
Lelaki itu bergegas meninggalkan kedai kopi kami, dengan segelas espreso yang hampir habis dan segelas latte yang belum diteguknya sekalipun. Langkahnya terhuyung, tetapi tetap ia lanjutkan agar segera raib tempat yang ia duduki dari pandangannya. Kutengok, ia kerepotan mengusap air matanya. Apa yang terjadi padanya sore ini, aku turut berduka.
Bagiku, sore menjadi waktu yang patut untuk dikenang. Entah dengan merekam terbenamnya matahari atau sekadar merayakan hari dengan duduk tenang di kedai kopi tua tengah kota. Tentunya, setiap pelanggan membawa nasibnya masing-masing yang hanya bisa kuamati lewat gelagat tubuh mereka ketika membuka gagang pintu. Jika seseorang membuka gagang pintu dengan lesu, bisa kupastikan harinya sangat ingin ia maki. Di kedai kopi ini pula, aku biasa melihat pelangi, anjing menyalak, ataupun mendung petang yang dibawa oleh lalu lalang manusia yang mampir kemari.
Setelah melamun panjang dan mengingat banyak kejadian, waktu telah menunjukkan pukul sembilan malam. Sekilas aku teringat pada lelaki tadi sore yang rutin kemari pada hari Minggu. Setelah kepergiannya, tidak kudapati pelanggan lagi yang memesan di kedai ini. Barangkali kesedihan lelaki itu mampu mengutuk kedai tua ini beberapa jam, agar turut bersedih dan mengamini dukanya, entahlah. Namun, jika kuperhatikan lagi, ia selalu datang kemari pada hari Minggu pukul empat sampai enam sore, memesan segelas espreso dan segelas latte yang tidak tersentuh sama sekali. Membuatku selaku barista sedikit kesal dengan pelanggan mingguan yang aku tidak tau apa kehendaknya. Sudah hampir dua bulan lebih ia rutin berkunjung kemari. Biasanya pengunjung rutin akan akrab denganku. Tetapi tidak pada lelaki itu.
*****
“Pesan espreso dan latte, Mbak.”
“Meja pojok, Mas?”
“Iya.”
Hari minggu, pukul empat sore. Sengaja kutandai hari ini dari seminggu lalu agar dapat kusapa lelaki minggu sore yang sulit sekali melengkungkan senyum di wajahnya. Hari ini pula, kusiapkan siasat agar dapat memulai beberapa percakapan. Entah saat mengantar pesanan, atau saat ia membayar di meja kasir. Setidaknya ada sedikit bocoran mengapa ia memesan dua gelas yang hanya untuknya seorang diri. Kuubah pula ukuran gelas yang biasanya untuk latte, menjadi ukuran gelas yang lebih kecil. Karena kutahu pelanggan satu ini pasti tidak akan menyentuh pesanannya.
“Espreso dan lattenya, Mas.”
“Terima kasih.”
“Sama-sama. Oiya, ada varian menu kopi baru, Mas namanya kopi Sanger dari Aceh. Barangkali pengin nyoba.”
Karena tidak menanggapi tawaranku sama sekali, aku memutuskan untuk berlalu
“Mbak,”
“Iya? Jadi nyoba kopi sanger?”
“Ini gelas lattenya ganti, ya?”
“Wah iya maaf ya, Mas. Sengaja saya ganti, karena saya amati Masnya hampir nggak pernah nyentuh lattenya. Enak lho, Mas. Apa nggak pengin nyobain gitu meski sedikit?”
“Tolong buatkan saya satu latte lagi, Mbak. Di gelas seperti sebelumnya. Akan saya bayar semua.”
Aku berlalu dengan sebal. Meski ia membayar penuh, membuatku sedikit terhina jika ia membiarkan segelas kopi penuh tanpa disentuh. Mau tidak mau, aku membuat segelas lagi. Lalu kulanjutkan urusanku di meja barista.
“Mbak, mohon maaf tadi telah merepotkan. Semuanya jadi berapa?”
“Delapan puluh lima.”
Jawabku masih sekenanya.
“Terima kasih ya, Mbak. Setelah hari ini saya tidak akan membuang segelas latte di kedai ini lagi. Terima kasih, untuk kehangatan yang Mbak berikan pada banyak orang.”
“Hah?”

Belum sempat aku menutup mulut, lelaki minggu sore tersebut telah melesat jauh dari pandanganku. Sungguh aneh. Sudah kuduga sedari awal lelaki tersebut memang sosok misterius. Tetapi, baru kujumpai hari ini ia melengkungkan senyumnya padaku. Tidak kutangkap jelas apa yang diucapkannya tadi. Tetapi yang penting, ia sudah tersenyum hari ini. Tidak seperti hari-hari yang lalu.
Setelah menyelesaikan urusan di meja kasir, segera kubereskan meja-meja yang telah ditinggal tuannya. Selembar kertas putih nampak bertengger dengan posisi terbuka di atas meja lelaki sore tadi. Entah sengaja ditinggal, atau memang tertinggal. Kuhampiri dengan maksud memastikan isi kertas tersebut. Antara ingin kubaca dan tidak, tetapi tetap aku baca untuk memastikan apakah kertas tersebut berisi sesuatu yang penting atau hanya sampah belaka. Betapa aku dibuat tercengang dengan isinya.
“Mas Bejoku, Sayang. Jika kau membuka surat ini, artinya telah seratus hari setelah aku meninggalkan dunia dan seisinya. Aku menitipkan surat ini pada adikmu, Jono, saat aku sedang sekarat dan kuminta ia menyampaikan padamu setelah seratus hari liangku ditutup. Sampaikan terima kasihku padanya. Sehat, Mas? Pastikan kau makan teratur, dan olahraga pagi. Jangan tidur malam lebih dari jam satu, ya. Aku menulis surat ini di kedai kopi tua tengah kota. Hampir tiap hari minggu aku rutin kemari, karena sore dari sudut jendela kedainya selalu membuatku tersenyum. Cantik sekali. Ditemani segelas latte yang membuat suasana hatiku lebih baik dari pertengkaran yang selalu kita alami setiap hari. Tetapi yang membuatku betah di sini, suara barista perempuan mungil dengan rambut sebahu yang selalu menghangatkan hatiku. Ia sangat cerewet dan gemar menawariku menu-menu terbarunya. Sampaikan salamku padanya, ya jika kau menyempatkan diri kesana. Mungkin surat ini tidak akan panjang. Tetapi satu hal yang perlu kau tau, aku tidak pernah membencimu, Mas. Semoga kau dinaungi kebahagiaan dengan Ratna, meski hadirnya merusak istana kita. Sampaikan juga salam sayangku untuk Mama, ya. Peluk dan cium pipinya.
Dengan cinta, Arini.”
Penulis: Nailul Husna
Editor: Hari Bakti P.