Saung Gagasan Adalah…

Saung Gagasan adalah sebuah upaya untuk menyesuaikan diri dengan kemajuan dan perkembangan zaman.

Dulu jika kalian becita-cita menjadi penulis fiksi populer, maka standar yang harus dilakukan adalah mengirimkan tulisan ke media ternama semisal Harian Kompas. Jika tulisan kalian dimuat rubrik cerpen yang terbit setiap minggu pagi, secara otomatis pembaca dan penikmat cerpen se-Indonesia akan memabacanya, dan nama kalian otomatis masuk jajaran penulis cerpen yang diakui kualitasnya. Atau jika kalian penikmat majalah Horison, tentu kalian tau kualitas cerpen yang ada. Sama halnya dengan opini, rubrik opini mingguan di koran Jawa Pos menjadi semacam standar untuk bisa disebut sebagai penulis opini handal. Apalagi di masa jayanya media cetak, dengan oplah harian yang mencapai jutaan eksemplar, siapa yang bisa menyangkal pengaruhnya dalam menentukan kualitas sebuah tulisan dan penulis.

Begitu pun jika kalian bercita-cita menjadi aktris dan aktor atau penyanyi, televisi adalah satu-satunya jalan untuk mewujudkannya. Jika televisi menampilkan aktor, aktris dan penyanyi adalah yang tinggi, putih, tampan dan cantik, bersuara merdu mendayu-dayu,  maka begitulah yang harus kalian terima. Ada standar yang baik secara langsung atau tidak langsung, ditetapkan oleh media-media tersebut sebagai standar satu-satunya dan mutlak harus dimiliki.

Ada standar untuk sebuah tulisan dan penulis bisa dianggap sebagai penulis jempolan. Semacam tidak boleh menggunakan kata dan kalimat tertentu, membahas tema tertentu, menulis dengan gaya yang tak lazim, dan lain sebagainnya. Ada juga standar untuk aktris, aktor, dan penyanyi.  Tapi itu dulu, sebelum internet dan kemajuan teknologi memporak-porandakan hierarki media cetak sebagai sumber informasi arus pertama dan utama. 

Semenjak layanan internet menjadi begitu mudah dijumpai, media sosial pun ambil bagian dalam arus informasi, media cetak menjadi kehilangan begitu banyak daya tarik bagi pembaca. Hanya beberapa media cetak yang mau dan mampu beralih ke basis online yang mampu bertahan dalam persaingan. Hal ini juga berefek pada sirkulasi keuangan media-media tersebut. jika pada masa jayanya media cetak mampu mengandalkan pemasukan dari iklan dan hasil penjualan, kini dengan menurunnya hasil penjualan, para pengiklan pun tak mau lagi menggunakan jasa iklan di media cetak, dan beralih ke sosial media, apalagi dengan hadirnya influencer. Hal ini dapat diliat sebagai efek domino yang akhirnya menyebabkan banyak media tradisional – dalam arti media cetak dan televisi – menjadi partisan dan memihak salah satu kubu baik dalam hal politik, ekonomi, sosial atau budaya, sehingga membuat kualitas informasi yang disampaikan sangat buruk, untuk tidak menyebutnya sebagai sampah.

 Dengan kondisi yang demikian, tidak heran banyak orang yang kemudian memilih untuk membuat media tersendiri, sesuai dengan keinginan, passion, dan bakat minat yang mereka miliki. Televisi hanya memberikan hiburan dan informasi yang seragam satu sama lain antar-stasiun televisi, sedangkan para youtuber membuat konten dengan banyak variasi, sehingga sebuah keniscayaan bahwa penonton lebih memilih menonton youtub daripada televisi.

Setali tiga uang dengan apa yang terjadi dalam dunia tulis menulis, standar-standar yang ditetapkan oleh media-media arus utama, seringkali membelenggu kreatifitas para penulis, dan menyusahkan bibit penulis baru untuk berkembang. Kalian tidak akan bisa menemui tulisan senakal penulis-penulis Mojok.co, atau sebagus dan sedalam penulis Kumparan, se-feminis Magdalena dan Mubadalah.id, dan se-valid data dan informasi yang disampaikan Tirto.id di media-media lama. Para pendiri media-media ini memiliki satu alasan yang sama, yakni jika mereka tidak mau menerbitkan tulisan kita, karena standar yang berbeda, kenapa kita tidak membuat media sendiri, dan menerbitkan tulisan semau-mau kita?

Usaha untuk menghadirkan tulisan dan segala jenis konten yang bervariasi, yang sesuai dengan apa yang penulis atau pembuat konten dan pembaca atau penikmat konten inginkan, adalah kunci dari keberhasilan media-media baru tersebut. Media-media baru tersebut juga mampu melahirkan penulis dan pembuat konten pilih tanding, yang mewarnai dunia penulisan dan konten kreatif indonesia.

Poin dari peragraf-paragraf  diatas adalah inti pembicaran kami setahun lalu, dalam diskusi tim jurnalistik TC yang menemukan titik sepakat untuk membuat dan meresmikan Saung Gagasan sebagai wadah proses kreatif membaca dan menulis bagi teman-teman TC. Sempat juga terlontar satu pertanyaan menggelitik, “Jika hanya sebuah komunitas dan media biasa saja tanpa kualitas menjanjikan, lantas apa bedanya dengan blog pribadi?” Bedanya adalah dalam sebuah komunitas, ide – gagasan dan cara berpikir kalian akan langsung diuji validitasnya oleh orang lain, seketika itu juga saat kalian menjelaskannya. Begitu juga dalam hal penyampaian, seringkali kita memahami sesuatu, ingin menyampaikannya, namun kesulitan menemukan kata dan kalimat yang tepat, disitulah peran teman dalam sebuah komunitas ambil bagian.  Kesalahan dan kesulitan akan jauh lebih bisa diminimalisir, dalam ekosistem komunitas yang baik, seiring selangkah satu tujuan.

Tentu Saung Gagasan masih apa adanya, tentu Saung Gagasan masih berproses dalam jangka waktu yang belum terlihat hilalnya untuk menjadi media yang baik dan bagus untuk menerbitkan sebuah tulisan. Dan hal itu tidak bisa dicapai tanpa bantuan dari teman-teman TC semua, terutama untuk ikut menyebarkan tulisan di media sosial pribadi masing-masing, agar tulisan di Saung Gagasan lebih bisa dibaca banyak kalangan, dan mendapatkan kritik saran sebanyak mungkin. Sembari berusaha dan menunggu harapan itu tercapai, setidaknya dalam setahun lalu kami sudah menjalankan program menulis dan menerbitkan lebih dari 40 tulisan, jika dibuat rerata dengan periode aktif Saung Gagasan yang tidak lebih dari 10 bulan, maka perbulan SG mampu menerbitkan 4 tulisan. Hasil yang cukup baik bagi sebuah media rintisan dengan patungan anggota sebagai sumber keuangan.

Terakhir, bagi teman-teman TC yang berminat untuk berproses dan bertumbuh bersama dalam dunia membaca dan menulis di Saung Gagasan,  tunggu dan ikuti open recruitment SG pada beberapa waktu mendatang.

Saung Gagasan, Membaca Dahulu Menulis Kemudian….