepat-cepat sore besok datang, Akan tetapi, sore itu pun tidak pernah ada. Cerita kakek pun berhenti di sana, tanpa pernah melanjutakan cerita-cerita lain yang kakek janjikan juga. Karena sepertinya, Tuhan lebih ingin mendengar cerita kakek secara langsung di surga.

“Mas Jupiter, kita sudah sampai di toko cabang selanjutnya” Ucap Pak Hari mengagetkan lamunanku.

“Baik pak.”  Jawabku sambil bersiap turun dari mobil.

Penulis: Aan Darwati
Editor: Hasna’ Zakiyah A.