
Saya terbangun di pagi hari, lalu melangkah sempoyongan menuju pintu rumah, suara ketukan pintu terdengar jelas; seseorang mengetuk pintu dengan grusa-grusu. Pintu saya buka. Fifi datang dengan wajah muram, lalu menangis sejadi-jadinya. “Apa yang kamu tangiskan?” tanya saya.
Ia berbicara sambil menumpahkan air mata, tidak terdengar jelas, seperti sedang mengingau. Tapi suara tangisnya jelas, ini hal yang serius. Saya kembali bertanya apa yang sebenarnya ia tangiskan.
Ia menjawab sambil terisak-isak:
“Hilmi sudah tidak ada.”
Saya terduduk lemas. Kemudian berusaha menenangkan diri sembari memastikan kabar tersebut: membuka grup WhatsApp, lalu benar-benar mendapati kabar duka itu. Memandangi pesan pamflet duka di WAG, lama sekali, hanya dingin jari-jari menggelugut yang terasa. Saya tidak bisa melanjutkan percakapan. Dan, dalam situasi seperti ini rasanya tidak ada yang perlu dipercakapkan.
Saya bertemu dan berkenalan pertama kali dengan Hilmi pada 2017; teman-teman angkatan berkumpul untuk saling mengakrabkan diri, sementara saya masih berusaha meyakinkan diri untuk berani berkenalan dengan teman-teman baru. Beberapa kali bertemu dan pelesiran mencari angin bersama-sama, lalu kami akrab begitu saja.
Saya kemudian bekerja sama dengannya menjadi pengurus almamater Tebuireng Center, membagi jadwal khataman al-Quran setiap bulan. Saya pikir ia bukan orang yang gampangan terhadap suatu urusan. Ia tidak membiarkan saya bekerja dengan biasa-biasa saja.
“Bagaimana jadwal bulan ini?”
“Santai, masih lama. Orang-orang tidak butuh waktu lama untuk persiapan,” jawabku.
“Jangan santai-santai. Saya tidak ingin lagi menerima alasan orang-orang ‘Waktunya terlalu mepet’,” tegasnya.
Ia adalah sosok perempuan yang telaten, bertanggung jawab dan memiliki semangat belajar yang tinggi.
Dulu, sebelum pandemi, ketika pengajian di masjid Al-Azhar masih dibuka, Hilmi rutin ngaji Tafsir Al-Jalalain bersama Syekh Hisyam Kamil, kemudian lanjut ngaji Shahih Al-Bukhori bersama Syekh Ma’bad.
Setelah ngaji, dia bercerita ke Fifi bahwa ia berangkat dari Tabbah ke tempat kuliah membawa beberapa kitab tebal, kemudian lanjut ngaji di masjid Al-Azhar dengan keadaan kurang sehat. Ketika ditanya untuk apa memaksakan diri, ia menjawab, “Kapan lagi mengaji bersama Syekh Azhar kalo bukan sekarang.”
Ternyata setelah itu pandemi datang, semua pengajian ditutup. Ia juga sakit selama pandemi datang. Dan tak sembuh-sembuh. Saya kemudian tertegun mendengar cerita itu. Mengapa orang sehat seperti saya tidak memiliki semangat belajar sepertinya ?

Waktu Terakhir kali bertemu dengannya 4 bulan lalu, Ia sudah terbaring sakit dengan badan yang sudah sangat kurus. Saya dan teman-teman berusaha menghibur dan menyemangatinya. Meski senyumnya sudah mulai layu, ia berusaha menyembunyikan sakit itu, ia ikut tertawa ketika teman-teman bercerita tentang bualan-bualan receh di medsos.
Ia juga sosok perempuan kuat yang tidak pernah mengeluh. Dan ia kuat karena ia tidak pernah mengeluh, karena ia tahu bahwa mengeluh tidak akan pernah menyelesaikan masalah.
Saya berharap ia tak selalu memaksakan diri untuk kepentingan orang lain. Di saat ia sedang berjuang melawan penyakitnya, ia masih saja memikirkan pembina rumah tahfidz. Saya juga berharap ia bisa sedikit mengurangi rasa tidak ingin merepotkan orang lain. Bahwa meminta tolong tidak selalu berarti merepotkan.
Ketika ia berobat ke rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa ia harus mengambil sampel cairan di paru-parunya, memastikan cairan tersebut tidak berbahaya. Tentu, pengambilan sampel cairan tersebut tidak hanya membutuhkan keinginan, tapi juga kekuatan dan kepasrahan. Dan Hilmi melewati itu semua dengan tenang. Selepas keluar dari tempat operasi, Mas Irfan yang menemaninya waktu itu bertanya, “Apakah sakit?” Dengan tenang dan wajah datar ia menjawab, “Iya sakit, Mas.”
Hanya itu. Ia tidak berkeluh kesah sedikit pun atau bahkan harus meneteskan air mata. Cerita tersebut membuat saya tidak bisa menahan haru.
Ia selalu berhasil menenangkan teman-temannya, seolah-olah tidak terjadi apa-apa. Tentu agar teman-temannya tidak khawatir. Hilmi tidak hanya berusaha menguatkan dirinya yang sakit, ia juga berusaha menguatkan orang yang sehat.
Setelah itu saya kembali berjumpa dan mengantarnya ke bandara. Itu terakhir kali saya melihatnya, berusaha tersenyum lebar, menatapnya seolah-olah tidak akan terjadi apa-apa. Saya berharap semua urusan medis di Indonesia berlangsung seperti ketika ia pulang untuk berobat setahun lalu: kembali dengan badan agak lebar dan berisi, lalu kami akan menjemputnya dan kembali membuatnya tertawa. Saya selalu yakin ia pasti akan sembuh.
Ketika Hilmi di Indonesia. Saya beberapa kali berkomunikasi dengannya. Sekedar menyapa dan menanyakan kabarnya. Saya mendengar kabar dari teman dekatnya, bahwa kondisinya mulai membaik, tidak hanya itu, ia juga sudah menitipkan uang untuk membeli diktat kuliah dan juga membayar beberapa urusan administrasi di kantor kuliah. Kabar tersebut menguatkan saya dan teman-teman. Saya juga semakin yakin bahwa dibulan Desember ia akan datang untuk ikut ujian termin satu dan belajar bareng lagi.
“Kapan balik ke Kairo?”
“Tidak tahu,” jawabnya.
Saya bertanya padanya via WhatsApp. Saya tidak menyangka itu percakapan terakhir saya dengannya. Ia tidak kembali ke Kairo, dan tidak akan pernah kembali. Ia juga tidak perlu lagi memaksakan diri dengan berbagai kesibukan. Sudah waktunya Hilmi untuk beristirahat.
Ia kembali ke hadirat-Nya di hari yang paling baik: Jumat.
Saya yakin sebagaimana orang baik lainnya, orang-orang sekitar yang ditinggal pasti menangis kehilangan, sedangkan ia tersenyum lebar. Ia kembali kepada-Nya dan ia sungguh beruntung; orang-orang tak berhenti mengenang dan berdoa untuknya.
Ketika mengenang hal-hal terbaiknya, jujur saja, saya masih berat hati harus kehilangan dia. Namun, legowo atau tidak, saya harus mengucapkan selamat tinggal dan terus berdoa untuknya.
Perjumpaan dengannya memang singkat, tapi sosoknya akan tetap abadi.
Oleh Hari Bakti Palaloe