Tukang Pijit Kiai Ushul Fiqh Menjadi Kiai Fiqh

Selasa 3 Maret 2020, Bakda Adzan Isya wilayah Kairo Meisr, Allah telah memberikan kesempatan kepada kawan-kawan TC untuk sowan kepada KH. Mohammad Farid Zaini. Setelah sebelumnya beliau datang ke Mesir untuk menghadiri resepsi pernikahan putri sulungnya, Ning Nadia Salma, sekaligus rihlah di negeri kinanah ini.

Selain almamater TC, nampak beberapa kawan dari almamater Keluarga Matholiul Falah atau yang lebih dikenal dengan KMF juga turut sowan di homestay beliau, yang terletak tak jauh dari sekretariat TC di Distric 10th.

Dosen Mahad Aly Hasyim Asyari Tebuireng ini menjelaskan, bahwasanya beliau juga pernah mengajar di MA. Salafiyah Syafi’iyah Tebuireng. “Sejak Mahad Aly beridiri tahun 2006, saya minta izin untuk meninggalkan Aliyah guna pindah mengabdi di Ma’had Aly. Dulu saya juga ngajar di beberapa institut, tapi sekarang UNHASY saya resign, Tambakberas saya resign, Darul Ulum juga saya resign. Dan sekarang masih 2, Ma’had Aly sama UNSURI. Selagi saya mampu mengabdi di Ma’had Aly, kenapa tidak?”,
tutur beliau.

Beberapa jam sebelum kembalinya ke tanah air, Pengasuh PP. Al-Munawwaroh ini sedikit menceritakan pengalamannya ketika di Pesantren Tebuireng. Beliau masuk Tebuireng pada tahun 80-an, yang pada waktu itu di antara masyayikh-nya adalah KH. Syansuri Badawi dan KH. Adlan Aly. Pada waktu itu, Kiai Ishaq masih jadi kiai junior, tutur beliau. Setelah dari Tebuireng beliau melanjutkan studinya ke Riyadh.

Walaupun jenjang pendidikannya di Tebuireng hanya 6 tahun, Kiai spesialis fiqh ini begitu dekat dengan KH. Syansuri Badawi. Tak jarang beliau diutus ke Jakarta untuk memenuhi beberapa urusan oleh Kiai
Syansuri yang pada saat itu juga menjadi anggota dewan.

Beliau juga bercerita, pada saat KH. Syansuri Badawi sakit sebelum wafat, beliau menyempatkan tashih Hizb Nashor yang telah Kiai ijazahkan kepada beliau.

Awal mula ceritanya ialah ketika Kiai Syansuri ngaji yang di dalamnya menjelaskan beberapa tentang pertikaian. “Kiai iku kudu duwe cekelan, minimal yoo Hizb Nashor. Masio ngga ng ndi-ndi tapi diwirid teko omah, lek Gusti Pengeran ngijabahi yoo kobong omahe”, jelas Kiai Syansuri.

Beberapa hari berikutnya, Kiai Farid muda bersama beberapa kawan-kawannya berencana sowan kepada Kiai Syansuri untuk meminta ijazah Hizb Nashor. Sesampainya di rumah Kiai Syansuri, mereka langsung ditemui oleh beliau. Dengan khas ketegasan & wibawa, beliau bertanya, “Lapo rene?, Hm, anu kiai”, jawab Farid muda agak grogi. “Anu opo?”, “Bade nyuwun ijazah Hizb Nashor”. “Ngga, ngga atek ijazah-ijazhan, santri iku belajar-ngaji sing rajin”, tutur Kiai Syansuri. Lalu mereka saling tendang kaki ringan, mengode siapa yang berani negoisasi dengan respon yang telah dilontarkan oleh Kiai Syansuri tadi. Dikarenakan Farid muda adalah paling senior diantara mereka, akhirnya dia yang maju.

Ala kulli hal, karena Kiai Syansuri kenal dengan Farid muda, maka dialah satu-satunya diantara kawan-kawannya tadi yang memperoleh ijazah hizb Nashor dari Kiai Syansuri. Sedangkan kawan-kawan lainnya cukup diberi ijazah untuk membaca banyak sholawat.

Diantara aspek Farid muda dikenal oleh Kiai Syansuri adalah kepandaiannya pada ilmu Faraidh. “Pada saat itu, Kiai mengajar Ilmu Faraidh sama Ushul Fiqh, tak jarang saya disuruh menyampaikan materi faroidh
kepada teman-teman pada saat Kiai berhalangan. Padahal, Kiai selalu memberikan kesempatan pada
murid-muridnya untuk bertanya materi yang belum dipahami,  akan tetapi Kiai selalu menggunakan nada tinggi, bagaimana tidak, tentu para siswa takut, takok ngga takok ngga pateken”, cerita beliau.

Sambil menashihkan hizb Nashor yang diperolehnya, Kiai Syansuri meminta Farid muda untuk memijit beberapa anggota tubuh Kiai yang pada saat itu sedang sakit. Kemudian Bu Nyai Syansuri bertanya kepada Farid Muda, “Awakmu iku sopo Le, kok Kiai gelem dipijit karo awakmu, biasane Kiai emoh dipijit soale loro?”, “Kulo Farid Nyai, santri beliau, sampun biasa lek kulo kepanggeh kalian beliau, kulo disuwun mijiti beliau”, jawab Farid muda.

“Salam sama teman-teman TC yang lain. Belajar yang baik.” Nasihat terakhir Kiai Farid.

Lengkap sudah. Tidak hanya kenyang dengan nasihat dan hikmah, teman-teman juga kenyang atas jamuan makan. Setelah dirasa cukup, teman-teman berpamitan, kemudian meminta doa dan berfoto.

Penulis : Ilham Bachtiar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *