Perjalanan Hebat Seorang Mahasiswi Sekaligus Ibu Beranak Empat

Roichatul Jannah Sirojd berhasil mempertahankan tesisnya di depan para penguji dalam sidang magister yang diadakan di Auditorium Prof. Dr. ‘Afaf al-Najjar pada minggu, 06 Februari 2022. Berkat kegigihannya, ia mendapatkan predikat “Mumtaz“, sebuah predikat yang membayar semua usahanya.

Beberapa hari selang pelaksaan sidang, keputrian TC berinisiatif mengunjungi kediaman beliau untuk mencari asupan motivasi dan juga mendengar perjalanan hebat dari ibu beranak empat tersebut.

Perbincangan hangat tersebut pun dimulai. Beliau membagikan beberapa kisah saat baru saja menjadi mahasiswi Al-Azhar kala itu. Perempuan yang akrab disapa Mbak Ikha melepas lajangnya saat ia berada di tingkat satu. Namun, hal tersebut tak menghalanginya untuk tetap menjadi mahasiswi yang berprestasi. Hal tersebut dibuktikan dengan diraihnya nilai mumtaz yang berangsur-angsur pada mata kuliah mantiq, karena beliau rajin dalam meringkas ucapan syekh disaat sedikit teman-temannya melakukan hal serupa.

Pun ketika lulus, mahasiswi yang juga seorang ibu tersebut berhasil mendapatkan predikat jayyid jiddan. Sebuah prestasi yang patut dibanggakan, mengingat susahnya meraih nilai jayyid jiddan pada zaman itu. Tak berhenti disitu, Mba Ikha juga berhasil menjadi salah satu dari tiga anak yang diterima melanjutkan studi ke S2 Universitas Al Azhar.

Dan disitulah, beliau benar-benar diuji. Dimana beliau harus membagi fokus antara menulis tesis, dan juga merawat anak-anaknya. Beruntungnya, beliau punya suami yang pengertian. Bahkan disaat beliau sedang menghadiri muhadharah, suaminya, Muarif Hidayatullah, menunggunya dengan sabar di masjid Azhar sembari mengasuh bayi untuk kemudian disusui oleh istrinya.

Begitu pun dengan teman-temannya. Mba Ikha sempat berkata bahwa orang yang paling berpengaruh selain diri kita adalah teman. Beliau bersyukur mempunyai teman yang sangat membantunya dalam perjalanannya menulis tesis, mulai dari menebar pengaruh positif, hingga membantunya memahami berbagai persoalan yang tidak dipahaminya.

Namun ternyata, selain dari lingkungan sehat yang menjadi faktor eksternal keberhasilannya, terdapat faktor internal yang juga mendukungnya dalam menyelesaikan tesisnya, yakni mindset yang baik. “Musuh terbesar kita adalah diri sendiri. Dan saya merasa bahwa menulis adalah marhalah paling sulit. Karena kalau kita salah memprioritaskan sesuatu, nulis itu ngga jalan,” ungkapnya.

Beliau pun memberikan contoh bagaimana mengatur mindset yang baik, agar kita tidak salah dalam memprioritaskan sesuatu. Dan contoh yang paling nyata adalah upaya yang dilakukan Mba Ikha hingga tesis yang berjudul “Taujihat Imam Qurtubi fil Qiroat wa Bayan Atsaruha fii Tafsirihi Almusamma bil Jamii Ahkamil Quran min Awali Suroh Fatihah ila Akhiri Suroh Baqoroh Jam’an wa Dirosatan” akhirnya selesai.

Dan sekarang, beliau sedang dalam proses mengurus revisi tesis beserta berkas-berkas yang perlu dipersiapkan untuk nantinya pulang ke Indonesia. Semoga semua berjalan baik, dan segala hal baik yang diperjuangkan Mba Ikha selama ini dapat kita aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Pewarta: Salsadilla