
“Oh ibu bapak izinkan kami.
Doakan putramu ini.
Yang sedang menuntut ilmu Allah.
Demi kejayaan agama islam.”
Sepenggal lirik Hymne Tebuireng yang kami nyanyikan bersama dalam acara puncak gebyar HUT TC kemarin, menambah perasaan haru dan rindu dalam dada, kepada pesantren Tebuireng tercinta.

Setelah usai rentetan kegiatan pra acara, sampailah rangkain kegiatan gebyar peringatan HUT Tebuireng Center ke-13 pada acara puncak . Perayaan acara puncak tersebut dilangsungkan pada hari Kamis, 3 Desember 2020 diawali dengan khataman Al-Qur’an pada pagi hari di sekretariat TC. Kemudian seusai maghrib, acara dilanjutkan dengan pembacaan tahlil dan doa kepada masyayikh Tebuireng.
Acara ini terbilang acara besar yang pertama kali diadakan bagi TC sendiri. Griya KSW menjadi tempat diadakannya acara, di mana sebelumnya, TC belum pernah mengadakan acara secara independen di luar sekretariat TC. Selain itu, sekretariat TC juga dirasa tidak akan cukup mengingat anggota yang kian banyak.
Mengadakan acara besar di tengah pandemi juga menjadi alasan panitia memilih Griya KSW sebagai tempat yang tepat, guna tetap bisa melangsungkan acara sesuai protokol kesehatan. Selain tempatnya yang lebih luas, peserta juga diharuskan memakai masker dan menggunakan handsanitizer.

Dalam sambutan Ketua TC, mas Ilham menyebutkan “Dua hal penting yang perlu diperhatikan guna menjaga solidaritas TC. Pertama, menganggap TC sebagai rumah sendiri. Kedua, menganggap seluruh anggota TC sebagai saudara kandung.”
Senandung lantunan selawat oleh tim banjari TC mengiringi malam yang penuh kehangatan. Pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh dewan penasehat TC, Faiz Husaini dan ketua TC, A. Ilham At-Tamimi menjadi hal yang sakral menandakan bahwa TC sudah memasuki umur ke-13.

Harlah TC yang ke-13 ini turut dihadiri oleh Syekh Ali Bafadlol al-Hadromi sebagai pembicara. Dalam mauidzoh-nya beliau memaparkan tentang pentingnya penuntut ilmu dalam menjaga stabilitas iman. Jangan sampai kita menyalahkan Tuhan di setiap kegagalan yang kita temui. Hendaknya, kita juga mengingat kembali, apakah amal ibadah yang kita lakukan sudah benar-benar istiqomah? Atau sekedar formalitas semata?

Sebelum beliau memipin do’a mengakhiri majelis, beliau juga mengijazahkan Wirdul Lathif , Ratib Al-Haddad dan kitab-kitab karya Habib Ali bin Husein Al-Habsyi
kepada para hadirin.
Dengan bertambahnya usia, semoga semakin bertambah pula keberkahan dan kesuksesan kepada almamater tercinta.
Tiada kata yang bisa menggambarkan betapa berharganya TC bagi kami, dan tentu tanpa Tebuireng, kami bukan apa-apa.

Pewarta: Is’ad Durrotun Nabilah
Editor: Luhur Kharisman
Yeay
Potoku mausk website