Obituari untuk Sang Kiai, Dr. (HC) Ir. KH. Salahuddin Wahid

Innalillahi Wa Inna Illaihi Rojiun. Berita duka kembali menghampiri kami, DR (Hc). Ir. KH. Salahuddin Wahid atau yang akrab dipanggil Gus Sholah meninggal dunia di RS Jantung Harapan Kita Jakarta, pada Minggu malam (2/2). Berita wafatnya Gus Sholah meninggalkan kesedihan yang mendalam bagi masyarakat Indonesia, khususnya warga NU dan santri Tebuireng. Bagaimana tidak? Sebagai seorang yang terlahir dari kalangan darah biru pesantren, begitu banyak jasa serta dedikasi yang telah beliau berikan untuk kemajuan negeri ini. Gus Sholah tidak hanya dikenal di masyarakat NU dan keluarga Tebuireng saja, namun kiprahnya juga melintasi ranah umat dan bangsa.

Kabar kepergian Gus Sholah begitu cepat menyebar kepada seluruh alumni Tebuireng di berbagai penjuru wilayah, tak terkecuali kami di Kairo. Sebagai santri yang pernah menuntut ilmu di Tebuireng kami juga merasakan duka yang begitu mendalam. Sempat terbesit untuk mengingkari kabar tersebut, namun begitu banyaknya broadcast yang tersebar di media sosial menguatkan kebenaran akan berita tersebut. Sebenarnya beberapa saat sebelum berita tersebut beredar, Melalui postingan putra beliau, Gus Ipang Wahid kami keluarga alumni Tebuireng di Kairo sempat menerima berita bahwa beliau sedang kritis. Sampai pada pukul 15.20 WLK (20.20 WIB) keadaan beliau semakin kritis. Kami pun membaca wirid khusus untuk medoakan kesembuhan Kiai. Tak lama berselang, tepatnya pukul 20.50 kabar duka itu datang, sosok Kiai, pengasuh, dan tauladan bagi kami telah berpulang. Malam itu juga kami segera menggelar Khatmil Quran, Shalat Ghoib serta Tahlil di sekretariat TC, Bawwabah 2, Kairo.

Berbicara mengenai hubungan antara Gus Sholah dan Tebuireng Center (TC) bisa dibilang kami mempunyai kedekatan secara khusus dengan beliau. Tebuireng Center yang menjadi wadah silaturahmi alumni pesantren Tebuireng di Kairo ini, memang di resmikan sendiri oleh Gus Sholah 12 tahun silam. Tepatnya pada 5 Desember 2007. Menurut penuturan senior, Gus Sholah dan Bu nyai Farida rela terbang ke Kairo dengan maskapai Etihad ekonomi menggunakan biaya pribadi, hanya untuk memenuhi undangan kawan-kawan dalam peresmian Tebuireng Center. Namun, sebenarnya selain untuk meresmikan TC beliau juga memiliki agenda lain, yaitu untuk bertemu Grand Syaikh Al-Azhar Sayyid al-Tantawi guna menjalin kerjasama antara Tebuireng dan Al-Azhar.

Menurut senior TC, saat itu kawan-kawan sempat dimarahi oleh salah satu pejabat KBRI Kairo, karena tidak memberi kabar akan kedatangan Gus Sholah ke Kairo yang notabennya sebagai tokoh nasional. Akibat kejadian tersebut pak Dubes memberikan instruksi agar status kunjungan Gus Sholah yang awalnya hanya menghadiri peresmian Tebuireng Center dinaikkan menjadi tamu negara dan mendapat fasilitas untuk menginap di Wisma Duta KBRI Kairo. Melalui kawan-kawan TC pihak KBRI sempat menanyakan apakah Kiai membutuhkan fasilitas tambahan, dan jawaban beliau justru hanya ingin difasilitasi wifi saja, untuk dapat mengirimkan deadline tulisannya ke salah satu media di Indonesia. Begitulah Gus Sholah, meskipun sedang kunjungan ke luar negeri beliau tetap memanfaatkan waktu luangnya untuk menulis. kepiawaiannya mengenai kepenulisan sudah tidak perlu ditanyakan lagi, bahkan beliau sudah memiliki kolom (rubrik) tersendiri di media nasional. Tak heran jika Gus Sholah sering menginstruksikan kepada santrinya untuk dapat terjun dalam dunia literasi.

Saat peresmian TC di sekretariat lama (Gami’), Gus Sholah pun bersedia hanya duduk di kursi plastik sederhana. Bahkan sempat pula duduk lesehan bersama kawan-kawan TC yang lain. Gus Sholah memang sosok Kiai yang begitu dekat dengan santri-santrinya. Selain Gus Sholah Bu Nyai Farida juga menaruh perhatian lebih pada kawan-kawan TC layaknya seorang ibu, Bu Nyai sempat menegor beberapa kawan TC yang memiliki rambut gondrong. Namun saat itu banyak yang beralasan musim dingin lebih nyaman jika berambut gondrong. Ketika hendak kembali ke Indonesia, Gus Sholah sempat mengeluarkan beberapa lembar Dolar dari sakunya “Ini buat makan anak-anak,” tutur beliau. Namun saat itu uang pemberian Gus Sholah dimasukkan menjadi uang kas TC.

Beberapa tahun berlalu, sebagian besar kawan-kawan TC yang menjadi saksi diresmikannya Tebuireng Center oleh Gus Sholah telah pulang dan mengabdikan diri di Tanah Air, TC pun telah berganti wajah-wajah baru, namun perhatian Gus Sholah dan Bu Nyai Farida pada kami tak sedikit pun luntur. Justru saat kunjungan wakil pengasuh, KH. Abdul Hakim Mahfudz (Gus Kikin) beserta istri ke Kairo pada Oktober 2018 lalu, secara khusus Gus Sholah dan Bu Nyai menitipkan pesan kepada kami untuk senantiasa serius belajar selama di Mesir. Bahkan sebelum Gus Kikin menyampaikan pesan itu pada kami Bu Nyai Farida (mewakili Gus Sholah) telah lebih dulu menyampaikan kerinduannya pada TC melalui komentar di salah satu media sosial Tebuireng Center.

Dua belas tahun lebih dua bulan setelah kunjungan ke Kairo, Gus Sholah berpulang. Beliau belum sempat melihat kembali sejauh mana perkembangan TC yang telah diresmikannya dulu. Namun, tetap eksisnya Tebuireng Center saat ini, merupakan manifestasi cita-cita beliau sebagai wadah pengembangan intelektual, spiritual dan sosial terhadap para Alumni Tebuireng di Mesir. Allahummaghfirlahu warhamhu waafihi wa’fuanhu.

Hasna’ Zakiyah Amany

One thought on “Obituari untuk Sang Kiai, Dr. (HC) Ir. KH. Salahuddin Wahid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *