Coretan Seorang Kawan

Kemarin, Saya duduk bersila dengan khusyuk di kamar tengah rumah TC, keadaan yang gelap menambah intim suasana, secangkir kopi dan rokok yang menyala menyempurnakannya. Mataku menatap lurus ke layar komputer yang menayangkan film pamungkas dari phase 3 – Marvel Cinematic Universe : Spider-man Far From Home, lanjutan dari film Spider-man Home Coming. Berkebalikan dari Peter Parker , MasDen menjalani hidupnya dengan fase far from home terlebih dahulu, kemudian baru menapaki fase home coming. Setelah tujuh tahun hidup-belajar –talaqqi -jatuh cinta dan patah hati – mangan-turu-nelek di negara Mesir, jam lima kurang lima menit sore nanti, pesawat Etihad Airways, penerbangan 7305 akan membawanya pulang ke pelukan Ibu Pertiwi, Negara Kesatuan Republik Indonesia ( NKRI yang katanya harga mati – bukankah harga hidup lebih masuk akal dan enak didengar, hanya saja kalah heroik, dan orang-orang selalu lebih senang hal-hal yang heroik beserta superheronya, dari pada hal-hal yang masuk akal, tidak heran MCU laku keras, hingga sineas indonesia memproduksi Cinema Bumi Langit dengan lakon Gundala dan kawan-kawannya ).

Semalam, di rumah TC diadakan farewell party ( atau wada’an walimatus safar agar lebih syar’i dan islami? ) yang cukup meriah – saya tambahi kata cukup, karena semalam ternyata soto dagingnya masih sisa, bisa untuk sarapan esok harinya – untuk melepas kepulangan mantan orang nomor satu di TC tersebut. Sewaktu diberi kesempatan untuk mengucapkan kalimat perpisahan, saya melihat genangan air di pelupuk mata MasDen, yang saya sesalkan kenapa hanya mengenang, tidak sekalian jatuh dan mengalir , agar suasana mengharu biru dan nanti saat bisa ngopi bareng lagi, bisa jadi bahan tertawaan. Berturut-turut Masjohn, Zainal (gubernur GamaJatim), Fauzi ( ketua HimmahRam), Alfan (angkatan Majapahit), memberikan semacam kalimat perpisahan, yang semuanya hanya berisi puja puji kebaikan. Saya heran kenapa tidak ada yang membicarakan sisi buruk manusiawinya. Ketika ada orang yang dinilai baik semuanya, saya langsung teringat karakter Fahri di AAC, saking sempurnanya si Fahri, sampai ada seorang perempuan yang memohon-mohon untuk dinikahi, saya haqqul yaqin seandainya Risalah Kenabian belum ditutup, Fahri pasti jadi Nabi yang ke 26. Sebenarnya semalam saya juga diberi kesempatan bicara, tapi saya tolak, bukan karena tidak menghormati, tapi karena saya ingin menyampaikannya lewat tulisan ini, agar lebih tahan lama, dan tentu saja lebih romantis.

Sekarang, Saya duduk bersandar di kursi singgasana rumah TC, kursi plastik berwana hijau yang telah dipotong keempat kakinya, berada dibawah sebuah cermin, disamping rak sandal, dan tepat didepan pintu hammam, tempat dimana banyak malam dihabiskan dengan jagongan, membicarakan hal yang sangat serius seperti konsolidasi dukungan terhadap pasangan capres 01, hasil pertandingan liga-liga top Eropa, dan yang paling sering tentu saja adalah halaqah lambe turah. Bau pesing dari sisa air kantung kemih dan bau busuk dari kaos kaki yang berbulan-bulan tak terkena air sabun, menambah kenikmatan saat-saat memakan bangkai saudara.

Nama lengkapnya Deni Surya Satria, teman-teman di TC biasanya memanggil Masden, sedangkan saya memanggilnya Tonyo. Kami (saya, tonyo dan masjohn) pertama kali dipertemukan oleh takdir di MQ, belasan tahun yang lalu. Takdir pula yang sempat memisahkan jalan hidup kami antara tahun 2012-2016. Kami akhirnya dipertemukan kembali diawal tahun 2017, dua minggu setelah terompet tahun baru ditiup.

Tidak banyak yang berubah dari Tonyo, selain dia sekarang menyesap asap dari shisa. Perawakannya masih tetap kurus kecil, wajahnya cenderung awet muda, dan masih ada sisa-sisa kemerilan jaman dulu. Panggilan Tonyo sendiri berawal dari seringnya dia mengucapkan kalimat ‘tak tonyo koen’ ketika digoda oleh senior dipondok dulu, kata digoda disini tentu kalian paham maksudnya, kalau pun tidak, tanyakan saja pada yang bersangkutan. Sebenarnya ada satu panggilan lagi, sebelum Tonyo, yaitu yem-yem, kependekan dari tukiyem, yang satu ini berawal dari sebuah film ….. (saya nggak berani melanjutkan) .

Sebenarnya dulu kami tidak begitu akrab, hanya teman seangkatan biasa, bahkan seingat saya, hanya sekali saja kami pernah sekelas, waktu kelas tiga aliyah. Hanya saja, sepertinya di pondok dulu, tidak ada yang tidak mengenal deni a.k.a tonyo, santri berprestasi, menyelesaikan hafalan dalam waktu 4 tahun, dan menyelesaikan persyaratan tasmi’ untuk mengikuti wisuda hafiz, serta beberapa kali juara lomba tingkat pondok. 4 tahun yang saya maksud adalah 4 tahun sambil sekolah, jadi tetap sekolah seperti pada umumnya, tetap main dengan teman sebayanya, dan seterusnya. Jangan bandingkan dengan program satu dua bukan hafal 30juz yang dikurung di asrama, yang itulah, yang inilah. Sebenarnya saya tidak ada masalah, hanya masih sering membuat saya tertawa dan geleng-geleng kepala, mungkin selera humor saya yang bermasalah.

Keberhasilan menyelesaikan hafalan sebelum lulus sekolah inilah, yang kemudian saat UAMBN – ujian lisan pelajaran bahasa arab, kami kebetulan maju bersama, saya ingat betul waktu itu tema ujiannya adalah tentang qurban, sewaktu saya ditanya oleh penguji tentang ibadah qurban, saya susah payah merangkai kalimat bahasa arab yang baik dan benar, dan giliran tonyo ditanya tentang pertanyaan yang sama, dia malah menjawab dengan membaca ayat yang menceritakan kisah Nabi Ismail ( atau menurut sebagian yang lain Nabi Ishaq) dengan Nabi Ibrahim. Dalam hati saya membatin, ‘ cahgembus, ditakoni malah ngaji, mentang-mentang wes khatam ‘ – sebenarnya saya juga udah hafal juz itu, ya cuma belum lancar aja.

Tiga tahun hidup dalam satu kamar yang sama, cukup bagi saya untuk mengatakan, lebih dari sekedar teman, Tonyo merupakan wujud nyata dari gabungan antara saudara, kakak, guru dan terkadang pembantu. Bukan pembantu dalam arti negatif, Tonyo punya standar kebersihan yang lebih tinggi dari kebanyakan orang, yang pernah tinggal serumah tentu tau, terkadang lantai yang sudah disapu, atau kompor dan meja yang sudah dilap, menurutnya masih kurang bersih dan kemudian dia sapu atau lap lagi, dari pada menamai sebagai orang yang cinta kebersihan, saya lebih suka menyebutnya berjiwa pembantu.

Saya belajar banyak hal dari tonyo, yang paling membuat kagum adalah ketelatenan dan kesabaran – saya nggaktau apa bahasa Indonesianya telaten– dalam mengurusi TC. Dari mulai menjemput adek-adek maba di bandara, mengurusi setiap acara, menyimak hafalan, mengantar ke rumah sakit, sampe ikut berminyak dan berkeringat didapur. Bahkan saking telaten dan sabarnya, tahun lalu ada semacam template yang unik. Berawal dari ketukan dipintu, tok tok tok, begitu pintu dibuka, terdengar suara ‘ mas… laperrr’ , dan voila sejam kemudian tersaji nasi hangat beserta lauk pauknya. Ehm

Kisah cintanya terbilang tidak terlalu manis, kalau tidak mau dikatatan tragis, setau saya sudah lima kali dia hanya menjadi penjaga jodoh orang, itu baru yang saya tau, belum yang saya tidak tau. Tapi untuk keperluan menjaga harga diri sebagai lelaki, saya tambahkan, dia juga beberapa kali pernah ‘ mengetuk pintu hati perempuan, ketika sudah dibukakan, dia masuk, hanya untuk sekedar singgah , untuk kemudian pergi saat perempuan itu sedang sayang-sayangnya’. Sampai akhirnya Tonyo melabuhkan hati pada perempuan dhakansudywbwjwoakj27333929 (keyboard hape saya rusak) .

Maaf nyo, Dalam masalah percintaan, saya lebih memilih berguru kepada Masjohn, yang sudah terbukti kerja nyata dan menghasilkan sebuah karya bernama Ning Raya. Tapi tenang saja nyo, meninggalkan atau ditinggalkan dalam cinta-cintaan itu sama saja, sama-sama sakit. Bukankah kita penonton setia serial drama Kera Sakti, dan mengamini ucapan Cupatkai bahwa ‘ beginilah cinta, deritanya tiada akhir’.

Saya berharap, nanti sore dibandara, angin akan berhembus sejuk, langit terlihat seperti mendung meskipun pasti tidak akan turun hujan, orang-orang yang mengantar kepulanganmu, sebagian akan bersenda gurau sebagaimana biasa, dan beberapa yang lain akan menangis, sesunggukan sembari mengusap air mata, dan berpelukan. Tak apa menangis, sebagaimana kemenangan dan pertemuan, kekalahan dan perpisahan juga layak dirayakan, melebihi senyum dan tepuk tangan, air mata adalah ekspresi paling jujur dari perasaan manusia, entah sedih atau bahagia.

Saat Peter Parker menutup phase 3 dari MCU dengan Spider-man Far From Home, DeniTonyo juga menutup bab merantau dalam hidupnya.

When one story ends, another story just begins.

Selamat memasuki fase selanjutnya dalam hidup.

Jabat erat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *