Bukankah Damai Itu Indah(?)

Foto: Pixabay.com

Beberapa hari yang lalu, dilansir dari CNN Indonesia, pasukan tentara Israel melempar granat suara saat warga Palestina yang sedang merayakan peringatan Isra Miraj, kejadian tersebut mengakibatkan seorang remaja perempuan terluka. Sebagaimana yang kita ketahui bersama konflik Palestina-Israel ini masih berlanjut hingga sekarang. Tak hanya itu, konflik semacam ini juga terjadi di belahan bumi lain, seperti yang saat ini tengah ramai dibicarakan banyak orang konflik antara Rusia-Ukraina. Dikutip dari detik.com, konflik Rusia dan Ukraina terjadi sejak tahun 1991 lalu. Meskipun kedua konflik di atas memiliki latar belakang yang berbeda, namun bisa dipastikan keduanya terjadi  karena hilangnya rasa saling memberi kedamaian antar sesama manusia.     

Berangkat dari topik tadi, penulis juga menjumpai sikap tersebut terjadi di Indonesia. Seperti halnya peristiwa kerusuhan rasial terhadap etnis Tionghoa, demonstrasi anti-pemerintah Mei tahun 1998 yang tentu saja saat itu menelan banyak korban, atau bahkan melakukan aksi teror bom bunuh diri terhadap masyarakat penganut kepercayaan lain yang berbeda dari apa yang ia yakini. Dari kejadian-kejadian itu penulis bertanya-tanya mengapa dalam lika-liku kehidupan ini acapkali manusia lebih memilih adanya konflik dengan kekerasan entah itu antar suku, ras, umat beragama, negara, ataupun sama pemerintah sendiri. Mengapa tidak memilih mencari solusi damai dari setiap konflik yang terjadi? Lalu bagaimana Islam memandang kedamaian itu sendiri?

Islam sendiri memiliki arti secara bahasa Indonesia dalam kamus al-Munawwir yakni  damai, selamat. Maka sejatinya  agama Islam layak disebut sebagai agama perdamaian. Dalam ajaran Islam, sebagaimana kata Grand Syekh Azhar, Syekh Ahmad Thoyyib dalam tulisannya, Hadits Fi al-Salam (2019), menyatakan bahwa peradaban Islam datang dengan peradaban perdamaian dan ketentraman. Sebagaimana Islam datang dengan agama yang damai, dan penuh kasih sayang. Baik  sejarah maupun kenyataan  membuktikan bahwasanya tidak ada yang menceritakan  kesengsaraan atau  bertambah takut, lapar, dan kematian bagi umat yang dibangun dengan peradaban muslim. Islam  memandang perdamaian sebagai prinsip dasar dalam setiap hubungan antar sesama manusia maupun hubungan antar negara. Bagaimana tidak? Dalam peperangan sekalipun yang nyata jelas Islam melarang untuk membunuh orang tua, wanita, anak kecil, dan buta. Begitu juga larangan  menghancurkan bangunan yang didiami pada tentara lawan dan lain sebagainya.

Tak mengherankan jika Syekh Ahmad Thoyyib menyatakan dalam tulisan lainnya, al-Salam Awwalan (2019) bahwa perlu kita ketahui kata “al-salam” beserta turunannya diulang sebanyak  140 kali dalam al-Quran sedangkan kata “al-harb” beserta turunannya hanya 6 kali. Dengan demikian secara jelas Allah SWT telah melarang adanya konflik dan pertempuran dengan mereka non muslim, apalagi sesama muslim. Penulis rasa, melakukan interaksi, bergaul, bersosial atau berhubungan dengan orang lain tanpa didasari dengan prinsip kedamaian mengakibatkan adanya kekerasan dalam laku masyarakat kita. Bermasyarakat dengan tipe seperti ini pada akhirnya akan membawa kita ke kehancuran dan terpuruknya kehidupan umat manusia. Kita bisa melihat demonstrasi anti pemerintah Mei 1998 yang menuai kerusuhan dan menelan banyak korban. Sebagai bentuk aksi ketidakpuasan terhadap pemerintah. Tak sewajarnya negara yang memiliki populasi warga Islam terbanyak melakukan seperti itu.

Foto: Biography.com

Berbanding terbalik ketika mendengar kisah tentang Mahatma Gandhi, seorang tokoh perdamaian dan menurut buku yang berjudul “Buku untuk Dibaca” ia adalah pemeluk agama Hindu yang tetap menyukai pemikiran-pemikiran agama lain, termasuk  Islam dan Kristen. Gandhi percaya bahwa manusia dari agama apapun harus mempunyai hak yang sama dalam hidup damai. KH. Abdurrahman Wahid dalam tulisannya yang mengulas Mahatma Gandhi, mengatakan bahwa ia berjuang memerdekakan India dari penjajahan Inggris secara damai (Satya Graha), tanpa menggunakan kekerasan (Ahimsa) dan selalu hidup mandiri, tidak bergantung kepada siapapun (Swadesi). Ketiga prinsip di atas, dipegangnya secara teguh dan kemudian hari menjadi ajaran-ajaran Gandhi berarti bagi umat manusia.

Perlakuan baik dibalas dengan kebaikan memang hal yang biasa, namun perlakuan jahat dibalas dengan tidak membalas kembali atau kebaikan adalah yang luar biasa. Hal ini serupa pada suatu peristiwa dua ribu orang penganut prinsip ajaran Gandhi untuk tidak melakukan kekerasan nekat mendekati pintu tambang garam Dharsana untuk mengambil garam hak panen mereka. Aksi damai tersebut berakhir dengan pemukulan oleh serdadu Inggris terhadap ribuan penduduk sipil secara sepihak  tanpa ada bentuk perlawanan. Kejadian ini menjadi sorotan dunia internasional yang mengecam kebiadaban pemerintahan Inggris.

Melihat beberapa kenyataan ini, menanamkan dan menyebarkan pemahaman kepada seluruh umat masyarakat  terkait perdamaian adalah kebutuhan wajib demi keberlangsungan hidup damai  hari ini dan di kemudian hari. Namun selain itu, dalam menyikapi hal ini, sengaja penulis hadirkan sosok Mahatma Gandhi karena kekaguman KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur)  atas ajaran-ajaran  Mahatma Gandhi. Menurut beliau menjelaskan ajaran-ajaran Gandhi harus diterjemahkan dalam pengertian-pengertian masa kini. Kalau tidak, maka perjuangan Gandhi akan menjadi warisan masa lampau saja. Jujur saja memang mudah diucapkan, namun sulit untuk dilakukan bukan?

Redaktur: Maulana Thalia S.
Editor: Hasna’ Zakiyah A.