Suddenly, I Became The Evil Empress

Foto: Wijatnikaika.id

Pagi itu, istana permaisuri Dinasti Qin dihebohkan dengan permaisuri yang tiba-tiba tenggelam ke dalam kolam. Setelah itu, permaisuri tidak sadarkan diri selama tiga hari. Kaisar Qin Shi Huang dengan sangat panik langsung mencari tahu siapa dalang di balik tenggelamnya permaisuri, karena ini yang pertama kalinya, permaisuri masuk ke dalam perangkap rencana pembunuhan. Seluruh pengawal dan pelayan menjadi sangat tegang. Pagi yang seharusnya cerah dengan hangatnya matahari, justru menjadi sedingin es. Mereka semua ketakutan, jika akan terjadi sesuatu setelah ini. Mereka tidak melakukan kesalahan apa pun, tetapi permaisuri Jianying dari Dinasti Qin terkenal licik dan kejam. Dia tidak butuh berpikir untuk menyalahkan siapa pun atas kemalangan yang diterimanya itu.

Hari ke empat, permaisuri terbangun. Akan tetapi, apa yang mereka takutkan sama sekali tidak terjadi. Permaisuri diam saja, justru terlihat kebingungan. Mereka juga merasa heran, permaisuri tidak menghukum pelayan yang tidak sengaja menjatuhkan gelas, karena kaget dengan pertanyaan permaisuri yang sangat aneh kepada kaisar. Permaisuri justru menolong pelayan itu. Jelas saja, tindakan permaisuri yang sangat aneh membuat mereka semakin ketakutan. Jangan-jangan strategi permaisuri sekarang, berbuat baik dahulu sebelum memenggal, begitu pikir mereka.

***

Mereka memanggilku permaisuri Jianying. Aku sangat bingung kenapa tiba-tiba dipanggil seperti itu dan terbangun di tempat asing. Tempat dengan ruangan yang perabotannya sangat kuno, persis seperti barang-barang yang aku lihat di Museum. Banyak guci dan barang-barang yang terbuat dari kayu dan tembaga. Juga pakaian yang aku kenakan sangat tebal dan berlapis-lapis. Bahasa yang mereka gunakan juga seperti bahasa yang biasanya digunakan nenekku berbicara dengan temannya. Belum sempat aku berpikir untuk bertanya, tiba-tiba  datang seorang laki-laki tampan dengan pakaian kerajaan zaman dahulu, seperti yang sering aku lihat dalam drama. Dia menghampiriku dan bertanya dengan wajah dan nada khawatir.

“Apakah kamu baik-baik saja?” Sontak aku menjawab “Siapa kamu?”

Dia langsung menyuruh seluruh pelayan dan pengawal yang ada dalam ruangan untuk keluar. Lalu ketika tinggal aku dan dia saja, dia mulai bertanya, permaisuri apa yang terjadi? Apa ini caramu mempermalukanku? Setelah aku begitu memanjakanmu, dengan memperbolehkanmu melakukan apa pun, bahkan kesalahan yang kamu lakukan, aku terima dan akan aku selesaikan resikonya, ini balasanmu? Kamu justru bersekongkol dengan Lu Bu Wei untuk memberontakku? Lalu sekarang pura-pura tidak mengingatku agar aku melepaskanmu?

Aku masih kebingungan. Nama asliku Mei dan aku tidak kenal meraka semua, juga tidak paham apa yang dia bicarakan. Aku harus jawab apa. Bahkan untuk mengarang jawaban pun aku tidak tahu situasinya sekarang. Aku sedang mimpi kah? atau diculik untuk syuting drama atau diprank? Hal terakhir yang aku ingat, aku sedang berada di mobil saat tiba-tiba sebuah truk dari arah berlawanan menabrak mobilku, lalu semua menjadi gelap dan aku terbangun di sini. Ah tunggu, apa aku sudah mati? Lalu sekarang aku sedang berada di jalan kematian? Aaaaaghh siapa pun tolong jelaskan padaku.

“Permaisuri?” oh suara laki-laki tampan ini mengagetkanku.

Dia berkata lagi “mungkin permaisuri masih sakit, istirahatlah, kita akan bicara lagi setelah permaisuriku sehat.”

Yasudahlah aku ikuti saja dulu alurnya, “baik terimakasih” jawabku sekenanya.

Seminggu terus berlalu, tetapi aku juga tak kunjung bangun dari mimpiku, aku juga tidak menemukan satu pun kamera tersembunyi jika aku berpikir aku sedang dipaksa syuting drama. Ini juga bukan jalan kematian, karena setiap hari dan setiap malam aku harus selalu waspada jika saja ada yang akan membunuhku.

Seperti malam kemarin, saat aku sedang tidur dan bermimpi pulang ke rumah, memeluk ibu dengan sangat-sangat erat, tiba-tiba ada anak panah melesat ke kamarku. Aku langsung terbangun dan berteriak sekeras-kerasnya. Panah itu tepat di atas kepalaku, dengan darah yang mengalir dari kertas di panah itu, yang bertuliskan “permaisuri, pilihlah! Kau ingin aku membunuhmu atau kau membunuh dirimu sendiri.” Aku langsung berlari keluar, ternyata semua pengawal dan pelayan sudah dilumpuhkan. Aku terus berlari dengan berteriak ketakutan. Sampai tiba-tiba ada yang menarik dan memelukku. Aku memberontak, karena kupikir itu pembunuh.

“Tidak apa-apa permaisuri, kamu aman, tidak perlu takut, aku akan melindungimu” aku kenal suara itu. Aku merasa aman.

Malam sebelumnya juga ada yang menyelinap ke kamarku. Mengarahkan pisau ke leherku, dan berkata “permaisuri, kenapa kau sekarang begitu lemah dan penakut? Apakah kau lupa bagaimana caranya membunuh? seperti yang kau lakukan pada anakku!” lagi-lagi, aku menerima pembalasan dendam dari apa yang tidak aku ingat. Aku menangis tanpa sadar, karena sangat ketakutan.

“Kau sekarang lemah permaisuri, aku akan membunuhmu lain kali” begitu katanya. Membuatku semakin merinding, karena memikirkan kapan lagi dia akan datang membunuhku.

Tidak hanya tidurku yang terganggu. Makan pun aku harus waspada, kalau-kalau ada yang menaruh racun. Dan benar saja, sudah tidak terhitung jumlahnya lagi, berapa banyak pelayan yang bertugas mencicip makananku mati. Membuatku merasa sangat bersalah, karena merasa dengan tidak sengaja membunuh mereka semua. Setiap hari kaisar mengganti pengawal dan pelayan, karena semua masalah itu. Dari apa yang aku dengar secara diam-diam dari pelayan, katanya, kaisar melakukan itu sebelum para pengawal dan pelayan dipenggal sendiri oleh permaisuri.

Ah sungguh sial, kenapa aku harus menjadi permaisuri yang terkenal sangat jahat, licik, tidak berperasaan dan memiliki banyak musuh di seluruh negeri?! Aku sangat frustasi. Tidak ada tempat untuk berkeluh kesah. Aku terlalu takut untuk berbicara dan bertindak, karena mungkin akan mengundang pendendam lain menargetkanku. Juga karena apa yang aku alami tidak masuk akal. Mereka pasti akan semakin menganggapku aneh, ketika aku berkata “aku bukan permaisuri, tetapi aku juga tidak mengerti kenapa jiwaku ada dalam tubuhnya.” “Ibu aku rindu, aku ingin pulang, ingin kembali ke kenyataan.”

Aku menangis tersedu-sedu, menyesali nasibku menerima semua balas dendam tubuh ini tanpa tahu apa-apa.

Belum puas aku menangisi nasibku, tiba-tiba muncul seorang perempuan dengan pakaian serba hitam, entah dari mana datangnya. Aku langsung membelakanginya, menyembunyikan tangis dan rasa takutku. “Hamba Fang Yin menghadap yang mulia permaisuri, ingin menyampaikan pesan dari Tuan Lu Bu Wei” ucapnya.

“Apa pesannya?” jawabku penasaran, karena sebelumnya laki-laki tampan yang ternyata adalah kaisar dan suamiku itu pernah menyebut namanya.

“Tuan Lu Bu Wei meminta permaisuri memasukan ramuan ini ke dalam makanan Kaisar Qin Shi Huang malam ini, selanjutnya tuan Lu Bu Wei akan menyerbu istana setelah itu, kemudian menemui permaisuri untuk menikah dengannya dan memperluas dinasti hingga negeri seberang.”

  “Baiklah kamu boleh pergi” jawabku dengan sedikit ketakutan, karena apa yang baru saja aku dengar telah menyadarkanku satu hal.

Foto: Tulungagung.jatimtimes.com

Selama ini belum pernah ada yang menyebut nama kaisar. Setelah perempuan tadi menyebut nama kaisar, aku baru tersadar. Kaisar Qin  Shi Huang dari Dinasti Qin adalah kaisar yang menyatukan seluruh negeri Tiongkok di bawah Dinasti Qin. Dia juga kaisar pertama membangun tembok raksasa, yang menjadi salah satu keajaiban dunia. Itu dibangun sekitar abad ke tiga SM. Aku harus memastikan sesuatu.

“Dimana aku bisa melihat sekeliling negeri?’’ tanyaku pada pelayan.

“Di tempat yang tinggi, yaitu menara Kaisar,”

“Antarkan aku kesana.”  Aku langsung menuju menara itu dan betapa kagetnya, sepanjang mata memandang, ada ratusan ribu orang yang sedang membangun tembok yang sangat besar.

“Hah, apakah aku kembali ke abad ke tiga SM, aku menyaksikan pembangunan salah satu keajaiban dunia di masa depan!” ucapku dengan sangat kaget.

“Tinggalkan aku sendiri” ucapku pada pelayan. Aku perlu berpikir, karena sekarang aku sudah paham situasinya. Ternyata ini nyata dan aku kembali ke zaman Dinasti Qin. Permaisuri yang sekarang menjadi tubuhku, telah berselingkuh dengan tuan Lu Bu wei dan berencana membunuh kaisar Qin Shi Huang. Tetapi kaisar tetap mencintainya dan tidak melepaskannya. Ah apa ini cerita sesungguhnya?! Sejarah yang aku baca menyatakan bahwa permaisuri Jianying adalah permaisuri yang sangat hebat dan pintar. Mungkin aku bisa memperbaiki keadaan. Aku harus memikirkan strategi untuk menjadi permaisuri yang hebat dan pintar agar aku bisa bertahan di sini. Dari arah belakang tiba-tiba ada yang membiusku, dan aku pun tidak ingat apa-apa lagi.

***

Para pengawal yang sadar bahwa permaisuri diculik, segera melapor kepada kaisar. Karena kemarahannya, Kaisar langsung memenjarakan semua pelayan dan pengawal di istana permaisuri dan pengawal di menara kaisar. Mereka semua akan dipenggal jika permaisuri tidak segera ditemukan.

“Gerakkan semua pengawal bayangan untuk mencari permaisuri di seluruh negeri, lakukan secara diam-diam!” Kaisar juga memerintahkan tidak boleh tersebar keluar istana jika permaisuri diculik. Karena semua musuhnya  akan memburunya. Kaisar sadar bahwa permaisuri yang sekarang sangat berbeda dengan permaisuri yang dulu sangat kejam. Kaisar berpikir pasti ada juga yang menyadari hal itu dan menjadikannya kesempatan untuk membunuh permaisuri.

“Kirim pengawal bayangan juga ke Perguruan Sakti Bukit Tinggi, perguruan itu adalah musuh permaisuri yang paling memiliki dendam mendalam.” Dahulu permaisuri pernah memfitnah perguruan itu memberontak pada kaisar, dengan bukti-bukti yang dipalsukan. Sehingga pemimpin mereka dipenggal dan perguruan itu terus menerima penghinaan dari masyarakat hingga tidak ada lagi murid yang mendaftar kesana. Dua tahun berselang setelah penculikan. Permaisuri tidak pernah ditemukan, dan perguruan Sakti Bukit Tinggi mulai bangkit.

Penulis: Aan Darwati
Editor: Hasna’ Zakiyah Amany