Tradisi Ramadan di Mesir

Foto: Republika.id

Ramadan adalah bulan yang selalu menghadirkan animo tersendiri bagi umat Islam. Sebuah perasaan bahagia dan sukacita yang meluap-luap. Banyak alasan mengapa Ramadan membawa kebahagiaan bagi kaum muslim. Di antaranya, bulan Ramadan merupakan bulan dimana umat muslim melaksanakan rukun Islam yang keempat yaitu puasa, pada bulan ini pahala setiap amal ibadah dilipat gandakan, bulan ini merupakan bulan ampunan, dan masih banyak lagi. Yang menarik ialah bagaimana umat Islam di seluruh dunia mengekspresikan bulan kegembiraan Ramadan dengan beragam budaya dan tradisi dilingkungan mereka. Di Mesir sendiri misalnya, negeri yang 90 persen penduduknya merupakan umat Islam ini memiliki berbagai tradisi unik dalam merayakan bulan yang mulia tersebut.

Menjelang bulan Ramadan, para penduduk Mesir mulai menghiasi jalanan dan gang-gang dengan lampion, yang oleh penduduk lokal disebut fanous. Bagi mereka, lampu-lampu tersebut melambangkan kebahagiaan dan kegembiraan. Tradisi ini sendiri telah berlangsung selama ratusan tahun, tepatnya pada saat dinasti Fathimiyah berkuasa di Mesir. Dikisahkan pada kala itu, ketika khalifah Muiz Lidinillah datang dari Mahdia, Tunisia, menuju Kairo, ia disambut meriah oleh warga Mesir. Mereka yang ikut menyambut sang khalifah, membawa lampion, obor dan lilin sebagai ungkapan keceriaan. Kebetulan peristiwa itu bertepatan dengan hari ke-tujuh Ramadan 973 M. Sehingga semenjak itu, fanous menjadi tradisi yang erat hubungannya dengan bulan Ramadan.

Selain tradisi memasang fanous, masyarakat Mesir juga memiliki budaya unik untuk membangunkan sahur. Jika di Indonesia kita jumpai aktivitas ini bisa dilakukan oleh siapa saja, bisaanya segerombolan orang, khususnya para remaja dengan membawa beragam alat untuk ditabuh, berbeda dengan di Mesir. Disini, kegiatan ini dilakukan oleh orang-orang tertentu, yang bisaa dipanggil sebagai mesaharâti (pemanggil sebelum fajar). Peran mesaharâti ini, bisaanya dilakukan oleh seorang laki-laki yang mengenakan pakaian tradisional Mesir. Ia berkeliling disekitar pemukiman warga dua jam sebelum fajar dengan memainkan tabla (alat musik semacam drum tangan). Ia juga sembari melantunkan syi’ir-syi’ir unik serta pujian dan shalawat kepada Nabi SAW.  Kehadiran sosok mesaharâti ini memberikan keistimewaan tersendiri di Mesir selama bulan Ramadan.

Foto: Harakah.id

Tidak hanya momen sahur, saat berbuka puasa pun ada sebuah hal menarik yang selalu dilakukan oleh orang Mesir. Di sini, waktu berbuka puasa ditandai dengan tembakan meriam, yang terkenal dengan istilah madâfi’ al-ifthâr. Latar belakang tradisi tersebut berawal dari masa kerajaan Mamalik pada kisaran abad ke-15 Masehi, seperti dikutip dari elbalad.news. Pada saat itu, pemerintah Mamluk ingin menguji coba meriam terbaru mereka. Hal tersebut ternyata bertepatan dengan waktu azan maghrib bulan Ramadan. Para warga kala itu menyangka bahwa bunyi meriam tadi memang sengaja diperuntukkan sebagai penanda waktu berbuka. Hasilnya, hingga saat ini, tradisi itu masih dilestarikan oleh penduduk Mesir.

Hal lain yang seolah tak bisa dilepaskan dari Ramadan di Mesir adalah kue Qathayef. Orang-orang Indonesia kerap menyebutnya dengan ‘serabi Mesir’ karena bentuk dan rasanya yang cukup identik. Uniknya, kue ini sepertinya hanya bisa ditemui dibulan Ramadan. Sangat sulit mencari makanan ini pada waktu-waktu di luar itu. Sebenarnya, masih ada beberapa makanan lain yang merupakan khas bulan Ramadan, seperti Kunafah dan lain-lain. Namun, tidak ada yang bisa merepresentasikan Ramadan di Mesir melebihi Qathayef.

Di antara tradisi-tradisi Ramadan di Mesir yang ada, menurut saya yang paling ‘waw’ adalah Maidatur rahman (yang jika diterjemakan ke bahasa Indonesia berarti Hidangan Tuhan). Ia sama seperti bagi-bagi takjil buka puasa jika kita bandingkan dengan di Indonesia. Namun, pembagian Maidatur rahman ini, bisa dibilang jauh lebih ‘megah’. Sebab, di sini menu yang dibagikan sangat lengkap. Mulai dari hidangan pembuka, makanan berat,dan minuman. Selain itu, para muhsinin (pemberi makanan) di sini juga saling berlomba untuk menyajikan hidangan berbuka. Akhirnya, pembagian Maidatur rahman ini tersebar di mana-mana. Sehingga, hampir seluruh pencari takjil pasti bakal kebagian. 

Alakullihal, Ramadan bagi masyarakat Mesir benar-benar menjadi tamu agung yang disambut dengan meriah. Keceriaan Ramadan di Mesir, tentunya turut dirasakan para pelajar Indonesia. Bagi mereka yang menjalankan puasa Ramadan jauh dari kampung halaman, suasana tersebut seolah menjadi pelipur lara tersendiri.

Redaktur: Muhammad Alfin Ghozali